SUBPRIME MORTGAGE CRISIS - ANCAMAN BAGI RAPBN 2008
August 21st, 2007 at 9:51 am (EKONOMI)
Pasar saham dunia benar-benar dibuat jatuh bangun oleh krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (AS).
Di Inggris, bursa saham FTSE 100 merugi 4,1 persen atau US $119.14 milliar, dari 6.000 ke 5.858,9 yang merupakan indek terendah sejak September 2006. Bursa saham Perancis CAC- 40 jatuh 3.3 persen ke angka 5.265,47 merupakan indek terendah pada tahun ini. Bursa saham Jerman DAX terjerembab 2,4 persen ke 7.270,07.
Toronto Stock Exchange mengalami hal yang sama, jatuh hampir 600 point - terbesar selama enam tahun terakhir ke angka 12.848,7.
Indek saham Nikkei 225 ditutup dengan penurunan hampir 2 persen di bursa sahamTokyo Stock Exchange. Hal yang sama terjadi di bursa saham Korea Selatan mengalami penurunan mencapai 6,9 persen, suatu rekor penurunan hingga saat ini. Di Hongkong, indek saham Hang Seng jatuh 3.3 persen, yang merupakan kejatuhan terbesar selama 2 bulan terakhir.
Bursa saham Mexico City IPC turun sebesar 1,2 persen, setelah mengalami penurunan drastis 6 persen satu hari sebelumnya. Sedangkan di Brazil, bursa saham Ibovespa mengalami kerugian mencapai 2.6 persen. Sedangkan di Argentina, Merval mencatat penurunan mencapai 9 persen dengan kerugian mencapai 4.7 persen.
Banyak ekonom di AS yang percaya bahwa bila tidak ada tindakan nyata dari pemerintah maka tragedi ini akan berubah menjadi badai yang menyeret AS ke jurang resesi. Para investor mulai menjerit meminta The Federal Reserve agar turun tangan untuk menjinakkan turbulensi ekonomi. The Fed merespon positif untuk mendinginkan gejolak ekonomi AS. Sebelumnya, Fed telah mengucurkan hampir US $ 120 miliar ke perbankan untuk membantu likuiditas di pasar finansial, kemudian dilanjutkan dengan memotong suku bunga dari 6,25 persen menjadi 5,75 persen.
Para pengamat ekonomi masih menunggu efek dari keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi 5.75. Mereka berharap pemotongan suku bunga dapat menstabilkan kondisi ekonomi di AS. Tetapi, bila kondisi tidak berubah, maka The Fed sudah mengirimkan pesan untuk memotong suku bunga lebih rendah lagi pada pertemuan tgl 18 September nanti.
Rupiah Terjun Bebas
Imbas turbulensi ekonomi global akhirnya membuat Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta turun 22 persen dari 2.401 pada 24 Juli menjadi 1.908. Pada perdagangan Kamis (16/8) kurs rupiah melemah dan ditutup pada level Rp. 9.455 per dolar AS, mendekati angka psikologis Rp 9.500. Diduga portofolio dalam bentuk SBI telah dilepas oleh pihak asing (capital outflow) dan selanjutnya ditukar ke dolar AS, sehingga menyebabkan rupiah turun tajam.
Bank Indonesia (BI) berjanji akan all out untuk menahan laju depresiasi rupiah pada angka Rp. 9.500. Pemerintah SBY kelihatannya akan sungguh-sungguh dalam menangani pelemahan nilai rupiah, apalagi bila dikaitkan dengan momentum semakin dekatnya dengan akhir masa kepemimpinan SBY.
Tapi bila mengacu pada RAPBN tahun 2008, dimana pemerintah mengunci nilai tukar rupiah pada level Rp. 9.100 per dolar AS, kelihatannya upaya ini akan menguras cadangan devisa. Alasannya adalah, pertama : tidak ada jaminan bahwa bila The Fed telah memotong suku bunga menjadi 5,75 maka efek dari gejolak ekonomi global akan segera berakhir. Ini berarti tidak ada jaminan bahwa proses depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan berhenti pada Rp. 9.500.
Penerimaan dari Sektor Pajak
Target penerimaan dari sektor pajak pada RAPBN 2008 mencapai Rp. 583.7 trilyun terlihat meningkat tajam bila dibandingkan dengan rencana penerimaan dari sektor pajak pada RAPBN-P 2007 yang hanya sebesar Rp. 489.9 trilyun.
Tingginya target penerimaan pajak ini diharapkan mendapat dorongan penuh dari proses revitalisasi di lingkungan Ditjen Pajak yang telah berjalan selama tahun 2006 - 2007 . Tapi masih dipertanyakan ke-efektif-annya dalam upaya pemenuhan target penerimaan dari sektor pajak. Tahun 2008 masih merupakan tahun pembuktian apakah proses modernisasi dan perbaikan organisasi di lingkungan Ditjen Pajak bisa berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan ?
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah : apakah target penerimaan pajak yang demikian meningkat pesat bukan sesuatu yang terlalu optimistik ? Karena konsekuensinya adalah bila penerimaan pajak tidak bisa memenuhi target yang telah ditentukan, darimana pemerintah akan menutupi defisit anggaran ? Apakah pemerintah akan menutupinya melalui skema pinjaman baru atau pemerintah akan “tega” melakukan pemotongan anggaran?
Banyak pertanyaan yang timbul mengenai RAPBN 2008, terutama bila dikaitkan dengan badai yang menerpa pasar saham dan anjloknya rupiah. Yang jelas dan patut digaris bawahi adalah proses normalisasi kurs rupiah akan menguras cadangan devisa, hal ini yang akan dilakukan oleh BI sebagai otoritas moneter agar rupiah tetap berada dalam posisi yang aman sesuai dengan perekonomian Indonesia.
*****
19 Agustus 2008