SPESIES MISSING LINK DITEMUKAN !(SELAMAT DATANG KORUPSI)

July 31st, 2007

Seorang Profesor bidang Psikologi Industri dari Harvard University me-release laporan penelitiannya di Harvard University Buletin beberapa waktu lalu. Dalam penelitiannya, Profesor melakukan pengamatan dengan menggunakan alat yang dinamakan Digital Brain Volumetric (DBV), untuk mengukur volume otak tanpa harus melukai objek penelitiannya.

Tujuan awal dari penelitiannya adalah untuk mengetahui hubungan antara volume otak dengan tingkat kecerdasan. Sang Profesor ingin membuktikan teori yang dikemukakan oleh ahli Anatomi dan Psikologi Jerman Frederick Tiedmann. Teorinya mengatakan bahwa : ” terdapat hubungan antara volume otak dan kecerdasan seseorang”.  

Setelah dilakukan penelitian pengukuran volume otak untuk semua sample penduduk diseluruh negara di dunia. Ternyata sample penelitian disebuah negara Asia Tenggara  memberikan hasil yang sangat mengejutkan !  Volume otak rata-rata penduduknya  mempunyai volume yang sangat kecil. Diperkirakan sama dengan volume otak Homo Erectus. 

Penelitian lanjutan kemudian lebih di fokuskan pada penduduk negara tersebut(dalam Harvard University Buletin tidak disebutkan di negara mana penelitian dilakukan, diduga untuk menjaga kredibilitas negera tersebut. Hanya secara selintas dalam catatan kaki (footnote) laporannya Profesor menyatakan bahwa negara tersebut adalah negara paling korup dikawasan Asia Tenggara). 

Kesimpulan sementara penelitian tersebut menyatakan bahwa walaupun tengkorak penduduk negara tersebut merupakan tengkorak manusia modern, tetapi volume otak-nya sama dengan volume otak Homo Erectus. Tidak dijelaskan apakah ada hubungan antara kecilnya volume otak dengan tingginya tingkat korupsi dinegara tersebut.  

Dalam buletin tersebut, lebih jauh lagi Profesor Psikology Industri tersebut  melemparkan hipotesa ilmiah  bahwa penduduk negara tersebut  adalah species missing link  yang dinyatakan dalam Theory of Evalution-nya Charles Darwin dalam bukunya  yang terkenal : On the Origin of Species by Natural Selection (1859).

***** 

Seorang Profesor  ”iseng” dari University of Passau Jerman, Prof. Dr. J. Graf Lambsdorff, membuat rangking negara-negara berdasarkan Corruption Perception Index (CPI).  Laporan sang Profesor kemudian direlease oleh lembaga Transparency International setiap tahunnya.

Score CPI berkisar antara 0 (sangat korup - highly corrupt), hingga 10 (sangat tidak korup - highly clean). Penentuan rangking dilakukan melalui survey dan assessment yang dilakukan oleh para expert (tidak jelas apakah expert disini berarti para praktisi korupsi  yang dinilai expert ke-korupsi-annya  atau koruptor kakap yang sudah tobat).  Hanya ada sedikit penjelasan bahwa  orang-orang yang melakukan survey berasal dari para pe-bisnis dari negara-negara industrialis.

Hasil setiap tahun kemungkinan bisa berbeda.  Penyebabnya diantaranya perbedaan orang yang melakukan survey, sehingga terjadi perbedaan persepsi tentang korupsi. Penyebab lainnya adalah perbedaan metoda dan sample yang diambil.

Hasilnya tentu saja akan subjective sekali. Sebagai contoh, pungutan liar mungkin akan dianggap sebagai tindakan korupsi oleh sebagian besar negara, tetapi ”disuatu” negara mungkin dianggap sebagai tindakan legal.

Karena sangat subjective, maka tidak aneh bila hasilnya terlihat tidak konsisten. Misal pada tahun 2005,  Indonesia mempunyai score CPI sebesar 2.2 dengan rangking ke 137  (ranking disusun dari negara yang masuk katagory highly clean dengan score CPI 10 hingga negara highly corrupt dengan score CPI 0).

Tetapi pada tahun 2006, telah berubah. Indonesia mempunyai score CPI sebesar 2.4 dengan rangking 130. Apakah ini berarti, bahwa korupsi di Indonesia pada tahun 2005 lebih dahsyat dibanding tahun 2006? Atau korupsi di Indonesia pada tahun 2006 menjadi lebih canggih sehingga sulit dideteksi dibandingkan tahun 2005 ? 

