Harga Minyak Dunia Diprediksi Mencapai US $ 150 per Barrel pada Tahun ini

May 22nd, 2008

Harga minyak dunia bereaksi mencapai rekor baru US $ 130.47 per barrel untuk minyak jenis Light, sweet crude untuk penyerahan bulan Juni di bursa perdagangan elekrtonik New York Merchantile Exchange.

Kenaikan ini dipicu oleh ketakutan akan suplay minyak jangka panjang dan inventory  minyak di dalam negeri AS dalam jangka pendek berkurang. Tetapi sebagian analis berpendapat kenaikan harga minyak disebabkan juga oleh turunnya nilai dollar.

Pada hari Rabu ini US dollar diperdagangkan pada 103.62 yen, turun dibawah range 104 -105 dibandingkan minggu lalu.  Sementara Euro naik menjadi $1.5735 pada siang hari di Eropa, sedangkan di New York, dollar jatuh satu persen pada perdagangan  Selasa sore menjadi $1.5669.

Menurut Sekretaris Jenderal OPEC Abdullah al-Badri, lemahnya dollar merupakan salah satu faktor yang mendorong naiknya harga minyak. Walaupun Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya, tetapi negara-negara anggota OPEC lainnya justru menurunkan produksi minyaknya.

Harga Minyak akan Mencapai US $ 150 per barrel

T. Boone Pickens,  founder dan pimpinan BP Capital LLC mengatakan di jaringan televisi CNBC, bahwa harga minyak akan mencapai US $ 150 per barrel  pada tahun ini, akibat dari suplay yang tidak bisa memenuhi permintaan.

Picken menjelaskan bahwa prediksi kenaikan harga minyak tersebut disebabkan oleh terbatasnya produksi minyak secara global dan kebutuhan Cina yang kuat akan minyak.

Gempa bumi yang melanda Cina pada 15 Mei lalu menyebabkan hancurnya infrastruktrur tenaga listrik dan menghancurkan jaringan transportasi batubara.  Akibat gempa bumi yang dahsyat, Cina kekurangan pasokan batubara, untuk menutupinya maka Cina memerlukan suplai minyak.

Ancaman Presiden George W. Bush terhadap fasilitas nuklir Iran, bahkan menurut laporan dari media masa di Israel, AS akan melakukan operasi militer terhadap fasilitas nuklir Iran pada beberapa bulan kedepan diperkirakan akan menjadi alasan bagi naiknya harga minyak dikemudian hari.

Padahal Iran adalah produsen minyak terbesar kedua di dunia, sementara seperempat suplai minyak dunia dialirkan melalui Selat Hormuz, yang merupakan wilayah terdekat dengan Iran. Serbuan AS terhadap fasilitas Nuklir Iran, diperkirakan akan menyebabkan suplai minyak akan jauh berkurang, sehingga akan memicu kenaikan harga minyak dunia ke rekor harga minyak yang lebih tinggi.

******

21 Mei 2008

KENAIKAN HARGA BBM : DANCING WITH RISK

May 13th, 2008

Presiden SBY pada hari Senin 5/5 di Istana Negara mengatakan tentang resiko kenaikan harga BBM di depan para pemimpin redaksi, “Selalu ada resiko, ya politik, sosial dan keamanan”.

Kenaikan harga BBM sudah demikian mendesak, bukan lagi kapan tetapi berapa persen kenaikan yang dapat diterima oleh masyarakat.

Presiden SBY mengatakan : ” Tapi naik berapa. Apakah naik 20, 25, 30 atau 35 persen”.

Kenaikan harga BBM kelihatannya akan sulit dihindari. Pada Rabu 7/5 kemarin dilaporkan telah mencapai rekor baru US $ 123.93 per barrel untuk jenis Light, sweet crude untuk penyerahan Juni di pasar New York Merchantile Exchange.

