TRAGEDY IN PARADISE
July 6th, 2007 at 2:11 pm (EKONOMI, Industri Nenas Kaleng)
Di Amerika Serikat (AS), bila orang membeli nenas kaleng, maka yang ada dalam pikirannya adalah nenas kaleng produk Hawaii yang sangat terkenal. Nenas kaleng produksi Hawaii yang dijual di supermarket-supermarket di AS mempunyai cap legendaris pada tutup kalengnya : “100 % Hawaiian USA”.
Hawaii adalah surga bagi industri nenas kaleng di AS. Hawaii tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri nenas kaleng di daratan Amerika.
Perkebunan nenas pertama kali dikelola secara komersil di AS berlokasi di Oahu, Hawaii tahun 1885. Selama satu abad kemudian, Hawaii memimpin industri nenas dunia. Tetapi, mulai tahun 1975, setelah Thailand terjun ke kancah industri nenas kaleng, maka posisi nenas Hawaii sebagai produsen nenas dunia perlahan tapi pasti mulai surut. Laporan Economic Research Service yang direlease oleh USDA pada bulan November 2003 menunjukkan bahwa Hawaii dari pen-suplay pasar dunia sebesar 13 % pada periode tahun 1970 -1975 menjadi hanya 2 % pada tahun 2000-2002. Perkebunan nenas dari awalnya berjumlah 47 usaha perkebunan pada tahun 1970 menjadi 15 usaha perkebunan pada tahun 1993 - 2000. Bahkan industri pengalengan nenas terus menurun dari 9 industri pengalengan menjadi hanya 3 industri pada tahun 1970-an.
Kondisi yang memprihatinkan bahkan merupakan tragedi disurga nenas kaleng di Hawaii terus berlanjut. Seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Associated Press yang dikutip oleh bulletin Honolulu Star, pada bulan April 2003, Maui Pineapple Co berencana untuk meninjau ulang produksi nenas kaleng dan fakus hanya pada produk nenas segar.
“Perusahaan akan mereduksi tenaga kerja dari 1100 orang menjadi hanya 500 orang pada 4 tahun kedepan”, kata Dough Schenk, Presiden Maui Pine, dihadapan karyawannya. Maui Pine akan meninggalkan bisnis nenas kaleng yang sudah tidak menguntungka dan beralih ke produksi nenas segar.
Wesley Nohara, Plantation Manager dari Maui Pineapple Co, mengatakan dengan muram : “Bila kita kaji bisnis nenas kaleng, harga tidak pernah naik. Itu sebabnya bisnis ini pindah ke Philipina atau Thailand, karena biaya operasi disana sangat murah. Saya masih sangat percaya bahwa nenas yang tumbuh di Hawaii mempunyai kualitas buah yang paling baik. Tetapi , selama orang-orang masih membeli nenas kaleng dari produk dunia ketiga, maka hal ini merupakan tekanan yang berat bagi para petani nenas di Amerika Serikat”.
Laporan dari bulletin The Timeshare Beat pada bulan Mei 2005, melaporkan bahwa Maui Land & Pineapple Company, Inc telah rugi besar (higher operating losses) dari bisnis nenas. Rugi pada kuartal pertama tahun 2005 mencapai US $ 2.1 juta (setara dengan Rp. 19.7 milyar), dibandingkan dengan kerugian pada kuartal pertama tahun 2004 mencapai US $ 1.8 juta (setara dengan Rp. 16.9 milyar). Penjualan nenas kaleng menurun drastis 41 % pada periode yang sama. Buletin yang sama juga melaporkan kerugian-kerugian pada kuartal-kuartal selanjutnya pada tahun 2005.
Kata kunci dari semua tragedi dalam industri nenas kaleng di Hawaii adalah ketidak mampuan bersaing dalam menekan operating cost dibandingkan dengan produsen nenas kaleng dari dunia ketiga seperti : Thailand, Philipina, Costa Rika, dll.
LOW OPERATING COST
Keunggulan dunia ketiga dibidang pertanian dan industri nenas kaleng adalah biaya produksi yang kompetitif. Biaya langsung, terutama pos biaya upah buruh sangat menentukan dalam kelangsungan industri nenas kaleng.