Kesimpulan ini akan lebih membingungkan lagi,  bila dikaitkan dengan hasil penelitian Profesor Psikologi Industri dari Harvard University, apakah pada tahun 2005, volume otak bangsa Indonesia lebih kecil dibandingkan pada tahun 2006 ? Atau apakah volume otak bangsa Indonesia bertambah pada tahun 2006 bila dibandingkan dengan tahun 2005 ?

Banyak akademisi menyarankan Profesor J. Graff Lambsdorff untuk melengkapi survey dan assessment-nya dengan alat Digital Brain Volumetric (DBV) dalam melakukan penilaian CPI  sehingga hasilnya bisa lebih akurat dan lebih konsisten.

*****

Seorang Profesor dari Fakultas Peternakan Queensland University di Australia  berhasil menemukan formula ajaib berupa concentrate untuk pakan ternak. Uji coba di laboratorium yang canggih menunjukkan peningkatan berat hampir 5 kg per hari pada sapi-sapi yang diberi pakan yang telah dicampur dengan concentrate hasil penelitian Profesor tersebut.

Formula yang dibuat oleh Profesor sangat unik dan masih sangat dirahasiakan, hal ini disebabkan karena formula ini diduga akan memberikan hasil yang berbeda bila tercampur dengan senyawa garam.

Yang jadi masalah adalah efek tercampurnya formula dengan senyawa garam belum pernah diteliti. Tetapi menurut  sang Profesor setelah mempelajari reaksi kimianya, efeknya cenderung  bersifat buruk.

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia pernah melakukan import sapi dari Australia.  Pada waktu itu diinformasikan ada  pejabat dari Indonesia yang melakukan lobby ke Profesor ahli pakan ternak dari Universitas Quensland tersebut, untuk melakukan percobaan terhadap sapi-sapi yang akan dikirim ke Indonesia. Informasi ini kemudian tidak pernah terdengar lagi.

Pengiriman sapi dilakukan melalui laut dengan menggunakan kapal khusus pengangkut ternak.  Tidak ada laporan yang jelas mengenai detail perjalanan kapal pengangkut sapi dan informasi lain yang menyangkut proses bongkar-muat dan proses dokumentasi lainnya.

Yang kita dengar justru adalah adanya berita menghebohkan tentang kasus impor sapi fiktif. Kasus ini kemudian menyeret seorang mantan pejabat penting  pemerintah Indonesia ke sidang kasus korupsi, dengan tuduhan melakukan impor sapi fiktif.

Semestinya, di dalam persidangan mantan pejabat penting tersebut bisa menghadirkan Profesor ahli pakan ternak dari Quensland University sebagai saksi ahli.  Mungkin si Profesor lupa bahwa formula pakan sapi yang diberikan telah terkontaminasi air laut selama perjalanan dari Australia ke Indonesia (bukankah air laut itu merupakan senyawa garam ?) .  Sehingga, efek dari reaksi kimia ini menyebabkan efek negatif berupa penyusutan berat sapi secara signifikan bahkan akibat reaksi kimia yang demikian dahsyat menyebabkan sapi-sapi terus mengalami proses penyusutan hingga secara visual menjadi tidak terlihat.

*****

Robert Klitgaard adalah seorang profesor International Development and Security di RAND Graduate School, Santa Monica di  California.  Profesor Klitgaard pernah memberikan ”kuliah” anti korupsi dihadapan para pejabat negara  di Istana Negara Republik Indonesia pada 2 Agustus 2006. Tema yang diusung saat itu adalah Presidential Lecture in Developing A Strong Anti-Corruption System and Good Govarnance.  

Profesor Klitgaard pernah mengajukan pemikiran kritis dan ”unik”  tentang korupsi, seperti yang direlease oleh The Carter Center pada 4 Mei 1999. 

Korupsi seperti AIDS, katanya.  Korupsi menjadi masalah di setiap negara, bahkan telah menyebabkan kerusakan dan kerugian, terutama kerugian dalam perekonomian. Penyakit korupsi sulit untuk dibasmi dan yang paling menakutkan penyakit ini bisa beradaptasi terhadap segala bentuk usaha untuk mengalahkannya.

Profesor Klitgaard menawarkan solusi secara praktis bagi negara yang telah mengalami endemi korupsi yang masif, yaitu :  mendorong gerakan internasional untuk melakukan analisa sistem korupsi. Hasil pengkajian kemudian di diskusikan dengan pemerintahan dari  negara penderita penyakit korupsi, selanjutnya dipresentasikan dengan pers dan terakhir dibahas dalam suatu konferensi internasional. 

Dari hasil analisa sistem korupsi akan diketahui kelemahan dari sistem. Selanjutnya adalah menghancurkan sisi lemah dari sistem. This is difficult but not imposible..

