THE THINGS THEY CARRIED - KENANGAN SANG PRAJURIT, TIM O’BRIEN

April 30th, 2008

Jujur saja, pertama kali saya mendapatkan buku ini karena terdapat tulisan kecil dikulit buku :  “Karya fiksi yang menggetarkan jiwa dan ditulis dengan indah” - THE ASSOCIATED PRESS.

Waktu itu saya berpikir, apakah mungkin cerita perang di Vietnam ditulis sebagai karya sastra ? Cerpen The Things They Carried ternyata mendapat penghargaan National Magazine Award, sedangkan novelnya sendiri yang diterbitkan pada tahun 1990 dipilih oleh para editor New York Time Book Review sebagai buku terbaik tahun itu.

Tim O’Brien, si penulis buku ini, menumpahkan pengalaman perangnya di Vietnam sebagai anggota dari prajurit Alpa Company bukan dalam bahasa teknis perang, tetapi dituturkan dalam bahasa yang indah dan kelihatannya ditulis dengan jiwa-nya.

Di dalam buku ini, tidak akan ditemui tentang taktik perang seperti strategi pertempuran anti gerilya yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan tentara VC (Vietcong - sebutan untuk pihak tentara komunis).

Tidak ada taktik regu atau peleton dalam melakukan penyergapan atau taktik pertempuran jarak pendek yang biasa dihadapi dalam perang di Vietnam.

***** 

Buku The Things They Carried -Kenangan Seorang Prajurit, yang diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, berisi 22 cerita pendek. Cerpen yang tampil dihalaman pertama tentu saja dengan judul : The Things They Carried, yang diterjemahkan menjadi : Barang Bawaan Mereka. 

Awal keterlibatan Timmy dalam perang yang kelam itu ditemui dalam cerpen yang berjudul : Di Sungai Rainy.

Pada cerpen ini, Timmy menceritakan tentang pergulatan hatinya ketika mendapatkan surat  panggilan wajib militer. 

“Perang bukan levelku. Dunia sudah ada dalam genggamanku - siswa terbaik di kelas, predikat summa cum laude, ketua organisasi kemahasiswaan, dan beasiswa penuh untuk pascasarjana di Harvard”.

“Aku ingat amarah yang berkecamuk dalam perutku, yang kemudian mereda menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan lalu mati rasa”.

Diceritakan, untuk menghindari wajib militer,  akhirnya Timmy kabur ke perbatasan Kanada. Selama enam hari, Timmy mengalami pergolakan batin hebat antara menyeberang ke Kanada atau kembali ke kota asal untuk mengikuti wajib militer.

Selama enam hari Timmy tinggal disebuah pondokan Tip Top Lodge, bertemu dengan pemilik pondokan Elroy Berdahl, orang tua yang arif.

Pada hari ke enam, Elroy mengajak Timmy berperahu untuk memancing di sungai Rainy yang berbatasan dengan Kanada. Tim menulis dalam cerpennya :

“Aku ingat menatap Elroy, lalu menatap tanganku, lalu Kanada. Garis pantainya tampak penuh dengan semak dan pepohonan. Aku bisa melihat buah yang tumbuh di semak. Aku bisa melihat tupai di atas pohon birch dan burung gagak yang menatapku dari batu besar di tepi sungai. Begitu dekat - dua puluh meter - dan aku bisa melihat jalinan rumit dedaunan, tekstur tanahnya, buah pohon pinus yang cokelat. Dua puluh meter. Aku bisa saja melompat dan berenang demi mencari kehidupannya. Dalam tubuhku, dalam dadaku, aku merasakan tekanan yang amat kuat. Bahkan sekarang, saat menuliskan ini, aku masih bisa merasakan tekanan itu.

Apa yang akan kau lakukan ?

Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis perlahan, bukan tangisan keras, hanya menangis tersedu-sedu. Sepertinya dari semua tempat, dari pohon, air dan langit, kepiluan sebesar dunia sedang menekanku, kepiluan yang berat.

