Six Sigma - Improvement yang Fokus pada Customer Satisfaction

September 26th, 2007

Craig Erwin, seorang manager Quality Engineer di Motorola Semiconductor Product Sector (SPS) pernah menulis : “Sebelum meng-implementasikan six sigma, kami sangat tertarik dengan aktivitas continuous improvement, tetapi hanya berusaha fokus pada pencapaian  level kualitas yang sejajar dengan kompetitor kami. ”

Tetapi setelah meng-aplikasikan six sigma, “Kami tetap terus melakukan improvement untuk meningkatkan produk reliability, meningkatkan hasil produksi dan meningkatkan kualitas internal tetapi sekarang dalam upaya memenuhi ekspektasi customer terharap produk kami.”

Demikian pula yang dikatakan oleh James Bailey, seorang Executive Vice President dan Corporate Quality Officer pada Citicorp. “Kami sekarang lebih fokus pada customer satisfaction. Kami tahu ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, tetapi kami telah memulainya dan kami puas.”

Simak apa kata John Randall, Manager Quality Improvement pada perusahaan Defense System Electronic Corp (DSEG) peraih penghargaan Malcolm Baldrige National Quality Award, “Six Sigma telah meng-improve kualitas dan customer satisfaction tetapi dengan biaya yang relatif rendah”.

Six Sigma dan Customer Satisfaction

Kata kunci dalam melakukan improvement adalah bahwa improvement tanpa mengarahkan tujuan pada customer satisfaction merupakan hal yang sia-sia.

Ketika banyak perusahaan mengimplementasi Business Process Re-engineering (BPR), maka disadari perlunya mendasari setiap improvement pada customer satisfaction.   

Pada dasarnya, implementasi BPR adalah membagi aktivtas menjadi dua hal : aktivitas yang bernilai value  added dan aktivitas yang tidak bernilai value added (non value added).

Aktivitas yang bernilai value added adalah aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas produksi. Sedangkan aktivitas non value added adalah aktivitas diluar aktivitas produksi seperti aktivitas transportasi, inventory, administrasi, dll. Fokus dari BPR adalah mereduksi aktivitas non value added.

Kecenderungan  dalam mengimplementasikan BPR adalah memotong habis  semua aktivitas non value added dengan tujuan akhir adalah untuk mendorong efisiensi ke tingkat yang lebih tinggi.

Sementara project-project six sigma selalu mengkaitkan improvement dengan customer satisfaction. Sehingga tidak aneh bila dalam melakukan improvement selalu ditanyakan : bagaimana pengaruhnya improvement terhadap customer satisfaction.

Kemudian akan timbul dua pilihan, apabila improvement ternyata menimbulkan degradasi pada nilai customer satisfaction, maka improvement tersebut disingkirkan. Tetapi bila improvement tersebut justru semakin memperbaiki tingkat customer satisfaction, maka improvement tersebut layak untuk dilanjutkan.

Kasus Reduction Head Account

Project BPR yang paling favorit adalah project reduction head account, dengan cara memotong habis semua aktivitas non value added.

Sebagai contoh : kasus mereduksi tenaga inspektor QC di line produksi, kelihatannya sangat mungkin dilakukan dalam BPR.  Reduksi biasanya dilakukan dengan cara memperpanjang tenggang waktu pengambilan sample atau memperkecil jumlah sample.

Dengan semakin berkurangnya beban kerja si petugas inspector QC, maka peluang mereduksi jumlah petugas inspector akan semakin terbuka lebar.

Katakanlah, yang sebelumnya satu line produksi ditangani oleh satu orang inspector QC, maka setelah dilakukan improvement akan menghasilkan satu orang petugas inspector QC akan menangani dua line produksi.

Masalah mulai timbul, bila manajemen tidak melihat kaitan erat antara reduksi petugas inspector QC dengan kesempatan petugas inspector QC untuk menangkap “sinyal”  penyimpangan kualitas produksi dari sample yang semakin sedikit.

Logikanya, semakin sedikit sample yang diambil atau semakin jarang sample dilakukan, maka peluang petugas QC untuk “menangkap” penyimpangan kualitas produksi akan semakin kecil, bila petugas inspector QC tidak dibekali dengan pengetahuan dan skill yang dapat meningkatkan “kepekaan” untuk menangkap penyimpangan tersebut.

Manajemen kemudian berpuas diri dengan keberhasilan dalam melakukan improvement : project mereduksi head acount petugas inspector QC telah sukses dilakukan.