Satu-satunya alternatif untuk menghancurkan penyakit korupsi ini adalah dengan memperbesar ”upaya” transparansi. Menurut Profesor Klitgaard, transparansi bukan saja dapat mencegah penyebaran penyakit korupsi pada tahap pertama, tapi juga dapat menghambat perkembangannya.

*****

27 Juli 2007

PENERAPAN UNDANG-UNDANG ANTI DUMPING AMERIKA SERIKAT PADA PRODUK NENAS KALENG THAILAND

July 28th, 2007

Penerapan undang-undang anti dumping sangat kental dengan nuansa proteksi industri dalam negeri. Tujuan utama penerapan hukum ini adalah untuk mencegah praktek-praktek perdagangan yang tidak adil, sehingga produk industri dalam negeri tidak terpukul oleh produk industri luar negeri yang masuk ke suatu negara dengan harga yang sangat murah.

Kelihatannya menjadi tidak fair. Tidak jadi masalah apakah produk industri dalam negeri menjadi mahal akibat proses produksi yang tidak efisien, adanya biaya siluman atau alasan lain. Tetapi dilain pihak, murahnya harga yang ditawarkan oleh produk industri luar negeri ”harus selalu” dilihat pada pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan industri dalam negeri.

Kontradiktif dengan hukum anti dumping, penerapan hukum ini secara nyata telah meniadakan hak konsumen untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Bicara tentang anti dumping, berarti secara absolut meniadakan tempat bagi proteksi konsumen untuk mendapatkan hak-haknya, diantaranya hak untuk mendapatkan barang dengan harga murah, qualitas terbaik, dan lain sebagainya.

Di Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai negara maju dan demokratis, justru menjadi pionir dalam menerapkan hukum anti dumping. Di AS, undang-undang anti dumping yang diatur dalam Chapter 19 U.S.C 1673, memberikan wewenang penuh kepada Departemen Perdagangan untuk menjatuhkan sanksi “anti dumping duties” hanya dengan mengacu pada 2 syarat :

Pertama : Departemen Perdagangan mempunyai wewenang untuk mengkaji semua produk impor, apakah produk impor tersebut telah dijual di dalam negeri AS dengan harga dibawah harga fair  (Chapter 19 U.S.C 1673 (1)).

Kedua : Badan International Trade Commision (ITC) kemudian harus mengkaji apakah penjual produk import tersebut secara material telah menghambat dan menurunkan industri lokal untuk produk sejenis dengan produk import tersebut.

Bila kedua persyaratan diatas telah dipenuhi, maka selanjutnya tindakan selanjutnya adalah menentukan nilai anti dumping duties yang akan dijatuhkan. Besarnya denda yang dijatuhkan dikenal sebagai : anti dumping margin.

Jatuhnya Share Nenas Kaleng Thailand

Pada tahun 1994 ekspor kaleng Thailand mencapai 46.16 % dari total world share. Tetapi mulai tahun 1995 hingga 1998, ekspor nenas kaleng Thailand mengalami penurunan mencapai 30.15 % dari total world share. Penurunan ini diduga akibat dari rendahnya panen dan penerapan anti dumping oleh Amerika Serikat. Besarnya anti dumping margin yang diterapkan oleh pemerintah AS mencapai 51.6 % dari total nilai shipment.  Duties ini kemudian dikoreksi oleh Departemen Perdagangan AS menjadi 3.26 hingga 24.64 % dari nilai CIF.

Pada tahun 1994, ketika serbuan export nenas kaleng Thailand ke daratan AS mencapai puncaknya, industri nenas kaleng AS  Maui Pineapple Co mengajukan petisi ke Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce).  Maui Pineaple Co melihat produk nenas kaleng Thailand telah dijual dengan harga murah di daratan AS. 

Pada kurun waktu yang sama Maui Pineapple Co pada tahun 1993 mengalami kerugian mencapai  US $ 11 juta dan US $ 3.9 juta pada tahun 1994. Salah satu penyebab kerugiannya antara lain, tingginya biaya produksi di AS dan rendahnya harga nenas kaleng dunia.  Maui Pineapple Co melihat bahwa penyebab rendahnya harga nenas kaleng dunia saat itu disebabkan oleh membanjirnya produk nenas kaleng dari Thailand.  

Metodologi Perhitungan yang Berbeda 

Pada awal investigasi ternyata ditemukan ada perbedaan prinsipil dalam penentuan Cost of Production (COP) dan Cost of Value (CV). Umumnya industri nenas kaleng di Thailand menerapkan dua set laporan keuangan. Satu set laporan keuangan mencerminkan kondisi sebenarnya yang merupakan true cost of production. Laporan ini dikenal di Thailand dengan istilah Actual Raw Material Cost Allocation atau Non-Output Price-base Weighted Cost Allocation. Metode yang kedua ini biasanya menghasilkan harga produk yang tinggi. Metode inipun biasanya ditujukan untuk tujuan khusus manajerial dan untuk mendapatkan tax benefit (tax and managerial goals).