Kenaikan harga minyak ini ternyata merupakan kelanjutan dari rekor harga minyak US $ 120 per barrel pada minggu lalu, akibat informasi dari The Energy Departement Energy Information Administration tentang  turunnya cadangan BBM di Amerika Serikat.

Para analis mengatakan bahwa harga minyak cenderung akan terus melakukan rally.  “Ini menunjukkan bahwa kondisi pasar …tidak menunjukan adanya kecenderungan bearish, ” kata Phil Flyin, analis dari Alaron Trading Corp seperti yang dikutip oleh AP.

Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa penguatan dollar AS ternyata tidak menolong bagi penurunan harga minyak.  Tetapi dilain pihak, menurunnya nilai tukar dollar AS  terhadap euro dan mata uang asing lainya menyebabkan harga minyak meningkat. Kejadian kenaikan harga minyak hingga mencapai rekor terbaru ini justru terjadi pada saat dollar AS menguat.

Dancing with Risk

Pemerintah pasti belajar dari sejarah kenaikan harga BBM pada tahun 2005 lalu, bahwa kenaikan harga BBM akan memukul perekonomian rakyat. Kenaikan harga BBM akan mempengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah bawah seperti buruh, pekerja sektor informal, petani, nelayan.

Menurut pengamat ekonomi Dr. Hamonangan Ritonga, kenaikan BBM tahun 2005, menyebabkan inflasi pada tahun itu mencapai 17.3 %. Dari inflasi sebesar 17.3 %, 10 % diantaranya merupakan dampak kenaikan BBM, sedangkan 7 % merupakan dampak faktor lainnya. Akibat kenaikan BBM tahun 2005, diperkirakan jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 50 juta orang pada bulan Maret 2006, jauh bila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin tahun 2004 yang mencapai 36.1 juta orang.

Kenaikan harga BBM secara langsung mempengaruhi kenaikan harga-harga barang lain.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM pada bulan Maret 2005 menyebabkan kenaikan harga barang pada jenis barang : padi, sayuran, hasil ternak, perikanan laut, minyak goreng, beras, gula, pertambangan, pupuk, industri baja, listrik, gas, air bersih, konstruksi, perdagangan, restoran, hotel, angkutan kereta api, angkutan darat, pelayaran, angkutan air, angkutan udara, komunikasi, keuangan dan jasa-saja lain. Kenaikan tertinggi terjadi pada angkutan darat, angkutan air, pelayaran, angkutan kereta api dan angkutan udara.

Untuk mengurangi beban rakyat miskin, pemerintah berencana memberikan kompensasi diantaranya melalui program : Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), dan bantuan tunai langsung. Perlu disadari bahwa program kebijakan kompensasi terhadap masyarakat miskin bukanlah suatu program pengentasan kemiskinan. Pengalaman pada waktu lalu mengatakan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan kenaikan barang secara permanen, sedangkan program kompensasi terhadap masyarakat miskin relatif terbatas dalam jumlah dana yang disiapkan dan dilaksanakan dalam waktu yang terbatas pula.

Tetapi perlu diperhitungkan juga bahwa kenaikan harga BBM tetap akan menimbulkan keresahan dan mungkin penolakan. Resiko terbesar yang akan dihadapi adalah terhadap perolehan suara bila Presiden SBY mencalonkan diri pada Pemilu 2009. Kenaikan harga minyak akan menyebabkan turunnya popularitas Presiden SBY.

Kampanye Gerakan Berhemat

Presiden SBY bisa saja memulai kampanye Gerakan Berhemat dengan cara yang elegan. Misal melakukan kunjungan tidak menggunakan pesawat kepresidenan, tetapi menggunakan pesawat komersil seperti yang dilakukan oleh seorang presiden dari benua Afrika beberapa tahun lalu.

Tapi yang paling diharapkan masyarakat banyak, Presiden SBY mulai banyak menggiatkan pertemuan, mendengarkan keluhan dan memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat kecil. Presiden harus menjadi contoh dalam melakukan penghematan secara nyata, dalam arti masyarakat melihat keteladanan  dalam melakukan penghematan secara riil, bukan dari sekedar retorika belaka.