Maka tidak aneh bila negara-negara ketiga seperti Thailand, Philipina, Costa Rika, India, Vietnam dan Cina menjadi negara pengekspor nenas kaleng yang harus diperhitungkan. Keunggulan komparatif pada pos biaya upah buruh biasanya menjadi kata kunci dalam kompetisi di pasar global. Keunggulan lainnya adalah : kestabilan politik dan jaminan keamanan dalam berinvestasi merupakan plus point bagi negara-negara produsen nenas kaleng baru seperti : Vietnam dan China.
Tetapi pada tingkat tertentu, upah buruh kemudian menjadi tidak menarik bagi investor. Seperti di Indonesia, tuntutan kenaikan upah buruh yang tercermin dari tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional) setiap tahunnya, menyebabkan komponen biaya upah buruh menjadi tidak kompetitif.
Untuk menekan biaya produksi akibat tingginya upah buruh, maka investor harus mengimbangi dengan tuntutan produktivitas tinggi dan improvement lain, misal : outsourcing.
Dalam industri nenas kaleng, kunci dari semua masalah adalah proses budidaya nenas di kebun. Proses pengolahan tanah, pemilihan bibit, proses penanaman dan perawatan yang baik akan memberikan keunggulan yang signifikan.
Padahal semua aktivitas di kebun, sangat ditentukan oleh attitude dari para pekerja di kebun. Kedisiplinan dan control kualitas yang ketat sangat menentukan proses selanjutnya. Kegiatan di kebun tidak akan terlihat efeknya pada saat itu juga. Efek dari kualitas hasil kerja di kebun baru terlihat pada saat buah di panen.
Keunggulan pada proses budidaya nenas dikebun akan dicerminkan 18 bulan kemudian (masa panen yang paling cepat) pada kuantitas dan kualitas buah yang diterima di pabrik pengalengan. Kontinuitas suplay buah dari kebun dan kualitas buah yang terjamin akan menaikkan nilai rendemen (istilah di dunia industri nenas kaleng : recovery) . Kualitas buah biasanya dipengaruhi oleh : kememaran buah dan penyakit buah. Kememaran buah biasanya diakibatkan benturan fisik buah dengan buah atau benturan antara buah dengan lingkungan sekitarnya. Kememaran diantaranya disumbang dari aktivitas panen, transportasi dan proses pra-peeling.
Sedangkan penyakit buah ditentukan oleh tindakan perawatan buah saat dikebun. Penyakit buah biasanya menimbulkan bercak warna yang berbeda dengan warna buah normal, biasanya berdirikan bercak berwarna gelap. Bercak ini harus dibuang dari line proses, sehingga mengurangi persentase buah yang masuk ke dalam kaleng.
Distribusi buah besar sangat menentukan dalam tingkat produktivitas di line prosesing dalam pabrik pengalengan. Buah besar cenderung menaikkan prosentase daging buah yang masuk ke dalam kaleng dibanding buah kecil. Selain itu sisa daging buah yang menempel pada kulit, memberikan hasil juice nenas yang lebih banyak.
Keuntungan buah besar adalah mengurangi aktivitas pinset manual, karena buah yang masuk ke line proses sudah bersih dari bercak-bercak hitam (blemish). Jumlah tenaga kerja yang bisa dikurangi dari aktivitas pinset manual sangat signifikans.
Pada akhirnya, untuk dapat berkompetisi di pasar global, sangat ditentukan oleh attitude pekerja di kebun. Kemudian dikontrol dan disupervisi oleh atasannya secara disiplin dan konsisten.
Hasil kerja yang buruk, akan menimbulkan dampak pada saat buah siap dipanen. Pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Waktu yang telah diinvenstasikan berbulan-bulan lamanya (minimal 18 bulan) akan menjadi sia-sia. Kualitas buah yang buruk, tidak dapat diperbaiki secara instant.
Kualitas buah yang buruk, akan memberi pilihan yang sama-sama pahit. Buah direject atau diproses tetapi dengan konsenkuensi produktivitas dan hasil kerja yang rendah. Kedua pilihan akan berakhir pada biaya produksi yang tinggi dan menjadi tidak kompetitif.
——
July 2007