Metode perhitungan yang diterapkan oleh Departemen Perdagangan AS berdasarkan Weight - Based Allocation, metode ini akan menghasilkan harga produk yang cenderung rendah. 

Pada sisi lain, diperoleh informasi adanya perbedaan besar antara industri nenas kaleng di Thailand dan di Maui Pineapple Co.  Thailand memproduksi nenas kaleng, juice nenas dan juice concentrate, sedangkan Maui Pineapple Co  hanya memproduksi nenas kaleng dan menganggap bahwa juice adalah produk ikutan dari sisa produk nenas kaleng. Tentu saja perbedaan ini menyebabkan terjadinya perbedaan harga raw material yang berbeda yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan harga jual. Industri nenas kaleng Thailand bahkan menghitung sisa nenas yang berasal dari kulit dan dari material nenas yang tidak bisa masuk kaleng dianggap mempunyai nilai sehingga dimasukkan dalam komponen raw material cost.   

***** 

28 Juli 2007

WASPADAI GEJOLAK AKIBAT CAPITAL OUTFLOW

July 11th, 2007

Banyak kalangan ekonom merasa “reueus” dan “reug-reug” dengan kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini. Indikator makro ekonomi yang penuh optimisme dan dinilai positif, seperti : nilai rupiah yang cenderung stabil, laju inflasi yang diprediksi terus menurun yaitu 6 % plus minus 1 persen pada 2007 dan 5 % plus minus 1 persen pada 2008. Indikator lainnya adalah diturunkannya BI rate menjadi 8,25 persen yang diharapkan menghidupkan sektor riil dengan mendapatkan pembiayaan  dengan bunga murah. Pertumbuhan ekonomi 2007 juga diprediksi cenderung akan lebih tinggi dari perkiraan awal 6,0 %, pertumbuhan ini akan lebih baik dari realisasi pertumbuhan 2006 sebesar 5,5 %.

Makro ekonomi yang stabil dan penuh nuansa optimistik sebenarnya sudah disetting sejak awal. Banyak kalangan menilai bahwa tahun 2007 adalah defining moment, tahun penentuan bagi tahap pembangunan bangsa. Tahap awal yang dibenahi adalah pembenahan stabilitas makro ekonomi yang akan menjadi dasar bagi berhasil atau tidaknya pembangunan ekonomi Indonesia pada 10 tahun yang akan datang.

Desain awal adalah menstabilkan makro ekonomi, setelah itu pembenahan sektor riil. Tetapi pembenahan sektor riil tidak-lah mudah. Bank-bank dan pemilik modal cenderung menempatkan dana di SBI dan SUN. Terlihat bahwa perbankan enggan menyalurkan dana ke sektor pembiayaan.

Berbagai pihak menuding sumber permasalahan dari semuanya adalah berbagai persoalan struktural yang terkait dengan iklim investasi dan berbagai distorsi di pasar barang dan jasa yang menyebabkan biaya tinggi. Berkaitan dengan iklim investasi, sebenarnya bola ada ditangan pemerintah pusat dan daerah untuk menata kembali peraturan-peraturan melalui sinkronisasi kebijakan antaran pemerintah pusat dan daerah yang diharapkan dapat melahirkan peraturan-peraturan yang memancing investor untuk menanamkan modalnya melalui berbagai kemudahan dan kepastian hukum.

Hambatan infrastruktur dan kepastian ketersediaan energi - yang selama ini dikeluhkan oleh investor, seharusnya bisa diselesaikan dengan baik. Bank Indonesia (BI) telah merancang kebijakan yang melonggarkan aturan kredit, yaitu mengubah ketentuan mengenai tata cara penilaian kolektibilitas kredit dan penyesuaian beberapa ketentuan terkait dengan prinsip-prinsip kehati-hatian perbankan. Dengan ketentuan tersebut proyek-proyek pembangunan yang dijamin pemerintah dapat dengan mudah memperoleh pembiayaan dari industri perbankan. Konsorsium untuk pemberian kredit sindikasi akan lebih sederhana dalam proses dan pembentukannya karena memiliki rambu resiko yang telah terukur.

Dari sisi pemerintah, pemerintah harus berani mengambil peran sebagai pelopor pembangunan infrastruktur dengan cara lebih agresif dalam pembelanjaan APBN. Hal ini penting mengingat pada kenyataannya bahwa investor masih belum berani mendanai proyek-proyek infrastruktur. Padahal, realisasi dari proyek-proyek infrastruktur diharapkan dapat menimbulkan multiplier effect dengan munculnya proyek-proyek investasi lainnya.