Aku mencoba membulatkan tekadku untuk meloncat keluar perahu.

Aku mencoba, tak bisa.

Itulah yang paling menyedihkan. Dan demikianlah aku duduk di haluan perahu sambil menangis.

Tangisanku sekarang menjadi tangis yang keras dan nyaring”.

*****

The Things They Carried, kisah master piece dalam buku itu bertutur tentang barang bawaan para prajurit ketika melakukan operasi tempur. Selain membawa perlengkapan militer, ternyata mereka membawa beban lainnya.

“Mereka membawa semua beban emosional sebagai orang yang mungkin akan mati. Kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan-semuanya tak bisa dilihat, tapi semua hal yang tidak nyata itu punya masa dan berat jenis sendiri, semuanya punya berat yang bisa dirasakan. Mereka membawa ingatan yang memalukan. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tidak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, atau sembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, karena beban ini tak perah bisa diletakkan. Beban ini menuntut kesimbangan dan postur tubuh yang sempurna. Mereka membawa reputasi mereka. Mereka membawa ketakutan terbesar seorang tentara, yaitu ketakutan untuk terlihat memalukan. Orang membunuh, dan juga mati, karena mereka malu untuk tidak membunuh. Inilah yang sebenarnya membawa mereka dalam peperangan, tak ada hal yang positif, bukan impian kebanggaan atau kehormatan, hanya untuk menghindari malu karena kehilangan kehormatan.

******

Perang tidaklah selalu tentang kengerian dan kekerasan. Terkadang beberapa hal boleh dikatakan tampak indah. Misalnya, aku masih ingat seorang bocah laki-laki berkaki plastik. Aku ingat bagaimana ia meloncat-loncat mendekati Azar, lalu minta sebatang cokelat - “GI nomor satu, ” kata si bocah - dan Azar tertawa sambil memberikan cokelatnya. Ketika bocah itu meloncat pergi, Azar berdecak dan berkata, ” Perang memang jahat.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Satu kaki, sunggu jahat. Orang yang menembaknya pasti kehabisan peluru”

Cerita ini akan ditemukan pada cerpen berjudul : Sisi Lain dari Perang.

***** 

Coba simak tulisan Timmy dalam cerpen yang lain : Bagaimana Cara Menceritakan Kisah Perang yang Sesungguhanya.

“Mungkin saja pada intinya, perang hanyalah nama lain untuk kematian. Namun, setiap tentara bisa bercerita - bila ia berkata jujur - bahwa kedekatan dengan kematian membawa pula kedekatan dengan kehidupan. Setelah tembak menembak sengit, selalu ada kepuasan luar biasa bahwa kita masih bisa merasakan hidup. Pohon yang hidup. Rumput, tanah- semuanya. Semua benda di sekeliling kita sungguh hidup, termasuk juga diri kita, dan perasaan hidup itu akan membuat kita gemetar. Kita merasakan keberadaan kuat jiwa raga kita-diri kita yang sejati, sosok manusa yang kita cita-citakan dan kemudian bisa kita wujudkan hanya dengan menginginkannya”.

*****

Tak berlebihan bila Peter S. Presscott dari Newsweek mengomentari buku ini  :

“…O’Brien telah menemukan gaya bercerita yang tepat untuk mengisahkan perang ini : gaya yang membeberkan begitu banyak perasaan, namun tidak cengeng dan tetap terjaga lewat tulisannya yang ringkas dan cukup banyak menampilkan penggalan kejadian yang jenaka ….”

***** 

30 April 2008  

BREAKING NEWS : SAATNYA BERUBAH !

April 24th, 2008

Penyerahan minyak mentah jenis Light untuk bulan Mei dilaporkan mencapai US $ 119.90 per barrel pada hari Selasa 22 April 2008. Ini berarti rekor baru kenaikan harga minyak mentah dunia.

Lagi-lagi alasan kenaikan harga minyak ini disebabkan oleh serangan fasilitas minyak di Nigeria. Alasan lain disebabkan oleh penolakan OPEC untuk meningkatkan produksi minyaknya dan turunnya nilai tukar US $ terhadap Euro.