*****

8 Mei 2008

JUNI 2008, KENAIKAN HARGA BBM ?

May 1st, 2008

Akhirnya, pemerintah tergoda untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).  Antara melaporkan rencana kenaikan BBM sekitar 28,7 % pada bulan Juni 2008.

Premium akan naik dari Rp. 4.500 per liter menjadi Rp. 6.000 per liter, solar naik dari Rp.4.300 per liter menjadi Rp. 5.500 per liter, sedangkan minyak tanah naik dari Rp. 2.000 per liter menjadi Rp. 2.300 per liter.

Asumsi yang Digunakan 

Dalam laporannya, Depkeu menggunakan asumsi nilai tukar Rp. 9.000 per dolar AS, SBI 3 bulan 8,5 persen, harga minyak Indonesia 110 dolar AS per liter, lifting minyak 927.000 barel per haril, konsumsi BBM 35,9 juta kiloliter.

Dengan kenaikan harga BBM tersebut, maka pendapatan negara dan hibah pada tahun 2008 akan menjadi Rp. 936,3 triliun, sedangkan rencana belanja negara sebesar Rp. 1.022,6 triliun, sehingga akan ada defisit Rp. 86,3 triliun atau 1,9 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

Inflasi bisa ditekan pada 11,1 persen dan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6.4 persen, dengan rasio penduduk miskin menjadi 14,2 persen.

Harus Realistis

Sudah dapat diduga, kenaikan harga BBM yang mencapai 28.7 persen akan mendapat tentangan dari masyarakat, mengingat kenaikan BBM biasanya akan memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga BBM akan memukul perekonomian masyarakat kecil.

Pada kondisi ekonomi global yang sedang dilanda krisis, apakah realistis bila pemerintah tetap mempertahankan  pertumbuhan 6,4 persen ? 

Perlu dipertimbangkan kenaikan harga BBM yang lebih realistis diterima oleh masyarakat banyak.

******

30 April 2008

BREAKING NEWS : SAATNYA BERUBAH !

April 24th, 2008

Penyerahan minyak mentah jenis Light untuk bulan Mei dilaporkan mencapai US $ 119.90 per barrel pada hari Selasa 22 April 2008. Ini berarti rekor baru kenaikan harga minyak mentah dunia.

Lagi-lagi alasan kenaikan harga minyak ini disebabkan oleh serangan fasilitas minyak di Nigeria. Alasan lain disebabkan oleh penolakan OPEC untuk meningkatkan produksi minyaknya dan turunnya nilai tukar US $ terhadap Euro.

Penyebab kenaikan harga minyak bukan diakibatkan oleh alasan fundamental, tetapi disebabkan oleh kekhawatiran terhadap kelangsungan suplai minyak. Alasan-alasan seperti ini, kemungkinan akan terus menghantui kenaikan harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi.

Bagi Amerika Serikat (AS), kombinasi naiknya harga minyak dan krisis subprime mortgage menyebabkan perekonomian negara adi daya itu terbenam dalam jebakan resesi ekonomi.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) melaporkan bahwa pada bulan Maret 2008 telah kehilangan 80.000 pekerjaan. Berarti sudah hampir seperempat juta pekerjaan telah lenyap di AS akibat krisis ekonomi sejak awal tahun 2008. Bahkan diprediksi, jumlah pekerjaan yang lenyap akibat krisis ini akan terus meningkat hingga bulan Agustus yang akan datang.

Regulasi Kendaraan Hemat Bahan Bakar

Pada Hari Bumi (Earth Day) lalu, pemerintah AS mengajukan suatu proposal untuk mengatur penggunaan bahan bakar oleh kendaraan.  Salah satu alasannya adalah untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar.