Capital Outflow 

Ditengah-tengah keberhasilan yang telah dicapai, pemerintah masih ekstra hari-hati dalam membuat kebijakan moneter. Pengalaman pahit yang traumatis, yaitu gejolak yang tidak terduga (unexpected shock) merupakan katastropik yang menyebabkan hancurnya sendi-sendi kehidupan bangsa 10 tahun yang lalu masih tetap menghantui pengambil kebijakan.

Sinyal ini dikemukakan oleh Deputi Gubernur BI Miranda S. Goeltom. “Struktur Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih didominasi modal jangka pendek sehingga memiliki kerentanan yang tinggi terhadap pembalikan modal”, seperi yang dikuti Antara Kamis 5/7/2007 lalu.

Menurut catatan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu hingga awal April, uang panas yang masuk mencapai Rp. 10 trilyun. Diperkirakan Rp. 7.6 trilyun masuk melalui SUN, sedangkan sisanya Rp. 3.3 trilyun masuk melalui pasar modal.

Sebenarnya pada bulan Maret lalu, Fitch Rating telah memberi peringatan yang sama tentang bahayanya  capital outflow. Cadangan devisa Indonesia tercatat yang paling rendah di Asia Tenggara, yaitu sedikit diatas cadangan devisa Pilipina.  Dengan kondisi ini, peluang pelarian modal akan besar terjadi, mengingat capital inflow tersebut tidak ditanam pada investasi jangka panjang.

Disisi lain, capital inflow sebenarnya adalah ancaman bagi naiknya angka inflasi. Teorinya adalah bahwa capital inflow seolah-olah meningkatkan cadangan devisa. Cadangan devisa biasanya dibelanjakan pada mata uang domestik. Sehingga timbul gambaran bahwa domestik moneter base menjadi menggelembung tanpa adanya peningkatan di sisi produksi. Yang terlihat nantinya, terlalu banyak uang yang beredar dibandingkan barang dan jasa.

Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut BKF Depkeu mengajukan solusi antara lain melalui perbaikan pengelolaan capital inflow, istilah yang umum digunakan  adalah sterilisasi capital inflow. Sterilisasi bukanlah pekerjaan mudah, mengingat sifat dari capital inflow mencerminkan  adanya mobilisasi capital internasional.

Sterilisasi Capital Inflow

Pengalaman pada dekade yang lalu menunjukkan bahwa para investor internasional mempunyai kemampuan untuk meng-investasikan capital dalam jumlah besar di negara manapun didunia. Tetapi dilain pihak, mereka juga dapat menarik dan memindahkan capital tersebut secara cepat - yang dapat berakibat fatal terhadap makroekonomi suatu negara.

Pengelolan capital inflow sangat ditentukan oleh kemampuan pengambil kebijakan untuk membuat suatu keputusan yang tepat. Setiap tindakan intervensi terhadap sterilisasi capital inflow akan memberikan dampak yang spesifik bagi suatu negara. Dampak ini bisa berbeda antara suatu negara dengan negara lain.

Beberapa jurus sterilisasi capital inflow antara lain dengan cara simplifikasi prosedur investasi melalui sinkronisasi regulasi dari pengambil kebijakan, diversifikasi instrumen portofolio, persyaratan deposit bagi pinjaman dengan mata uang asing yang harus disimpan di Bank Central. Penerapan pajak bagi capital inflow (dikenal sebagai capital import tax), beberapa negara mengimplementasikan jenis pajak ini seperti Thailand, Australia, AS dan Brazil. Alternatif lainnya adalah dengan melakukan swap pada perdagangan mata uang asing yang dilakukan oleh Bank Central.

Secara spesifik untuk pengolaan capital inflow di Indonesia pernah diajukan melalui Kepala BKF Depkeu, Anggito Abimanyu.  Rekomendasi yang diajukan adalah melalui pembenahan intermediasi antar bank, perbaikan kehati-hatian perbankan, memperbanyak initial publik offering (IPO) BUMN, dan diversifikasi intrumen obligasi negara.

Hal ini sejalan dengan kebijakan BI yang pernah dilontarkan oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah pada Pertemuan Tahunan Perbankan tahun 2007. Beberapa strategi yang kelihatannya menyentuh pada penanganan capital inflow antara lain : BI akan proaktif mengambil peran dalam pengembangan pasar dan instrumen keuangan (financial market deepening) agar tidak terkonsentrasi hanya pada pasar SBI, SUN dan saham. Dari sisi kebijakan perbankan secara umum, BI akan mengembangkan intermediasi secara langsung (indirect intermediation) oleh perbankan ke sektor-sektor produktif melalui universal banking tetapi tetap dalam koridor konsolidasi perbankan.