Penyebab kenaikan harga minyak bukan diakibatkan oleh alasan fundamental, tetapi disebabkan oleh kekhawatiran terhadap kelangsungan suplai minyak. Alasan-alasan seperti ini, kemungkinan akan terus menghantui kenaikan harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi.

Bagi Amerika Serikat (AS), kombinasi naiknya harga minyak dan krisis subprime mortgage menyebabkan perekonomian negara adi daya itu terbenam dalam jebakan resesi ekonomi.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) melaporkan bahwa pada bulan Maret 2008 telah kehilangan 80.000 pekerjaan. Berarti sudah hampir seperempat juta pekerjaan telah lenyap di AS akibat krisis ekonomi sejak awal tahun 2008. Bahkan diprediksi, jumlah pekerjaan yang lenyap akibat krisis ini akan terus meningkat hingga bulan Agustus yang akan datang.

Regulasi Kendaraan Hemat Bahan Bakar

Pada Hari Bumi (Earth Day) lalu, pemerintah AS mengajukan suatu proposal untuk mengatur penggunaan bahan bakar oleh kendaraan.  Salah satu alasannya adalah untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar.

Sekretaris Departemen Transportasi Mary Peters menyatakan :” Proposal ini akan menolong kita untuk mengurangi kadar karbon dioksida dari asap knalpot mobil dan sekaligus memotong  konsumsi bahan bakar minyak”.

Dengan regulasi baru ini, maka secara rata-rata efisiensi bahan bakar akan mencapai 35 mil per gallon (mpg) pada tahun 2020. Target antara yang telah ditetapkan adalah bahwa pada tahun 2015 rata-rata kendaraan baru harus mencapai efisiensi 31.6 mpg. Detailnya adalah : mobil penumpang harus mencapai efisiensi 35.7 mpg sedangkan mobil jenis truk harus mencapai 28.6 mpg.

Dengan regulasi ini, maka diperkirakan bisa dihemat : 55 milyar gallon bahan bakar dan mereduksi 521 juta metrik ton  karbon dioksida dari langit Amerika Serikat.  

Regulasi ini juga mendorong industri mobil untuk lebih fokus terhadap pengembangan mobil berbahan bakar hibrid elektrik - bahan bakar minyak, kendaraan bermesin diesel dan kendaraan berbahan bakar ethanol.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Apakah pemerintah Indonesia akan mengikuti jejak Paman Sam untuk membuat rencana pengaturan efisiensi bahan bakar kendaraan hingga tahun 2020 ?

Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan pemerintah Indonesia harus menanggung subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang terus membengkak. Dilain pihak, pemerintah masih setengah hati untuk menaikan harga BBM.

Kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Ini berarti, keputusan menaikkan harga BBM adalah keputusan yang tidak populer dimata rakyat. Padahal, pemilu untuk memilih presiden akan digelar pada tahun 2009 nanti.

Keputusan untukmenahan kenaikan harga BBM kemungkinan besar akan diambil oleh pemerintah hingga tahun 2009 nanti. Pemerintah diprediksi tidak akan berani ambil resiko untuk menaikan harga BBM, hingga pemilu yang akan datang.

Bagaimana dengan rencana pembatasan pemakaian BBM bagi kendaraan yang akan dilaksanakan bulan Mei yang akan datang ? Kita berharap bisa berjalan mulus, diharapkan akan lebih baik lagi penanganannya daripada penanganan program penggantian minyak tanah dengan kompor gas 3 kg.

******

23 April 2008

HARGA BERAS, HARGA BATUBARA DAN KRISIS EKONOMI DUNIA

April 10th, 2008

Hari ini ada 3 berita yang menyesakkan perekonomian dunia, yang pada akhirnya akan menekan perekonomian Indonesia pada sisi jurang keterpurukan.

Berita pertama adalah tentang tingginya harga beras di Asia. Menurut David Ignatius - pengamat ekonomi dan kolumnis dari Washington Post menulis : masalah tingginya harga beras hanyalah masalah kecil.