Sekretaris Departemen Transportasi Mary Peters menyatakan :” Proposal ini akan menolong kita untuk mengurangi kadar karbon dioksida dari asap knalpot mobil dan sekaligus memotong  konsumsi bahan bakar minyak”.

Dengan regulasi baru ini, maka secara rata-rata efisiensi bahan bakar akan mencapai 35 mil per gallon (mpg) pada tahun 2020. Target antara yang telah ditetapkan adalah bahwa pada tahun 2015 rata-rata kendaraan baru harus mencapai efisiensi 31.6 mpg. Detailnya adalah : mobil penumpang harus mencapai efisiensi 35.7 mpg sedangkan mobil jenis truk harus mencapai 28.6 mpg.

Dengan regulasi ini, maka diperkirakan bisa dihemat : 55 milyar gallon bahan bakar dan mereduksi 521 juta metrik ton  karbon dioksida dari langit Amerika Serikat.  

Regulasi ini juga mendorong industri mobil untuk lebih fokus terhadap pengembangan mobil berbahan bakar hibrid elektrik - bahan bakar minyak, kendaraan bermesin diesel dan kendaraan berbahan bakar ethanol.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Apakah pemerintah Indonesia akan mengikuti jejak Paman Sam untuk membuat rencana pengaturan efisiensi bahan bakar kendaraan hingga tahun 2020 ?

Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan pemerintah Indonesia harus menanggung subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang terus membengkak. Dilain pihak, pemerintah masih setengah hati untuk menaikan harga BBM.

Kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Ini berarti, keputusan menaikkan harga BBM adalah keputusan yang tidak populer dimata rakyat. Padahal, pemilu untuk memilih presiden akan digelar pada tahun 2009 nanti.

Keputusan untukmenahan kenaikan harga BBM kemungkinan besar akan diambil oleh pemerintah hingga tahun 2009 nanti. Pemerintah diprediksi tidak akan berani ambil resiko untuk menaikan harga BBM, hingga pemilu yang akan datang.

Bagaimana dengan rencana pembatasan pemakaian BBM bagi kendaraan yang akan dilaksanakan bulan Mei yang akan datang ? Kita berharap bisa berjalan mulus, diharapkan akan lebih baik lagi penanganannya daripada penanganan program penggantian minyak tanah dengan kompor gas 3 kg.

******

23 April 2008

HARGA BERAS, HARGA BATUBARA DAN KRISIS EKONOMI DUNIA

April 10th, 2008

Hari ini ada 3 berita yang menyesakkan perekonomian dunia, yang pada akhirnya akan menekan perekonomian Indonesia pada sisi jurang keterpurukan.

Berita pertama adalah tentang tingginya harga beras di Asia. Menurut David Ignatius - pengamat ekonomi dan kolumnis dari Washington Post menulis : masalah tingginya harga beras hanyalah masalah kecil.

Ada masalah yang lebih besar yang siap menghadang dihadapan mata. Bahaya baru itu bersumber dari adanya ancaman inflasi global - terutama disumbangkan oleh kenaikan harga makanan pokok, selain itu disumbangkan oleh raw material dan produk yang memakai energi bahan bakar dalam aktivitas produksinya.

Harga beras di pasar global dilaporkan telah meningkat dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini dilaporkan terjadi di beberapa penghasil beras dunia seperti Vietnam, India, Mesir dan Kamboja.

Pakistan dilaporkan sampai harus menurunkan pasukan untukmengamankan truk-truk pengangkut tepung gandum. Sementara di Indonesia dilaporkan mulai terjadi kelangkaan kacang kedelai, sedangkan di Cina, pihak pemerintah mulai mengontrol dengan ketat harga-harga minyak goreng, gandum, daging, susu dan telur. Kerusuhan-kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan, bahkan telah terjadi di  Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan dan Yemen.

Presiden World Bank, Robert Zoellick, telah mengingatkan ancaman bahaya ini saat bicara pada hari Selasa 2 April 2008.  Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

*****

Berita kedua bersumber dari laporan Detik Finance. PT BUMI Resources Tbk (BUMI) telah memproyeksikan  kenaikan harga batu bara di tahun 2008 akan mencapai US $ 70 per ton. Prediksi ini jauh diatas realisasi harga batu bara pada tahun 2007.