Tetapi, manajemen tidak melihat bahaya complain dari customer akibat penyimpangan kualitas yang tidak “tertangkap” oleh petugas inspector QC di line produksi.

Customer kemudian  kecewa karena produk yang diterima tidak sesuai dengan spec yang telah disepakati. Customer menjadi unsatisfied.

Manajemen yang selalu mendasari improvement-nya pada customer satisfaction, mestinya akan melanjutkan improvement dengan melakukan pelatihan untuk membekali petugas inspector QC dengan skill dan pengetahuan agar bisa “lebih peka” dalam menangkap setiap penyimpangan kualitas.  

Lebih peka berarti walaupun jumlah sample semakin sedikit, tetapi ketrampilan dan pengetahuan untuk membaca peluang terjadinya penyimpangan kualitas akibat penyimpangan, misal :  penyimpangan saat proses produksi bisa dideteksi. Penyimpangan saat proses produksi, seharusnya menjadi peringatan dini bagi si petugas. Karena penyimpangan ini akan berakibat pada hasil akhir produk, yang justru harus ditangkap dalam sampling yang dilakukan.

***** 

26 September 2007

Penulis adalah seorang Green Belt yang sedang mengerjakan project Six Sigma dan project Business Process Re-Engineering ditempat kerja.

Thankyou, Ben.

September 19th, 2007

Selasa kemarin, Federal Reserve memotong bunga antar bank dengan persentase yang sangat besar dalam 4 tahun terakhir. Suku bunga dipangkas sebesar 50 basis point, dari 5.25 persen  menjadi 4.75 persen.

Pasar saham bereaksi positif.  Dow Jones dilaporkan naik 335.97 point atau kenaikan sebesar 2.51 persen, suatu rekor kenaikan dalam satu hari dalam waktu lima tahun terakhir.

Sementara pasar saham Asia bereaksi serupa. Kerisauan para investor Asia terhadap pengaruh negatif  subprime mortgage crisis terhadap turbulensi perekonomian Amerika Serikat (AS), punah sudah. 

Indek di Nikkei  225 Jepang, naik sebesar 500.22 point atau kenaikan sebesar 3.17 persen.  Di Hongkong, kenaikan terjadi pada bursa blue chip Hang Seng sebesar 928.45 point atau 3.78 point.  Kenaikan juga dilaporkan di Korea Selatan, Korea Composite Stock Price dilaporkan naik 57.75 point atau 3.1 persen. Philipina Stock Exchange Index, naik sebesar 73.23 point atau 2.2 persen. Sementara Bombay Stock Exchange melaporkan kenaikan sebesar 396 point atau 2.5 persen.

Di Indonesia, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ), ditutup dengan kenaikan 3.28 persen atau kembali terangkat ke level 2.300.  Sementara Rupiah juga menguat 155 basis point menjadi Rp. 9.220 per dollar.  Diduga investor asing yang sebelumnya memarkir uang di AS kembali masuk ke Indonesia, karena suku bunga yang ditawarkan menjadi tidak menarik.

Bila Bank Indonesia (BI) tidak merevisi BI-rate, maka investor asing akan mengeruk keuntungan melalui perdagangan carry trade. Selisih tingkat bunga rupiah dan dollar AS akan sangat menarik, yaitu sebesar 3.25 persen.

Ancaman Inflasi

Setelah memotong suku bunga — the first cut in over four years –lalu tindakan apalagi yang akan dilakukan oleh The Fed ?

“Keputusan hari ini adalah untuk mencegah berbagai kekacauan di pasar finansial dan untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi secara moderat”, demikian statement yang dikeluarkan The Fed.

Tetapi diprediksi diperlukan waktu 3 sampai 6 bulan agar penurunan suku bunga bisa berpengaruh pada perekonomian AS secara keseluruhan.

Diperkirakan pertumbuhan ekonomi bulan Juli sampai dengan September hanya mencapai 2 persen, sedangkan prediksi pertumbuhan pada tiga bulan terakhir tahun ini bahkan lebih rendah lagi.

Tingkat pengangguran diperkiran mencapai 4.6 persen dan akan meningkat mencapai 5 persen pada akhir tahun. 

Sementara gempuran terhadap perekonomian AS masih terus berlangsung dengan naiknya harga minyak mencapai US $ 81 per barrel pada hari Selasa lalu.