Ada masalah yang lebih besar yang siap menghadang dihadapan mata. Bahaya baru itu bersumber dari adanya ancaman inflasi global - terutama disumbangkan oleh kenaikan harga makanan pokok, selain itu disumbangkan oleh raw material dan produk yang memakai energi bahan bakar dalam aktivitas produksinya.

Harga beras di pasar global dilaporkan telah meningkat dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini dilaporkan terjadi di beberapa penghasil beras dunia seperti Vietnam, India, Mesir dan Kamboja.

Pakistan dilaporkan sampai harus menurunkan pasukan untukmengamankan truk-truk pengangkut tepung gandum. Sementara di Indonesia dilaporkan mulai terjadi kelangkaan kacang kedelai, sedangkan di Cina, pihak pemerintah mulai mengontrol dengan ketat harga-harga minyak goreng, gandum, daging, susu dan telur. Kerusuhan-kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan, bahkan telah terjadi di  Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan dan Yemen.

Presiden World Bank, Robert Zoellick, telah mengingatkan ancaman bahaya ini saat bicara pada hari Selasa 2 April 2008.  Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

*****

Berita kedua bersumber dari laporan Detik Finance. PT BUMI Resources Tbk (BUMI) telah memproyeksikan  kenaikan harga batu bara di tahun 2008 akan mencapai US $ 70 per ton. Prediksi ini jauh diatas realisasi harga batu bara pada tahun 2007.

Jika dibandingkan dengan harga rata-rata batubara di tahun 2007 sebesar US $ 44 per ton, berarti kenaikan rata-rata batu bara tahun 2008 adalah sebesar 59 % (dari US $ 44 per ton menjadi US $ 70 per ton).

Kenaikan  harga batu bara  diakibatkan  adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand, terutama karena tidak adanya stok baru dari para produsen batu bara di dunia.

Kenaikan harga batu bara mencapai 59 % akan memukul perindustrian di Indonesia yang secara bertahap telah beralih ke sumber energi alternatif : batu bara. Kenaikan harga batu bara, diperkirakan akan menyebabkan kenaikan biaya produk. Pada akhirnya, kenaikan ini akan dibebankan pada harga jual.

Tidak ada jaminan bahwa harga batu bara akan turun atau akan tetap stabil. Dengan naiknya harga minyak dunia, maka batu bara akan semakin dilirik para pengusaha. Keseimbangan neraca suplay dan demand akan berubah. Sesuai dengan teori ekonomi, maka harga batu bara diperkirakan akan terus naik.

Bila harga batu bara terus meningkat, berarti biaya produksi akan meningkat, pada akhirnya harga jual produk akan meningkat. Yang menjadi pertanyaan adalah : apakah masyarakat sebagai konsumen mampu untuk menerima kenyataan bahwa harga-harga akan terus meningkat ?

*****

Tentang krisis ekonomi dunia, bulan lalu dilaporkan bahwa Standar & Poor’s memperkirakan bank di seluruh dunia akan melakukan write off sebesar 285 milyar dollar, sehubungan dengan permasalahan krisis Subprime di AS.

Sementara IMF memperkirakan bank di seluruh dunia akan mengalami kerugian sebesar 440 hingga 510 milyar dollar dari prediksi total kerugian sebesar 945 milyar dollar sebagai akibat krisis Subprime tersebut.

Kerugian-kerugian ini, menurut Jaime Caruana - kepala departemen Monetary dan Capital Market IMF, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi AS. Sedangkan bagi Eropa akan melihat adanya pengetatan ekonomi dan melambatnya pertumbuhan kredit dunia.

Jaime Caruana mengingatkan bahwa kehancuran kolektif (collective failure) telah diterima oleh semua pihak : pihak bank, asuransi, pemerintah, hedge fund.  Turmoil ini bukan lagi hal yang sederhana. Pengaruhnya akan lebih meng-global, lebih dalam dan lebih lama.