Pada akhirnya pengelolaan capital inflow perlu penanganan serius dan harus mendapat perhatian berbagai pihak. Diharapkan keputusan yang diambil, dapat memancing modal yang masuk bisa parkir lebih lama dan dapat dimanfaatkan untuk mendanai proyek-proyek yang dapat menggerakan sektor riil.

—– 

11 Juli 2007 

Diterbitkan di Lampung Post tgl 21 Agustus 2007

REPUBLIK MIMPI, DARI KENYATAAN MENJADI MIMPI

July 11th, 2007

Ada pertanyaan yang menggelitik, seandainya Presiden Republik Indonesia (sering disebutkan sebagai negara tetangga dari Republik Mimpi) dijabat oleh seorang wanita, apakah Butet Kertaraharja akan mampu memparodikan dirinya sebagai Ibu Presiden ?

Pertanyaan ini dianggap penting, mengingat kekuatan Butet Kertaraharja “memainkan peran” seorang presiden menjadikannya titik central dalam “panggung teater” yang dikemas sebagai acara reality show disebuah stasiun TV swasta.

Butet bukan orang “baru” di dalam dunia teater, tetapi mungkin “baru” bisa bebas memparodikan seorang presiden yang masih berkuasa (istilahnya “baru bisa mimpi” jadi presiden), pada saat-saat sekarang ini. Sungguh tidak terbayangkan bila Butet berani “ber-ulah” pada masa orde baru.

Bila kita mendengar tentang teori dunia paralel, maka Republik Mimpi adalah dunia paralel dari Republik Indonesia. Sebuah negara yang selalu mempunyai bahan-bahan cerita menarik untuk ditampilkan di atas panggung sandiwara. Seandainya, Nikolai Vasilievich Gogol (1809 - 1852) masih hidup dan berkesempatan bermukim di Republik Indonesia, mungkin akan banyak menulis naskah drama fenomenal, sekali lagi - mungkin akan mengalahkan satu naskah drama komedi terbaiknya : Revizor atau yang diterjemahkan sebagai : Inspektur Jenderal.

Inspektur Jenderal adalah sebuah naskah komedi satire yang mentertawakan birokrasi, tetapi anehnya Tsar Nikolas I (1825 - 1855) justru menganjurkan komedi ini agar dipentaskan ditengah-tengah kegamangan para birokratnya. Tsar Nikolai I malah menghadiri produksi perdana drama ini pada April 1836. Saat itu Tsar tertawa senang dan memberikan applaus pada saat menonton drama tersebut.

Mari Mentertawai Birokrasi

Nikolai Gogol dengan gagah berani mentertawakan birokrasi di Rusia saat itu melalui naskah drama komedi satire Inspektur Jenderal. Rusia saat itu, digambarkan penuh dengan tragedi kehidupan, diantaranya ruwetnya birokrasi yang berkarib dengan korupsi yang bersimaharajalela.

Dalam melakukan kritik terhadap pemerintah Rusia, Gogol secara cerdas menempatkan dirinya sebagai artis, bukan sebagai tokoh oposisi yang  radikal atau liberal. Gogol membalut kritik dengan cara penuh humor. Sehingga penonton seolah-olah dibawa untuk mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan birokrasi saat itu.

Nampaknya, Republik Mimpi harus bisa “bermain” supaya bisa tetap melanjutkan tidurnya dan terus bermimpi. Republik Mimpi harus bermain dalam wilayah aman (dari tuntutan hukum dan ancaman penghentian siaran), yaitu bermain dalam wilayah seni dan menghiasi kritikan-kritikan dengan humor.

Dilain pihak bagi personal yang diparodikan, akan mendapat plus point, karena menunjukkan bahwa di Republik Indonesia saat ini - dengan adanya acara Republik Mimpi, menunjukkan bahwa demokrasi sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Dengan kata lain, Pemerintah sangat menghormati hak-hak demokrasi setiap warga negara-nya. Bahkan lebih jauh lagi, personal yang diparodikan dipandang sebagai tokoh yang berjiwa besar karena menerima kritikan dengan lapang dada.

Republik Mimpi sebenarnya tidak akan kehabisan materi cerita dan tidak akan membosankan, mengingat materi yang digali sangat subur di alam realita. Kasus yang mencuat dan up to date, seperti : gonjang-ganjing Resufle Kabinet, kasus penganiayaan praja IPDN, lumpur Lapindo,  rakyat yang harus  mengantri untuk mendapatkan satu atau dua liter  minyak tanah, hilangnya minyak goreng dari peredaran karena pengusaha cenderung meng-ekspor kebutuhan vital  rumah tangga keluar negeri daripada menjualnya ke warung-warung, mahalnya susu bayi sehingga timbul wacana untuk menggantikannya dengan susu kedelai atau air tajin, hingga  wacana lain yang lebih bermakna  ”internasional” seperti larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa ?