Jika dibandingkan dengan harga rata-rata batubara di tahun 2007 sebesar US $ 44 per ton, berarti kenaikan rata-rata batu bara tahun 2008 adalah sebesar 59 % (dari US $ 44 per ton menjadi US $ 70 per ton).

Kenaikan  harga batu bara  diakibatkan  adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand, terutama karena tidak adanya stok baru dari para produsen batu bara di dunia.

Kenaikan harga batu bara mencapai 59 % akan memukul perindustrian di Indonesia yang secara bertahap telah beralih ke sumber energi alternatif : batu bara. Kenaikan harga batu bara, diperkirakan akan menyebabkan kenaikan biaya produk. Pada akhirnya, kenaikan ini akan dibebankan pada harga jual.

Tidak ada jaminan bahwa harga batu bara akan turun atau akan tetap stabil. Dengan naiknya harga minyak dunia, maka batu bara akan semakin dilirik para pengusaha. Keseimbangan neraca suplay dan demand akan berubah. Sesuai dengan teori ekonomi, maka harga batu bara diperkirakan akan terus naik.

Bila harga batu bara terus meningkat, berarti biaya produksi akan meningkat, pada akhirnya harga jual produk akan meningkat. Yang menjadi pertanyaan adalah : apakah masyarakat sebagai konsumen mampu untuk menerima kenyataan bahwa harga-harga akan terus meningkat ?

*****

Tentang krisis ekonomi dunia, bulan lalu dilaporkan bahwa Standar & Poor’s memperkirakan bank di seluruh dunia akan melakukan write off sebesar 285 milyar dollar, sehubungan dengan permasalahan krisis Subprime di AS.

Sementara IMF memperkirakan bank di seluruh dunia akan mengalami kerugian sebesar 440 hingga 510 milyar dollar dari prediksi total kerugian sebesar 945 milyar dollar sebagai akibat krisis Subprime tersebut.

Kerugian-kerugian ini, menurut Jaime Caruana - kepala departemen Monetary dan Capital Market IMF, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi AS. Sedangkan bagi Eropa akan melihat adanya pengetatan ekonomi dan melambatnya pertumbuhan kredit dunia.

Jaime Caruana mengingatkan bahwa kehancuran kolektif (collective failure) telah diterima oleh semua pihak : pihak bank, asuransi, pemerintah, hedge fund.  Turmoil ini bukan lagi hal yang sederhana. Pengaruhnya akan lebih meng-global, lebih dalam dan lebih lama.

*****

Tugas pemerintahan SBY semakin berat. Pemerintah harus mensosialisasikan bahwa kenaikan harga bahan pangan dan harga bahan bakar adalah suatu kenyataan yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi diseluruh dunia.

Selain menekan harga bahan pangan, program kerja pembatasan pemakaian bahan bakar minyak tanah harus lebih terintegrasi. Selain menyadarkan masyarakat akan kenyataan pahit ini, pemerintah harus siap dengan alternatif bahan bakar pengganti, terutama kemudahan dalam mendapatkan pengganti bahan bakar minyak tanah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Satu tahun masa pemerintahan SBY akan berakhir. Satu tahun ini adalah masa kritis karena merupakan masa pembuktian apakah SBY masih bisa dipilih kembali ada pemilu 2009 ?

Saatnya pemerintahan SBY lebih memihak masyarakat kecil yang sekarang sedang terjepit dan terhimpit oleh kesulitan ekonomi.

Saatnya SBY untuk turun ketengah masyarakat miskin, berbicara dari hati ke hati dan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat miskin yang jumlahnya semakin banyak.

Dengarkan suara masyarakat kecil dan berikan perlindungan serta kedamaian bagi mereka !

*****

9 April 2008