*****

Tugas pemerintahan SBY semakin berat. Pemerintah harus mensosialisasikan bahwa kenaikan harga bahan pangan dan harga bahan bakar adalah suatu kenyataan yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi diseluruh dunia.

Selain menekan harga bahan pangan, program kerja pembatasan pemakaian bahan bakar minyak tanah harus lebih terintegrasi. Selain menyadarkan masyarakat akan kenyataan pahit ini, pemerintah harus siap dengan alternatif bahan bakar pengganti, terutama kemudahan dalam mendapatkan pengganti bahan bakar minyak tanah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Satu tahun masa pemerintahan SBY akan berakhir. Satu tahun ini adalah masa kritis karena merupakan masa pembuktian apakah SBY masih bisa dipilih kembali ada pemilu 2009 ?

Saatnya pemerintahan SBY lebih memihak masyarakat kecil yang sekarang sedang terjepit dan terhimpit oleh kesulitan ekonomi.

Saatnya SBY untuk turun ketengah masyarakat miskin, berbicara dari hati ke hati dan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat miskin yang jumlahnya semakin banyak.

Dengarkan suara masyarakat kecil dan berikan perlindungan serta kedamaian bagi mereka !

*****

9 April 2008

MENYAMBUT INVESTASI LAMPUNG 2008

April 10th, 2008

Mungkin benar bahwa Lampung adalah sebuah propinsi yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, Lampung adalah pemasok gula pasir nasional hingga 35 %, lumbung padi nasional, penghasil kopi dan jagung utama  secara nasional. Pemasok sapi terbesar untuk wilayah Jawa dan Sumatera. Selain merupakan pengekspor udang beku terbesar di Indonesia ke berbagai negara dengan nilai ekspor yang tiap tahun terus meningkat, juga mengekspor nenas kaleng terbesar di Indonesia ke seluruh penjuru dunia. 

Lampung mempunyai potensi menghasilkan “energi masa depan”, yaitu bahan bakar biodiesel dan etanol. Biodiesel berasal dari kelapa sawit, sedangkan etanol berasal dari produk singkong dan tebu yang luas perkebunannya mencapai ratusan ribu hektar. Bahkan bila Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan dengan kapasitas 4 x 100 mega watt sudah beroperasi pada tahun 2009, kemungkinan besar Lampung menjadi pemasok listrik ke Sumatera Bagian Selatan.

Lampung merupakan daerah penyangga untuk DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Keuntungan geografis sebagai pintu gerbang Jawa dan Sumatera adalah menjadi urat nadi jalur lalu lintas barang ke Jawa maupun ke Sumatera. Salah satunya adalah menjadi titik penting dalam proses tranportasi batu bara untuk PLTU Suryalaya Banten yang dikirim lewat Tarahan (Lampung Selatan). Seharusnya, Lampung menjadi seperti propinsi Fujian di Cina yang menjadi zona industri Taiwan (Taiwan Industrial Zone).

Tapi kenyataannya berbicara lain, Lampung adalah propinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak kedua di Sumatera setelah propinsi Nangroe Aceh Darussalam - propinsi yang diluluh lantakkan oleh bencana tsunami.  

Kebangkitan Ekonomi di Propinsi Fujian

                                                                                                                                                                                                  Mungkin terlalu naif untuk membandingkan antara Propinsi Lampung dan Propinsi Fujian, tetapi kebangkitan ekonomi di Propinsi Fujian telah memberikan banyak pelajaran bagaimana cara pemerintah daerah propinsi tersebut dalam menarik investor asing.

Propinsi Fujian terletak di wilayah Cina yang dibatasi oleh selat  Formosa dengan Taiwan, sama halnya Propinsi Lampung yang dibatasi dengan selat Sunda dengan Propinsi Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Hingga saat ini Cina maupun Taiwan masih menghadapi konflik politik. Cina menganggap Taiwan sebagai salah satu propinsinya, sedangkan Taiwan telah menyatakan sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Tetapi nampaknya kepentingan ekonomi mengalahkan kepentingan politik. Presiden Cina, Hu Jiantao mengembangkan program yang dikenal oleh pihak barat sebagai program Zone Ekonomi Pantai Barat (Western Shore Economic Zone), dengan fokus konsentrasi diarahkan untuk menyerap investor dari Taiwan.