“Ancaman inflasi semakin nyata”, kata Alan Greenspan dalam wawancara dengan The Associated Press pada hari Senin lalu. Alan Greenspan adalah mantan pemimpin The Fed sebelum digantikan oleh Ben Bernanke.

Sinyal merevisi suku bunga

Untuk sementara para businesman bisa bernapas lega. 

“Dengan melakukan tindakan penurunan suku bunga, Ben Bernanke telah melakukan tindakan secara gradual untuk menjauhkan ekonomi dari kehancuran. Pasien - ekonomi - sekarang ini sedang sakit flu berat dan anda tidak ingin berkembang menjadi penyakit pneumonia yang lebih parah”, kata Terry Connelly, dekan dari Golden Gate University’ Ageno School of Business.

“Respon awal dari pasar adalah : Thankyou, Ben”, kata Jerry Webman, dari Oppenheimer Funds Inc.

Tetapi yang jelas, The Fed sudah memberikan sinyal kepada para investor, bahwa The Fed telah mengambil tindakan yang positif untuk membantu kondisi pasar kredit  dan telah memberikan sentimen positif bagi para investor.

Dalam skema strategi inflation targeting, The Fed masih akan membuka kesempatan untuk merevisi suku bunga.  Ben Bernanke, diprediksi akan menjaga inflasi pada zone 1 - 2 persen pertahun dengan cara mengatur suku bunga.

***** 

 19 September 2007

RESESI EKONOMI DI AMERIKA SERIKAT DIHADAPAN MATA !

September 15th, 2007

Presiden Bush akhirnya mengumumkan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat (AS) dari negeri seribu satu malam. 

Rencananya, pada tahap pertama akan ditarik  2.000 Marinir pada bulan ini. Selanjutnya akan diikuti dengan penarikan 3.500 – 4.000 prajurit dari angkatan darat pada pertengahan bulan Desember.  Rencana akan dilanjutkan  pada bulan Juli 2008 dengan penarikan sekitar 4 brigade tempur yang  akan kembali pulang ke pelukan Paman Sam. Bush rencananya hanya akan menyisakan 130.000 – 135.000 prajurit di Irak. 

Mengapa Bush menarik tentaranya dari medan tempur di Irak ? Apakah Irak sudah dalam keadaan ”kondusif” ? atau apakah ada tekanan dari lawan-lawan politiknya terutama dari kubu Partai Demokrat ? Atau ada tekanan ekonomi akibat subprime mortgage crisis yang menyeret perekonomian AS dalam jurang resesi ? 

”Bangsa Amerika ingin melihat seberkas cahaya diujung lorong gelap”, kata Senator Norm. Coleman dari Partai Republik. Tentara AS memang memasuki lorong gelap tanpa seberkas cahaya diujungnya, sewaktu menginvasi Irak beberapa tahun lalu. Dalam perang di Irak, tercatat 3744 tentara AS gugur berbagai medan operasi, selain harus menggelar berbagai peralatan tempur modern yang telah menyerap anggaran yang tidak sedikit, diperkirakan telah mencapai US $ 450 billiun. 

Tapi ada alasan yang lebih kuat bagi Bush dalam melakukan manuver politik tersebut. Dengarkan pendapat pemimpin Senat dari Partai Republik, Senator Mc Connell : ”Seperti yang anda ketahui, kami kehilangan suara pendukung kami, tetapi tidak banyak dan saya pikir (dengan penarikan mundur tentara AS) suara yang hilang akan kembali”.  

Bush kelihatannya memperhitungkan  efek negatif dari kebijaksanaannya dalam menunda penarikan mundur  pasukan dari Irak. Sementara itu, lawan politiknya memanfaatkan isu politik ini untuk mengail suara di pesta pemilu pada tahun 2008.  

Pengaruh Subprime Mortgage Crisis Terhadap Perekonomian Global 

Henry Paulson dari European Central Bank (ECB) mengatakan bahwa Subprime Mortgage Crisis terbukti telah memberi pengaruh buruk terhadap perekonomian AS.

 

“Walaupun ‘slow down’ perekonomian AS berhasil dibatasi, tetapi perlu diwaspadai pengaruhnya terhadap resiko pasar financial global”, katanya.

Sementara itu Forum Stabilitas Finansial G7 – sebuah forum yang beranggotakan menteri-menteri keuangan, pejabat bank Sentral – akan mengevaluasi likuiditas lembaga-lembaga keuangan, praktek-praktek resiko kredit, prosedur akunting dan penilaian terhadap perdagangan derivatif, prinsip-prinsip supervisi  dan peranan agen pemberi rating kredit. 