Republik Mimpi nampaknya harus cerdas seperti Nikolai Gogol, yaitu mengolah wacana-wacana yang terjadi di alam nyata menjadi kritikan yang penuh dengan sensasi humor.  Penonton dibuat tersenyum bahkan tanpa sadar  mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan permasalahan yang diangkat.  Bukankah Republik Mimpi punya modal yang “kuat” diantaranya ada Jaro Kuwat dan rekan-rekan lain yang perannya lebih komikal dan menghibur ?

Mudah-mudahan, Butet dan rekan-rekan lainnya  tidak segera bangun dari tidurnya, sehingga pemirsa setia masih dapat menikmati setiap episode  komedi satire “Inspektur Jenderal” ala Republik Mimpi..

—Juli 2007

TRAGEDY IN PARADISE

July 6th, 2007

Di Amerika Serikat (AS), bila orang membeli nenas kaleng, maka yang ada dalam pikirannya adalah nenas kaleng produk Hawaii yang sangat terkenal. Nenas kaleng produksi Hawaii yang dijual di supermarket-supermarket di AS mempunyai cap legendaris pada tutup kalengnya : “100 % Hawaiian USA”.

Hawaii adalah surga bagi industri nenas kaleng di AS. Hawaii tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri nenas kaleng di daratan Amerika.

Perkebunan nenas pertama kali dikelola secara komersil di AS berlokasi di Oahu, Hawaii tahun 1885. Selama satu abad kemudian, Hawaii memimpin industri nenas dunia. Tetapi, mulai tahun 1975, setelah Thailand terjun ke kancah industri nenas kaleng, maka posisi nenas Hawaii sebagai produsen nenas dunia perlahan tapi pasti mulai surut. Laporan Economic Research Service yang direlease oleh USDA pada bulan November 2003 menunjukkan bahwa Hawaii dari pen-suplay pasar dunia sebesar 13 % pada periode tahun 1970 -1975 menjadi hanya 2 % pada tahun 2000-2002. Perkebunan nenas dari awalnya berjumlah 47 usaha perkebunan pada tahun 1970 menjadi 15 usaha perkebunan pada tahun 1993 - 2000. Bahkan industri pengalengan nenas terus menurun dari 9 industri pengalengan menjadi hanya 3 industri pada tahun 1970-an.

Kondisi yang memprihatinkan bahkan merupakan tragedi disurga nenas kaleng di Hawaii terus berlanjut. Seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Associated Press yang dikutip oleh bulletin Honolulu Star, pada bulan April 2003, Maui Pineapple Co berencana untuk meninjau ulang produksi nenas kaleng dan fakus  hanya pada produk nenas segar.

“Perusahaan akan mereduksi tenaga kerja dari 1100 orang menjadi hanya 500 orang pada 4 tahun kedepan”, kata Dough Schenk, Presiden Maui Pine, dihadapan karyawannya. Maui Pine akan meninggalkan bisnis nenas kaleng yang sudah tidak menguntungka dan beralih ke produksi nenas segar.

Wesley Nohara, Plantation Manager dari Maui Pineapple Co, mengatakan dengan muram : “Bila kita kaji bisnis nenas kaleng, harga tidak pernah naik. Itu sebabnya bisnis ini pindah ke Philipina atau Thailand, karena biaya operasi disana sangat murah. Saya masih sangat percaya bahwa nenas yang tumbuh di Hawaii mempunyai kualitas buah yang paling baik. Tetapi , selama orang-orang masih membeli nenas kaleng dari produk dunia ketiga, maka hal ini merupakan tekanan yang berat bagi para petani nenas di Amerika Serikat”.

Laporan dari bulletin The Timeshare Beat pada bulan Mei 2005, melaporkan bahwa Maui Land & Pineapple Company, Inc telah rugi besar (higher operating losses) dari bisnis nenas. Rugi pada kuartal pertama tahun 2005 mencapai US $ 2.1 juta (setara dengan Rp. 19.7 milyar), dibandingkan dengan kerugian pada kuartal pertama tahun 2004 mencapai US $ 1.8 juta (setara dengan Rp. 16.9 milyar). Penjualan nenas kaleng menurun drastis 41 % pada periode yang sama. Buletin  yang sama juga melaporkan kerugian-kerugian pada kuartal-kuartal selanjutnya pada tahun 2005.