Strategi yang diterapkan antara lain menyingkap tabir permusuhan politik antara kedua belah pihak dengan cara membuka hubungan transportasi langsung, kerjasama pariwisata secara langsung, kerja sama bidang pertanian yang komprehensif dan  meningkatkan interaksi budaya. 

Setiap tahun paling tidak ada 8 event besar promosi pemerintah daerah Fujian, diantaranya bidang pariwisata, pertanian, tekstil, perdagangan dan kehutanan. Secara teknis, pemerintah daerah Fujian memberikan berbagai kemudahan diantaranya untuk mendapatkan visa bagi para pengusaha Taiwan untuk berkunjung ke Fujian.  Dengan berbagai kemudahan ini, maka para businessman dari Taiwan bisa bebas menginvestasikan dananya ke propinsi Fujian yang notabene masih mengalami konflik politik. Tidak aneh bila seorang pemimpin perusahaan dari Taiwan bisa berjabat tangan dengan presiden Cina, seperti halnya pemimpin perusahaan Ming-Da Photonics, produsen alat elektronik, Tung Sheng-nan sudah tiga kali berjabat tangan dengan Presiden Cina Hu Jintao. Sesuatu hal yang muskil dilakukan oleh para pemimpin politik kedua negara. 

Sama halnya di Indonesia, pungli dan korupsi pernah menjadi masalah pelik bagi propinsi Fujian. Tetapi berbeda dengan Indonesia, di Cina para koruptor diganjar sanksi keras berupa hukuman mati. Kasus korupsi yang mencuat diantaranya kasus Yuanhua Group. Yuanhua didakwa terlibat dalam berbagai tindakan kejahatan dari penyelundupan mobil, barang-barang mewah, bahan bakar dan berbagai barang yang diperkirakan telah merugikan  negara mencapai  $ 4 milyar AS. Setelah dilakukan penyelidikan yang melibatkan petugas kepolisian yang sengaja direkrut dari luar propinsi tersebut, lusinan pejabat pemerintah daerah yang terlibat dalam kasus Yuanhua akhirnya mendapat hukuman yang setimpal :  ditembak mati.  

Scanning Capability

Salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang berarti mengurangi kemiskinan dan pengangguran adalah membuka lebar pintu investasi. Tetapi kondisi sekarang terlihat sulit untuk mengharapkan investor untuk menanamkan modal secara langsung, para investor cenderung untuk memarkir modalnya di SUN atau SBI. Kondisi ini dikritisi oleh Wapres Yusuf Kalla ketika memberikan sambutan di Pusat Pendidikan Manajemen (PPM) Jakarta bulan Desember 2007 silam. “Kalau bangsa ini tidak mau menanggung risiko (investasi) jangan ajak orang lain (investor asing) menanggung resiko kita”.

Bahkan pada hari Kamis (9/8/2007) di Semarang saat memberikan sambutan pada acara program Semarang Pesona Asia, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono (SBY) telah meminta kepala daerah untuk bekerja secara maksimal agar bisa bersaing ditingkat global. Investor asing diharapkan menamankan modal dan akhirnya memberi kesejahteraan kepada pemerintah dan masyarakat.

Mengundang investor asing, berarti harus memahami karakteristiknya. Investor sebagaimana halnya businessmen menginginkan maximize profit dalam jangka pendek atau mendapatkan return yang rendah tetapi mendapatkan jaminan keuntungan dalam jangka panjang (long term capital gain).

Investor asing tidak saja menginginkan rendahnya biaya material dan upah buruh, mudahnya mendapatkan permodalan yang murah dan tersedianya transportasi yang murah dan mudah dijangkau, tetapi juga menginginkan longgarnya regulasi dari pemerintah setempat. Investor asing seolah-olah mempunyai scanning capability untuk membandingkan peluang (opportunity) dan potensi kendala (problem), yang didapat dari suatu negara dengan negara lain.

