Thankyou, Ben.

Selasa kemarin, Federal Reserve memotong bunga antar bank dengan persentase yang sangat besar dalam 4 tahun terakhir. Suku bunga dipangkas sebesar 50 basis point, dari 5.25 persen  menjadi 4.75 persen.

Pasar saham bereaksi positif.  Dow Jones dilaporkan naik 335.97 point atau kenaikan sebesar 2.51 persen, suatu rekor kenaikan dalam satu hari dalam waktu lima tahun terakhir.

Sementara pasar saham Asia bereaksi serupa. Kerisauan para investor Asia terhadap pengaruh negatif  subprime mortgage crisis terhadap turbulensi perekonomian Amerika Serikat (AS), punah sudah. 

Indek di Nikkei  225 Jepang, naik sebesar 500.22 point atau kenaikan sebesar 3.17 persen.  Di Hongkong, kenaikan terjadi pada bursa blue chip Hang Seng sebesar 928.45 point atau 3.78 point.  Kenaikan juga dilaporkan di Korea Selatan, Korea Composite Stock Price dilaporkan naik 57.75 point atau 3.1 persen. Philipina Stock Exchange Index, naik sebesar 73.23 point atau 2.2 persen. Sementara Bombay Stock Exchange melaporkan kenaikan sebesar 396 point atau 2.5 persen.

Di Indonesia, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ), ditutup dengan kenaikan 3.28 persen atau kembali terangkat ke level 2.300.  Sementara Rupiah juga menguat 155 basis point menjadi Rp. 9.220 per dollar.  Diduga investor asing yang sebelumnya memarkir uang di AS kembali masuk ke Indonesia, karena suku bunga yang ditawarkan menjadi tidak menarik.

Bila Bank Indonesia (BI) tidak merevisi BI-rate, maka investor asing akan mengeruk keuntungan melalui perdagangan carry trade. Selisih tingkat bunga rupiah dan dollar AS akan sangat menarik, yaitu sebesar 3.25 persen.

Ancaman Inflasi

Setelah memotong suku bunga — the first cut in over four years –lalu tindakan apalagi yang akan dilakukan oleh The Fed ?

“Keputusan hari ini adalah untuk mencegah berbagai kekacauan di pasar finansial dan untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi secara moderat”, demikian statement yang dikeluarkan The Fed.

Tetapi diprediksi diperlukan waktu 3 sampai 6 bulan agar penurunan suku bunga bisa berpengaruh pada perekonomian AS secara keseluruhan.

Diperkirakan pertumbuhan ekonomi bulan Juli sampai dengan September hanya mencapai 2 persen, sedangkan prediksi pertumbuhan pada tiga bulan terakhir tahun ini bahkan lebih rendah lagi.

Tingkat pengangguran diperkiran mencapai 4.6 persen dan akan meningkat mencapai 5 persen pada akhir tahun. 

Sementara gempuran terhadap perekonomian AS masih terus berlangsung dengan naiknya harga minyak mencapai US $ 81 per barrel pada hari Selasa lalu.

“Ancaman inflasi semakin nyata”, kata Alan Greenspan dalam wawancara dengan The Associated Press pada hari Senin lalu. Alan Greenspan adalah mantan pemimpin The Fed sebelum digantikan oleh Ben Bernanke.

Sinyal merevisi suku bunga

Untuk sementara para businesman bisa bernapas lega. 

“Dengan melakukan tindakan penurunan suku bunga, Ben Bernanke telah melakukan tindakan secara gradual untuk menjauhkan ekonomi dari kehancuran. Pasien - ekonomi - sekarang ini sedang sakit flu berat dan anda tidak ingin berkembang menjadi penyakit pneumonia yang lebih parah”, kata Terry Connelly, dekan dari Golden Gate University’ Ageno School of Business.

“Respon awal dari pasar adalah : Thankyou, Ben”, kata Jerry Webman, dari Oppenheimer Funds Inc.

Tetapi yang jelas, The Fed sudah memberikan sinyal kepada para investor, bahwa The Fed telah mengambil tindakan yang positif untuk membantu kondisi pasar kredit  dan telah memberikan sentimen positif bagi para investor.

Dalam skema strategi inflation targeting, The Fed masih akan membuka kesempatan untuk merevisi suku bunga.  Ben Bernanke, diprediksi akan menjaga inflasi pada zone 1 - 2 persen pertahun dengan cara mengatur suku bunga.

***** 

 19 September 2007

Post a Comment