Kata kunci dari semua tragedi dalam industri nenas kaleng di Hawaii adalah ketidak mampuan bersaing dalam menekan operating cost dibandingkan dengan produsen nenas kaleng dari dunia ketiga seperti : Thailand, Philipina, Costa Rika, dll.

LOW OPERATING COST

Keunggulan dunia ketiga dibidang pertanian dan industri nenas kaleng adalah biaya produksi yang kompetitif. Biaya langsung, terutama pos biaya upah buruh  sangat menentukan dalam kelangsungan industri nenas kaleng.

Maka tidak aneh bila negara-negara ketiga seperti Thailand, Philipina, Costa Rika, India, Vietnam  dan Cina menjadi negara pengekspor nenas kaleng yang harus diperhitungkan. Keunggulan komparatif pada pos biaya upah buruh biasanya menjadi kata kunci dalam kompetisi di pasar global. Keunggulan lainnya adalah : kestabilan politik dan jaminan keamanan dalam berinvestasi merupakan plus point bagi negara-negara produsen nenas kaleng baru seperti : Vietnam dan China.

Tetapi pada tingkat tertentu, upah buruh kemudian menjadi tidak menarik bagi investor. Seperti di Indonesia, tuntutan kenaikan upah buruh yang tercermin dari tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional)  setiap tahunnya, menyebabkan komponen biaya upah buruh menjadi tidak kompetitif.

Untuk menekan biaya produksi akibat  tingginya upah buruh, maka investor harus mengimbangi dengan tuntutan produktivitas tinggi dan improvement lain, misal : outsourcing.

Dalam industri nenas kaleng, kunci dari semua masalah adalah proses budidaya nenas di kebun. Proses pengolahan tanah, pemilihan bibit, proses penanaman dan perawatan yang baik akan memberikan keunggulan yang signifikan.

Padahal semua aktivitas di kebun, sangat ditentukan oleh attitude dari para pekerja di kebun. Kedisiplinan dan control kualitas yang ketat  sangat menentukan proses selanjutnya. Kegiatan di kebun tidak akan terlihat efeknya pada saat itu juga. Efek dari kualitas hasil kerja di kebun baru terlihat pada saat buah di panen.

Keunggulan pada proses budidaya nenas dikebun akan dicerminkan  18 bulan kemudian (masa panen yang paling cepat) pada  kuantitas dan kualitas buah yang diterima di pabrik pengalengan.  Kontinuitas suplay buah dari kebun dan kualitas buah yang terjamin akan menaikkan nilai rendemen (istilah di dunia industri nenas kaleng : recovery) .  Kualitas buah biasanya dipengaruhi oleh : kememaran buah dan penyakit buah. Kememaran buah biasanya diakibatkan benturan fisik buah dengan buah atau benturan antara buah dengan lingkungan sekitarnya. Kememaran diantaranya disumbang dari aktivitas  panen, transportasi dan proses pra-peeling.  

Sedangkan penyakit buah ditentukan oleh tindakan perawatan buah saat dikebun. Penyakit buah biasanya menimbulkan bercak warna yang berbeda dengan warna buah normal, biasanya berdirikan bercak berwarna gelap. Bercak ini harus dibuang dari line proses, sehingga mengurangi persentase buah yang masuk ke dalam kaleng.

Distribusi buah besar sangat menentukan dalam tingkat produktivitas di line prosesing dalam pabrik pengalengan. Buah besar cenderung menaikkan prosentase daging buah yang masuk ke dalam kaleng dibanding buah kecil. Selain itu sisa daging buah yang menempel pada kulit, memberikan hasil  juice nenas  yang lebih banyak.

Keuntungan buah besar adalah mengurangi aktivitas pinset manual, karena buah yang masuk ke line proses sudah bersih dari bercak-bercak hitam (blemish). Jumlah tenaga kerja yang bisa dikurangi dari aktivitas pinset manual sangat signifikans.

Pada akhirnya, untuk dapat berkompetisi di pasar global, sangat ditentukan oleh attitude pekerja di kebun. Kemudian dikontrol dan disupervisi oleh atasannya secara disiplin dan konsisten.

Hasil kerja yang buruk, akan menimbulkan dampak pada saat buah siap dipanen. Pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Waktu yang telah diinvenstasikan berbulan-bulan lamanya  (minimal 18 bulan) akan menjadi sia-sia. Kualitas buah yang buruk, tidak dapat diperbaiki secara instant.

Kualitas buah yang buruk, akan memberi pilihan yang sama-sama pahit. Buah direject atau diproses tetapi dengan konsenkuensi produktivitas dan hasil kerja yang rendah. Kedua pilihan akan berakhir pada biaya produksi yang tinggi dan menjadi tidak kompetitif.

——

July 2007