Bahkan negara-negara yang merupakan Group of Seven, yang merupakan Negara-negara ‘top economies’ telah meminta G7 untuk memberikan laporan rinci mengenai akar penyebab krisis pada pertemuan para menteri keuangan di bulan Oktober mendatang. Seorang anggota dewan ECB, Erkki Liikanen mengatakan perlu waktu berbulan-bulan untuk memulihkan pasar finansial agar kembali normal. 

Ancaman Resesi Ekonomi di AS

Kamis 13 September 2007, harga minyak kembali menyentuh harga tertinggi US $ 80 per barrel.  “Rekor harga minyak dan jatuhnya nilai dolar AS terhadap Euro tentu saja akan merubah scenario yang telah dirancang”, kata Andrea Bailo dari Banca MB Spa di Milan.

Walaupun harga minyak US $ 80 per barrel bukan merupakan harga tertinggi seperti yang pernah tercapai pada tahun 1980 lalu, tetapi para analisis ekonomi memperkirakan harga minyak tersebut tetap terasa berat mengingat dampak subprime mortgage crisis.

Delapan – puluh – dollar – per barrel, mendorong AS ke tepi jurang resesi”, kata Nigel Gault dari Global Insight.

Prediksi tentang terjadinya resesi di AS sudah diramalkan oleh para analisa ekonomi sebelum kasus subprime mortgage meledak. Setidak-tidaknya, resesi akan terjadi bila 4 hal telah terpenuhi :

    1. Terjadi ‘turmoil’ pada pasar financial, misalnya akibat dari krisis kredit perumahan.

         Note : Persyaratan ini sudah terpenuhi dengan adanya kasus subprime mortgage crisis. 

    2.  Naiknya harga minyak dunia.

        Note : tanggal 13 September 2007, harga minyak dunia telah mencapai rekor tertinggi sebesar US $ 80 per barrel.

    3. Jatuhnya nilai tukar dollar AS.

        Note : Nilai tukar dollar AS terhadap Euro telah mencapai rekor titik terendah pada minggu ini.

    4. Defisit budget yang diprediksikan akan menyebabkan tekanan terhadap kebijaksanaan fiscal dan stabilitas makroekonomi.

 Federal Reserve diperkirakan akan memotong suku bunga hingga 50  basis point pada pertemuan 18 September mendatang. Inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan perekonomian AS selain mengurangi tekanan terhadap defisit budget melalui pengurangan anggaran perang dengan cara menarik mundur pasukan AS dari medan tempur di Irak.

 ——-

14 September 2007

Subprime Mortgage Crisis - Menyeret AS Dalam Krisis Babak II

September 2nd, 2007

Subprime Mortgage Crisis, krisis ekonomi babak I mungkin telah usai setelah The Feds menurunkan rate diskonto  dari 6.25 %  menjadi 5.75 % dan pada 10 Agustus 2007 The Feds telah  menggelontorkan  dana cash triliyun-an dollar untuk menstabilkan perekonomian di AS.

Presiden Bush meng-klaim  bahwa krisis ini akan berakhir dengan soft landing.  Argumentasinya adalah krisis ini hanya terjadi pada sektor perumahan, sedangkan sektor ekonomi lain tumbuh secara wajar, sehingga akan turut membantu mengkoreksi laju bandul ekonomi ketitik terendah.  

Tetapi banyak pihak mengatakan bahwa statement ini hanya untuk menenangkan pasar. Bagaimana  dengan kondisi sebenarnya ?

“Liar Loan” dan “No Doc” Kredit

Industri perumahan merupakan motor utama  penggerak pertumbuhan ekonomi AS sejak tahun 1990-an. Tetapi puncaknya mulai terjadi pada periode tahun 2000 - 2006,  industri perumahan menjadi roket pendorong bagi kemajuan ekonomi di AS.

Tetapi dari sini-lah benih krisis berawal. Jutaan orang mulai mengajukan kredit kepemilikan rumah, baik untuk ditempati maupun untuk tujuan investasi. Dengan kondisi perekonomian saat itu, banyak kreditor  mengharapkan nilai jual rumahnya dikemudian hari akan terus membumbung  tinggi sehingga  memberikan return yang menggiurkan.

Kelihatannya bisnis perumahan sangat menguntungkan. Pucuk dicinta ulam tiba, berbagai badan keuangan kemudian memberikan kredit perumahan dengan persyaratan sangat- sangat  longgar, dengan tujuan menjaring sebanyak mungkin nasabah.   

