EARNINGS MANAGEMENT, FRAUD ATAU BUKAN ? (I)
August 17th, 2007 at 1:49 pm (EKONOMI)
Fenomena earnings management seperti dua sisi mata uang. Pada satu sisi terang, earnings management adalah produk yang ‘legitimate’, sedangkan disisi lain (sisi gelap), earnings management dianggap sebagai produk dari suatu tindakan yang ‘immoral’ dan ‘unethical’.
Earning management oleh sebagian kalangan dianggap sebagai ‘proffesional judgement’ atas laporan keuangan, tetapi dapat menyesatkan (mislead) pihak stakeholder dalam melakukan interpretasi terhadap performa ekonomi (economic perfomance) suatu perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen telah dengan sengaja melakukan tindakan manipulasi atau tindakan lainnya yang dapat mempengaruhi laporan keuangan.
Konsekuensinya akan lebih luas bila earnings management dilakukan oleh manajemen perusahaan go publik, pihak insvestor akan terlihat ‘bodoh’ bila mempercayai laporan keuangan tersebut. Biasanya hal ini dilakukan oleh pihak manajemen yang mempunyai keyakinan kuat bahwa pihak insvestor tidak mempunyai akses informasi ke dalam perusahaan, sehingga investor akan melihat laporan keuangan tersebut sebagai laporan yang true report.
Bila manajemen tidak mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan, maka dapat disimpulkan bahwa earning quality telah bernilai positif. Data-data yang dilaporkan berarti dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Tanpa campur tangan earnings management, berarti laporan keuangan telah benar-benar merefleksikan kondisi sebenarnya suatu perusahaan dan akan membantu pihak stakeholder dalam memprediksi performa ekonomi perusahaan tersebut dimasa datang.
Sebagian kalangan - terutama kalangan akademisi, melihat bahwa earnings managemet terlihat “sangat menakutkan”, karena aktivitas ini sangat berhubungan dengan moralitas dari manajemen.
Motivasi dalam Melakukan Earnings Management
Motivasi untuk melakukan earnings management biasanya timbul akibat “pressure” baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. Pressure dari dalam perusahaan biasanya berhubungan dengan perfoma keuangan yang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Motivasi ini semakin kencang bila performa keuangan berhubungan dengan “reward” berupa insentive keuangan, seperti bonus atau untuk mendapatkan kompensasi yang maksimal.
Sedangkan motivasi dari luar, biasanya justru datang dari pihak top manajemen yang ingin menunjukkan bahwa berkat kepemimpinan mereka performa keuangan perusahaan telah menjadi lebih baik. Terutama bila perusahaan ini adalah perusahaan go publik, maka pihak top manajemen ingin menunjukkan kepada para pemegang saham bahwa kepemimpinan mereka dapat diandalkan. Kecenderungannya akan lebih kuat, bila data aktual hanya berada dibawah sedikit dari target yang diinginkan. Maka earnings management berufngsi untuk “menyempurnakannya” menjadi laporan keuangan yang lebih baik.
Dalam kaitannya dengan pasar modal, earnings management juga dilakukan oleh pihak manajemen bila terdapat “gap” antara perfoma perusahaan dengan ekspektasi dari para analisis pasar modal. Manajemen biasanya secara agresif akan membuat laporan keuangan sesuai dengan “forecast” dari pihak analis pasar modal.
Motivasi lain adalah untuk membuat laporan keuangan lebih atraktif dan menarik dalam upaya mengajukan aplikasi pinjaman (loan aplication) atau melaksanakan IPO (Initial Public Offering). Bahkan dalam melakukan pengajuan aplikasi pinjaman, terdapat indikasi bahwa earnings management dilakukan justru untuk membuat laporan keuangan menjadi “sangat menyedihkan”, dengan tujuan untuk mendapatkan belas kasihan suntikan dana agar dapat melakukan improvement.
Ethical Behaviour
Earning management merupakan suatu tindakan immoral. Walaupun earnings management dibuat berdasarkan Standar Akuntansi yang berlaku, tetapi tidak berarti earnings management merupakan tindakan cerdas untuk melegitimasi fraud.
Sampai saat ini belum ada metoda yang efektif untuk menghapus earnings management dari aktivitas akuntansi. Profesor Michael D. Acker dari Morquette University menyarankan perlunya edukasi yang membahas earnings management secara luas. Sehingga, akan banyak orang yang dapat mengindentifikasi teknik-teknik earnings management. Edukasi juga bisa dilakukan melalui media bisnis dan profesional yang mengajarkan pembacanya agar dapat mendeteksi earnings management secara praktis.
Beberapa literatur menunjukkan bahwa institusi yang diciptakan oleh investor dapat mampengaruhi, memonitor dan bahkan mendisiplinkan perilaku manajement. Sedangkan dari internal perusahaan, Board of Director ( BOD) yang berasal dari luar perusahaan cenderung akan bertindak lebih independen, sehingga dapat memonitor dan mengontrol manajemen.
Literatur lain, menyarankan adanya regulasi yang dapat dengan segera mendekteksi adanya earnings management. Dalam regulasi tersebut, diatur tentang berapa jauh manajemen boleh melakukan “judgement” terhadap laporan keuangan melalui earnings management.
*****
17 Agustus 2007