MODELLING FINANCIAL RISK BERDASARKAN HARGA MINYAK DUNIA
December 5th, 2007 at 3:20 pm (EKONOMI)
Bagi industri dengan import content yang tinggi, kenaikan harga minyak dunia akan menyebabkan kenaikan harga-harga raw material yang diimport. Hal ini wajar, karena biaya-biaya produksi di negara-negara produsen akan turut meningkat sejalan dengan naiknya harga minyak dunia.
Selain itu, kenaikan harga minyak juga akan menyebabkan kenaikan ocean freight rate. Kenaikan ocean freight rate diperkirakan secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan kenaikan biaya pengadaan raw material tersebut.
Bahkan harga raw material yang disuplai oleh suplier lokal, juga akan turut meningkat bila raw material tersebut berupa produk import setengah jadi yang harus melalui pengolahan atau pengemasan ditingkat suplier sebelum dikirim ke kalangan industri.
Sementara kenaikan harga minyak dunia, akan menyebabkan pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM, bila harga minyak sudah berada jauh diatas harga asumsi APBN.
Pengurangan subsidi BBM bisa dilakukan dengan cara menaikkan langsung harga BBM atau dengan membatasi jumlah pemakaian BBM ditingkat masyarakat. Alternatif pertama, kelihatannya merupakan pilihan yang sangat tidak populer bagi pemerintah. Pemerintah cenderung untuk menjalankan alternatif kedua, yaitu dengan melakukan pembatasan pemakaian BBM dalam negeri. Misalnya, pemilik mobil pribadi didorong untuk menggunakan BBM non subsidi seperti Pertamax.
Harga BBM Industri yang masuk kedalam katagori BBM non subsidi dipastikan akan naik mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.
Disini industri harus menghitung ulang biaya produksi. Kalangan industri yang mempunyai basis import content yang tinggi seperti kena hantaman stroke yang berulang. Pertama, terkena dampak kenaikan harga raw material, akibat kenaikan biaya produksi di negara-negara produsen. Kedua, menerima imbas dari kenaikan ocean freight rate. Ketiga, disengat oleh harga BBM non subsidi yang mengikuti harga minyak dunia. Ke empat, mendapat tuntutan kenaikan UMR. Naiknya harga-harga kebutuhan pokok karyawan disebabkan naiknya harga-harga sembako sebagai akibat naiknya harga BBM non subsidi. Kelima, bagi industri yang melakukan ekspor, ocean freight rate akan berpengaruh langsung bagi harga jual produknya, terutama produk yang dijual secara CFR.
Harga Minyak Dunia Cenderung Terus Meningkat
Harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat. Fundamental yang menyebabkan kenaikan harga minyak didasarkan pada :
1. Cadangan minyak dunia (merupakan sumber energi yang tidak terbarukan) akan semakin terbatas dan bahkan cenderung terus berkurang.
2. Permintaan terhadap minyak dunia semakin lama cenderung semakian meningkat.
Dengan demikian fluktuasi harga minyak dunia sangat peka terhadap isu-isu geopolitik. Misalnya, isu ketegangan politik antara pemerintah Turki dengan gerilyawan Kurdistan yang berbasis di Irak Utara alngsung menyebabkan kenaikan harga minyak dunia mencapai US $ 93 per barrel pada akhir Oktober 2007 (note : Irak adalah negara penghasil minyak no : 4 dunia).
Demikian pula isu terbatasnya cadangan minyak di Amerikan Serikat yang di-release oleh EIA (Energy Information Administration - bagian dari Department of Energy AS) langsung memicu kenaikan harga minyak menjadi US $ 97 per barrel pada awal Nopember 2007. Dalam laporan bulanannya yang di-release EIA (Short Term Energy Outlook) dilaporkan bahwa kenaikan harga minyak disebabkan oleh : “Strong demand, limited surplus capacity, falling inventory and geopolitical concern”.
Para ekonom bahkan sudah berani memprediksi harga minyak dunia akan mencapai US $ 100 per barrel pada akhir tahun 2007. Bahkan mereka memprediksi harga minyak akan berada pada kisaran US $ 120 - 150 per barrel pada tahun-tahun yang akan datang.
Modelling Financial Risk Analysis
Dari latar belakang di atas, disarankan pada kalangan industri untuk memulai membuat suatu model Financial Risk Analysis yang berbasiskan pada kenaikan harga minyak dunia.
Tujuannya adalah untuk melihat pengaruh harga minyak dunia terhadap resiko finansial yang akan diterima oleh industri.
Beranjak dari hipotesa bahwa semakin tinggi kenaikan harga minyak akan menyebabkan COP dan COGS akan terus meningkat, hingga pada suatu titik kenaikan harga minyak akan menyebabkan tingkat laba yang diperoleh akan semakin kecil dan bahkan menjadi tidak menarik.
Dengan modelling ini, akan dapat diketahui : pada titik kenaikan harga minyak berapa, suatu industri masih bisa beroperasi secara menguntungkan atau bahkan lebih menguntungkan bila operasi tersebut justru dihentikan.
Tetapi yang paling penting, dengan modelling ini, pihak board of director bisa lebih mempersiapkan strategi kebijakan lebih awal sebelum resiko terburuk menjadi kenyataan.
******
5 Desember 2007