Kemudian dikenal dengan istilah “liar loans” atau “no doc”  bagi para kreditor yang hanya melengkapi persyaratan pengajuan kredit dengan dokumen ala kadarnya. Kreditor dengan tipe ini biasanya masuk dalam skoring FICO credit score  dibawah 620 (skala antara 380 hingga 850), sehingga didefinisikan sebagi sub prime borrowers.

Data aplikasi pengajuan kredit  sub prime pada periode tahun 2004 -2006 mencapai 21 %, jauh dibandingkan dengan periode tahun 1996 - 2004 yang hanya mencapai 9 %. Rekor pencapaian sub prime mortgage adalah pada tahun 2005 yang mencapai AS $ 805 trilyun dibandinkan dengan tahun 2006 yang hanya mencapai AS $ 600 trilyun.  

Mengapa debitor mau memberikan kredit yang sangat beresiko ? Jawabannya adalah karena kreditor mau menerima bunga yang tinggi yang dibebankan oleh debitor untuk meng-cover resiko tersebut. Bunga yang dibebankan pada sub prime mortgage mencapai 2% - 5% lebih tinggi daripada kredit perumahan yang wajar. Jelas bahwa sub prime adalah kredit beresiko tinggi dengan imbalan beban bunga yang tinggi pula, ini berarti secara teoritas bisnis sub prime mortgage menjanjikan return yang sangat menarik.

Bank investasi dan badan keuangan kemudian melakukan transaksi derivative  dengan memberi pinjaman dan me-repackage dalam bentuk  Mortgage Back Securities (MBS) dan Collateralized Debt Obligation (CDO) yang menjanjikan akan memberikan high rate.  Kredit sub prime mortgage setelah dikemas dengan menarik kemudian menjadi sarana investasi di pasar saham yang paling populer. 

Harga Rumah Ternyata Tidak Naik

Bencana mulai terjadi setelah ternyata harga rumah mengalami stagnasi. Kenyataannya harga jual  rumah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Impian meraup keuntungan hanya angan-angan.

Krisis sub prime mortgage dimulai. Gegap gempita bisnis perumahan mulai meredup pada tgl 22 Juni 2007 ketika Bear Stearns  mengumumkan akan menggelontorkan dana AS $ 3,2 trilyun untuk menyelamatkan salah satu hedge fundnya yang bernama High Grade Structured Credit Fund dari ancaman likuidasi. Dana ini diperlukan untuk membayar kembali para investor setelah hedge fund ini mengalami kerugian besar dalam bisnis pendanaan sub prime mortgage.   

Satu persatu perusahaan pemberi pinjaman sub prime mortgage mulai rontok. New Century Financial Corporation, perusahaan pemberi pinjaman sub prime terbesar kedua di AS, selanjutnya Countrywide Financial Corp dan HSBC Holding menghadapi ancaman kebangkrutan. Secara beruntun hampir 20-an institusi pendanaan mulai mengemas kerugian dan terjerembab dalam kebangkrutan.

Krisis sub prime seperti lingkaran setan. Krisis menyebabkan harga rumah jatuh.   Harga rumah jatuh menyebabkan nilai equity rumah  yang dijaminkan   ikut terjun bebas, selanjutnya banyak kreditor sub prime angkat tangan dan dinyatakan default. Akibat selanjutnya, nilai jual rumah akan terus jatuh.

Dalam jangka pendek, orang-orang akan berpikir dua kali untuk membeli rumah, karena harga rumah terus turun. Sedangkan pemilik dana akan berpikir ulang untuk menginvestasikan dananya pada industri perumahan. Jendela pendanaan melalui kredit untuk sementara ditutup.

Krisis Babak II

Walaupun The Feds telah bereaksi positif, tetapi diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya akan dibawah  2 % pada tahun ini dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2009. 

Pengangguran diperkirakan akan terus meningkat mencapai 5 % pada akhir tahun 2007. Diprediksikan,  industri perumahan baru akan pulih pada tahun 2010. 

Wacana resesi sudah mulai dilontarkan oleh para ekonom. Terutama bila terjadi gejolak harga bahan bakar minyak atau terjadi turbulensi financial market di dalam negeri.

Sebagian pengamat percaya, bahwa resesi dapat juga berarti pertumbuhan ekonomi AS yang flat  pada titik terendah hingga pemilihan presiden yang akan datang.

***** 

2 September 2007