Kondisi ini menyebabkan negara yang menginginkan investasi asing masuk, seakan-akan berkompetisi untuk menarik investor dengan menawarkan berbagai kemudahan.

Ekspektasi keuntungan yang diperoleh suatu negara dengan adanya investor asing adalah : memecahkan masalah pengangguran dengan terbentuknya lapangan kerja baru, masuknya teknologi baru sebagai upaya mengurangi teknologi gap, mendapatkan tax revenue, memanfaatkan sumber daya alam, dan keuntungan bangkitnya investor domestik sebagai akibat multiplier effect. 

Kompetisi Global

Timbul pertanyaan, mengapa disuatu daerah (negara) banyak dipilih oleh investor asing sedangkan di daerah (negara) lain tidak?

Investor asing ternyata mempunyai strategic planning sebelum melakukan investasi ke suatu daerah. Dengan kemajuan teknologi informasi, investor asing bisa membandingkan keunggulan spesifik (specific advantages) suatu daerah dengan daerah lain atau bahkan suatu daerah di suatu negara dengan daerah di negara lain. Misal, membandingkan propinsi Lampung dengan salah satu propinsi di Vietnam. Biasanya yang dibandingkan adalah ketersediaan bahan baku (raw material) dan  ketersediaan serta pertumbuhan pasar domestik (domestic market).

Selain membandingkan kemudahan yang didapat juga membandingkan hambatan (barrier) dalam melakukan investasinya. Investor bisa saja membandingkan kemudahan dalam pengajuan rencana investasi di propinsi Lampung dengan kemudahan propinsi lain di Indonesia yang telah lebih dahulu menjalankan program peningkatkan kualitas pelayanan publik. Peningkatan pelayanan publik biasanya berkonotosi memangkas alur birokrasi, sehingga proses pengajuan berkas investasi menjadi lebih pendek dan efisien.

Selanjutnya, investor asing membandingkan teknologi yang tersedia, ketersediaan tenaga kerja yang produktif dan murah, fasilitas transportasi dan sistem informasi yang tersedia, ketersediaan energi listrik, tersedianya kawasan berikat untuk produk ekspor yang memberi fasilitas bebas pajak dan bebas pungutan lainnya, serta kemudahan akses untuk menembus pasar regional yang lebih luas.

Akhir-akhir ini, kriteria tingginya upah tenaga kerja (high labor cost) dan kepastian hukum - terutama terhadap  kepemilikan lahan usaha  menjadi catatan tersendiri bagi para investor. Secara teoritis, upah tenaga kerja pada industri manufactur biasanya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor jasa dan pertanian. Ini menjadi dilema, karena investor asing mempunyai informasi yang kuat untuk membandingkan besaran upah disuatu negara dengan negara lain. Bila, upah dirasakan tidak kompetitif lagi, maka terjadilah suatu fenomena “deindustrialisasi”, yaitu pengalihan industri dari suatu negara dengan upah tenaga kerja yang tinggi ke suatu negara dengan upah tenaga kerja yang rendah.            

Secara ekstrim, pendekatan yang direkomendasikan oleh Washington Consensus bisa dipertimbangkan, walaupun banyak kritik yang mengatakan bahwa inti dari Washington Consensus adalah liberasasi perdagangan. Beberapa diantaranya : disiplin fiskal, pajak yang rendah, libralisasi finansial, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi asing secara langsung, privatisasi, deregulasi aturan mengenai ketentuan keluar masuk barang, dan kepastian property right.

Untuk pemerintah Indonesia, seperti yang banyak disarankan oleh ekonom adalah : kordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menyusun regulasi sehingga tidak tumpang tindih, standar regulasi ketenagakerjaan yang fair, penyederhanaan jalur birokrasi dan upaya yang serius terhadap pemberantasan korupsi. 

*****

 Diterbitkan pertama kali di www.dimastidano.wordpress.com tgl 24 Januari 2008