Subprime Mortgage Crisis - Menyeret AS Dalam Krisis Babak II

Subprime Mortgage Crisis, krisis ekonomi babak I mungkin telah usai setelah The Feds menurunkan rate diskonto  dari 6.25 %  menjadi 5.75 % dan pada 10 Agustus 2007 The Feds telah  menggelontorkan  dana cash triliyun-an dollar untuk menstabilkan perekonomian di AS.

Presiden Bush meng-klaim  bahwa krisis ini akan berakhir dengan soft landing.  Argumentasinya adalah krisis ini hanya terjadi pada sektor perumahan, sedangkan sektor ekonomi lain tumbuh secara wajar, sehingga akan turut membantu mengkoreksi laju bandul ekonomi ketitik terendah.  

Tetapi banyak pihak mengatakan bahwa statement ini hanya untuk menenangkan pasar. Bagaimana  dengan kondisi sebenarnya ?

“Liar Loan” dan “No Doc” Kredit

Industri perumahan merupakan motor utama  penggerak pertumbuhan ekonomi AS sejak tahun 1990-an. Tetapi puncaknya mulai terjadi pada periode tahun 2000 - 2006,  industri perumahan menjadi roket pendorong bagi kemajuan ekonomi di AS.

Tetapi dari sini-lah benih krisis berawal. Jutaan orang mulai mengajukan kredit kepemilikan rumah, baik untuk ditempati maupun untuk tujuan investasi. Dengan kondisi perekonomian saat itu, banyak kreditor  mengharapkan nilai jual rumahnya dikemudian hari akan terus membumbung  tinggi sehingga  memberikan return yang menggiurkan.

Kelihatannya bisnis perumahan sangat menguntungkan. Pucuk dicinta ulam tiba, berbagai badan keuangan kemudian memberikan kredit perumahan dengan persyaratan sangat- sangat  longgar, dengan tujuan menjaring sebanyak mungkin nasabah.   

Kemudian dikenal dengan istilah “liar loans” atau “no doc”  bagi para kreditor yang hanya melengkapi persyaratan pengajuan kredit dengan dokumen ala kadarnya. Kreditor dengan tipe ini biasanya masuk dalam skoring FICO credit score  dibawah 620 (skala antara 380 hingga 850), sehingga didefinisikan sebagi sub prime borrowers.

Data aplikasi pengajuan kredit  sub prime pada periode tahun 2004 -2006 mencapai 21 %, jauh dibandingkan dengan periode tahun 1996 - 2004 yang hanya mencapai 9 %. Rekor pencapaian sub prime mortgage adalah pada tahun 2005 yang mencapai AS $ 805 trilyun dibandinkan dengan tahun 2006 yang hanya mencapai AS $ 600 trilyun.  

Mengapa debitor mau memberikan kredit yang sangat beresiko ? Jawabannya adalah karena kreditor mau menerima bunga yang tinggi yang dibebankan oleh debitor untuk meng-cover resiko tersebut. Bunga yang dibebankan pada sub prime mortgage mencapai 2% - 5% lebih tinggi daripada kredit perumahan yang wajar. Jelas bahwa sub prime adalah kredit beresiko tinggi dengan imbalan beban bunga yang tinggi pula, ini berarti secara teoritas bisnis sub prime mortgage menjanjikan return yang sangat menarik.

Bank investasi dan badan keuangan kemudian melakukan transaksi derivative  dengan memberi pinjaman dan me-repackage dalam bentuk  Mortgage Back Securities (MBS) dan Collateralized Debt Obligation (CDO) yang menjanjikan akan memberikan high rate.  Kredit sub prime mortgage setelah dikemas dengan menarik kemudian menjadi sarana investasi di pasar saham yang paling populer. 

Harga Rumah Ternyata Tidak Naik

Bencana mulai terjadi setelah ternyata harga rumah mengalami stagnasi. Kenyataannya harga jual  rumah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Impian meraup keuntungan hanya angan-angan.

Krisis sub prime mortgage dimulai. Gegap gempita bisnis perumahan mulai meredup pada tgl 22 Juni 2007 ketika Bear Stearns  mengumumkan akan menggelontorkan dana AS $ 3,2 trilyun untuk menyelamatkan salah satu hedge fundnya yang bernama High Grade Structured Credit Fund dari ancaman likuidasi. Dana ini diperlukan untuk membayar kembali para investor setelah hedge fund ini mengalami kerugian besar dalam bisnis pendanaan sub prime mortgage.   

Satu persatu perusahaan pemberi pinjaman sub prime mortgage mulai rontok. New Century Financial Corporation, perusahaan pemberi pinjaman sub prime terbesar kedua di AS, selanjutnya Countrywide Financial Corp dan HSBC Holding menghadapi ancaman kebangkrutan. Secara beruntun hampir 20-an institusi pendanaan mulai mengemas kerugian dan terjerembab dalam kebangkrutan.

Krisis sub prime seperti lingkaran setan. Krisis menyebabkan harga rumah jatuh.   Harga rumah jatuh menyebabkan nilai equity rumah  yang dijaminkan   ikut terjun bebas, selanjutnya banyak kreditor sub prime angkat tangan dan dinyatakan default. Akibat selanjutnya, nilai jual rumah akan terus jatuh.

Dalam jangka pendek, orang-orang akan berpikir dua kali untuk membeli rumah, karena harga rumah terus turun. Sedangkan pemilik dana akan berpikir ulang untuk menginvestasikan dananya pada industri perumahan. Jendela pendanaan melalui kredit untuk sementara ditutup.

Krisis Babak II

Walaupun The Feds telah bereaksi positif, tetapi diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya akan dibawah  2 % pada tahun ini dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2009. 

Pengangguran diperkirakan akan terus meningkat mencapai 5 % pada akhir tahun 2007. Diprediksikan,  industri perumahan baru akan pulih pada tahun 2010. 

Wacana resesi sudah mulai dilontarkan oleh para ekonom. Terutama bila terjadi gejolak harga bahan bakar minyak atau terjadi turbulensi financial market di dalam negeri.

Sebagian pengamat percaya, bahwa resesi dapat juga berarti pertumbuhan ekonomi AS yang flat  pada titik terendah hingga pemilihan presiden yang akan datang.

***** 

2 September 2007

   

Post a Comment