HARGA MINYAK DUNIA DAN HARGA BBM UNTUK INDUSTRI

October 31st, 2007

Sampai saat ini masih belum ada penjelasan yang memuaskan tentang alasan kenaikan tajam harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu.

Tapi, para analisis cenderung berspekulasi bahwa kenaikan harga minyak yang mencapai US $ 90 per barrel, disebabkan ketakutan akan terhambatnya suplai minyak dari ladang-ladang minyak di Irak Utara akibat rencana penyerbuan tentara Turki untuk membalas kematian 12 tentaranya oleh gerilyawan Kurdi.

Sampai saat ini ketegangan di perbatasan negara Turki dan Irak masih tetap tinggi. Ini berarti, spekulasi tentang kenaikan harga minyak dunia  akan tetap harus diwaspadai.

Kenaikan harga minyak hingga mencapai US $ 90 per barrel menimbulkan kecemasan baru terhadap prediksi harga minyak dimasa datang,  yang diperkirakan akan berada dalam range US $ 60 hingga US $ 120 per barrel. Ini berarti, peluang harga minyak menembus angka US$ 100 per barrel terbuka lebar.

Harga BBM Industri Naik. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Senin (22/10) lalu telah meminta perkembangan harga minyak dunia perlu diwaspadai.

Menko Perekonomian Budiono telah mengingatkan dampak negatif dari kenaikan harga minyak. “Kalau harga minyak meningkat, ini tentunya kita perlu waspadai dampak terhadap industri dalam negeri, terhadap cost yang meningkat”, ungkapnya setelah melakukan pertemuan dengan dengan presiden SBY pada hari Senin (22/10).

Ini kelihatannya sejalan dengan rencana Pertamina untuk menaikkan harga minya industri dan non subsidi yang berkisar diangka Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang.

“Semua jenis bahan bakar minyak untuk industri seperti premium, solar, minyak tanah, serta pertamax akan mengalami penyesuaian. Persentasenya belum ditetapkan, tetapi mungkin sekitar Rp. 200,00 per liter,” ungkap Dirut Pertamina Ari Sumarsono di Kantor Pusat Pertamina di Jakarta pada Senin (22/10). 

Kenaikan harga minyak industri sebesar Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang  akan memberatkan dunia industri. 

Dalam jangka panjang, fluktuasi harga minyak dunia masih berpeluang terjadi. Sudah saatnya pemerintah mulai serius untuk menangani program energi alternatif, sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

***** 

24 Oktober 2007   

HARGA MINYAK : SEKARANG US $ 93 PER BARREL, SELANJUTNYA US $ 100 PER BARREL

October 31st, 2007

“Please don’t blame us for $93 oil”, kata Menteri Perminyakan Qatar Abdullah al-Attiyah saat berlangsungnya konferensi menteri-menteri perminyakan OPEC hari Selasa 30 Oktober 2007.

Bahkan menurut Presiden OPEC, yang juga menteri perminyakan UAE Dhaen al-Hamli, pergerakan harga minyak sudah diluar kemampuan control OPEC.  “The market is increasingly driven by forces beyond OPEC’s control, by geopolitical event and the growing influence of financial investor”.

Pada pertemuan tersebut, anggota-anggota OPEC setuju untuk menambah jumlah produksi sebesar 500,000 barrel per hari.  Tapi kelihatannya ini belum mencukupi kebutuhan akan minyak yang jumlahnya lebih besar dari pada pasokan yang tersedia.

US $ 100 per Barrel pada Akhir Tahun 2007

Bila U.S. Federal Reserve jadi memotong suku bunga pada hari Rabu besok, para analis memprediksikan akan semakin melemahkan nilai tukar dollar.  Ini menjadi salah satu penyebab pemicu naiknya  harga minyak ketingkat yang lebih tinggi.

Menurut Jochen Hitzfelt dari HVB Jerman, kondisi stagnan produksi minyak dunia versus permintaan yang terus meningkat akan menyebabkan harga minyak akan terus naik.

“The $ 100 mark is likely to be tested by end-2007″, katanya.

Dilain pihak, harga minyak juga masih rentan terhadap isu pertempuran antara Turki dan pemberontak Kurdi yang berbasis di Irak, serta isu konflik antara AS dengan Iran-penghasil minyak nomor empat dunia.

***** 

30 Oktober 2007

HARGA MINYAK DUNIA DAN DOLLAR AS

October 19th, 2007

Harga minyak dunia mencapai rekorUS $ 90 per barrel pada hari Kamis 18 Oktober 2007, sementara Dollar AS mengalami mengalami tekanan jual sehingga terus melemah terhadap Euro dan Yen Jepang.

Pada perdagangan hari Kamis,  Euro menguat ke level  1,4296 dollar dibandingkan sebelumnya hanya mencapai 1,4283 dollar pada tanggal 1 Oktober 2007.  Dollar AS juga melemah terhadap Yen Jepang ke posisi 115,62 dibandingkan sebelumnya mencapai 116,57 yen. 

Diprediksi Mencapai AS $ 150 per Barrel

Para analisis menilai bahwa kondisi fundamental dari suplay dan demand tidak mendukung  naiknya harga minyak hingga mencapai AS $ 90 per barrel.

“Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah akibat dollar yang terus melemah terhadap Euro”, kata  James Cordier, presiden Liberty Trading Group di Tampa.  

Sementara itu, Lord Oxburgh, mantan pemimpin Shell,  dalam wawancara dengan The Independent bulan September lalu, bahkan telah mengingatkan kemungkinan harga minyak akan mencapai AS $ 150 per barrel.

Kenaikan harga minyak, menurutnya disebabkan oleh adanya gap  demand yang selalu lebih besar daripada  suplay.  “Bila tidak ada alternatif energi lain, maka harga minyak akan berkisar pada harga yang paling atractive bagi industri perminyakan, yaitu antara AS $ 100 hingga  $ 150 per barrel.

Peluang Diturunkannya Kembali Suku Bunga The Fed 

Ditengah melambatnya perekonomian AS sebagai efek dari krisis subprime mortgage, diprediksi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2007 hanya mencapai 1.9 persen, sama dengan prediksi pertumbuhan pada tahun 2008 (bandingkan dengan pertumbuhan tahun 2006 yang mencapai 2.9 persen).

Keterpurukan industri perumahan, yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi AS, diprediksi belum pulih, ditambah dengan meroketnya harga minyak dan lemahnya nilai dollar terhadap Euro, diperkirakan akan menjadi alasan The Fed untuk kembali memotong suku bunga antar bank.

***** 

 19 Oktober 2007