MENYAMBUT INVESTASI LAMPUNG 2008

April 10th, 2008

Mungkin benar bahwa Lampung adalah sebuah propinsi yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, Lampung adalah pemasok gula pasir nasional hingga 35 %, lumbung padi nasional, penghasil kopi dan jagung utama  secara nasional. Pemasok sapi terbesar untuk wilayah Jawa dan Sumatera. Selain merupakan pengekspor udang beku terbesar di Indonesia ke berbagai negara dengan nilai ekspor yang tiap tahun terus meningkat, juga mengekspor nenas kaleng terbesar di Indonesia ke seluruh penjuru dunia. 

Lampung mempunyai potensi menghasilkan “energi masa depan”, yaitu bahan bakar biodiesel dan etanol. Biodiesel berasal dari kelapa sawit, sedangkan etanol berasal dari produk singkong dan tebu yang luas perkebunannya mencapai ratusan ribu hektar. Bahkan bila Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan dengan kapasitas 4 x 100 mega watt sudah beroperasi pada tahun 2009, kemungkinan besar Lampung menjadi pemasok listrik ke Sumatera Bagian Selatan.

Lampung merupakan daerah penyangga untuk DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Keuntungan geografis sebagai pintu gerbang Jawa dan Sumatera adalah menjadi urat nadi jalur lalu lintas barang ke Jawa maupun ke Sumatera. Salah satunya adalah menjadi titik penting dalam proses tranportasi batu bara untuk PLTU Suryalaya Banten yang dikirim lewat Tarahan (Lampung Selatan). Seharusnya, Lampung menjadi seperti propinsi Fujian di Cina yang menjadi zona industri Taiwan (Taiwan Industrial Zone).

Tapi kenyataannya berbicara lain, Lampung adalah propinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak kedua di Sumatera setelah propinsi Nangroe Aceh Darussalam - propinsi yang diluluh lantakkan oleh bencana tsunami.  

Kebangkitan Ekonomi di Propinsi Fujian

                                                                                                                                                                                                  Mungkin terlalu naif untuk membandingkan antara Propinsi Lampung dan Propinsi Fujian, tetapi kebangkitan ekonomi di Propinsi Fujian telah memberikan banyak pelajaran bagaimana cara pemerintah daerah propinsi tersebut dalam menarik investor asing.

Propinsi Fujian terletak di wilayah Cina yang dibatasi oleh selat  Formosa dengan Taiwan, sama halnya Propinsi Lampung yang dibatasi dengan selat Sunda dengan Propinsi Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Hingga saat ini Cina maupun Taiwan masih menghadapi konflik politik. Cina menganggap Taiwan sebagai salah satu propinsinya, sedangkan Taiwan telah menyatakan sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Tetapi nampaknya kepentingan ekonomi mengalahkan kepentingan politik. Presiden Cina, Hu Jiantao mengembangkan program yang dikenal oleh pihak barat sebagai program Zone Ekonomi Pantai Barat (Western Shore Economic Zone), dengan fokus konsentrasi diarahkan untuk menyerap investor dari Taiwan.

Strategi yang diterapkan antara lain menyingkap tabir permusuhan politik antara kedua belah pihak dengan cara membuka hubungan transportasi langsung, kerjasama pariwisata secara langsung, kerja sama bidang pertanian yang komprehensif dan  meningkatkan interaksi budaya. 

Setiap tahun paling tidak ada 8 event besar promosi pemerintah daerah Fujian, diantaranya bidang pariwisata, pertanian, tekstil, perdagangan dan kehutanan. Secara teknis, pemerintah daerah Fujian memberikan berbagai kemudahan diantaranya untuk mendapatkan visa bagi para pengusaha Taiwan untuk berkunjung ke Fujian.  Dengan berbagai kemudahan ini, maka para businessman dari Taiwan bisa bebas menginvestasikan dananya ke propinsi Fujian yang notabene masih mengalami konflik politik. Tidak aneh bila seorang pemimpin perusahaan dari Taiwan bisa berjabat tangan dengan presiden Cina, seperti halnya pemimpin perusahaan Ming-Da Photonics, produsen alat elektronik, Tung Sheng-nan sudah tiga kali berjabat tangan dengan Presiden Cina Hu Jintao. Sesuatu hal yang muskil dilakukan oleh para pemimpin politik kedua negara. 

Sama halnya di Indonesia, pungli dan korupsi pernah menjadi masalah pelik bagi propinsi Fujian. Tetapi berbeda dengan Indonesia, di Cina para koruptor diganjar sanksi keras berupa hukuman mati. Kasus korupsi yang mencuat diantaranya kasus Yuanhua Group. Yuanhua didakwa terlibat dalam berbagai tindakan kejahatan dari penyelundupan mobil, barang-barang mewah, bahan bakar dan berbagai barang yang diperkirakan telah merugikan  negara mencapai  $ 4 milyar AS. Setelah dilakukan penyelidikan yang melibatkan petugas kepolisian yang sengaja direkrut dari luar propinsi tersebut, lusinan pejabat pemerintah daerah yang terlibat dalam kasus Yuanhua akhirnya mendapat hukuman yang setimpal :  ditembak mati.  

Scanning Capability

Salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang berarti mengurangi kemiskinan dan pengangguran adalah membuka lebar pintu investasi. Tetapi kondisi sekarang terlihat sulit untuk mengharapkan investor untuk menanamkan modal secara langsung, para investor cenderung untuk memarkir modalnya di SUN atau SBI. Kondisi ini dikritisi oleh Wapres Yusuf Kalla ketika memberikan sambutan di Pusat Pendidikan Manajemen (PPM) Jakarta bulan Desember 2007 silam. “Kalau bangsa ini tidak mau menanggung risiko (investasi) jangan ajak orang lain (investor asing) menanggung resiko kita”.

Bahkan pada hari Kamis (9/8/2007) di Semarang saat memberikan sambutan pada acara program Semarang Pesona Asia, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono (SBY) telah meminta kepala daerah untuk bekerja secara maksimal agar bisa bersaing ditingkat global. Investor asing diharapkan menamankan modal dan akhirnya memberi kesejahteraan kepada pemerintah dan masyarakat.

Mengundang investor asing, berarti harus memahami karakteristiknya. Investor sebagaimana halnya businessmen menginginkan maximize profit dalam jangka pendek atau mendapatkan return yang rendah tetapi mendapatkan jaminan keuntungan dalam jangka panjang (long term capital gain).

Investor asing tidak saja menginginkan rendahnya biaya material dan upah buruh, mudahnya mendapatkan permodalan yang murah dan tersedianya transportasi yang murah dan mudah dijangkau, tetapi juga menginginkan longgarnya regulasi dari pemerintah setempat. Investor asing seolah-olah mempunyai scanning capability untuk membandingkan peluang (opportunity) dan potensi kendala (problem), yang didapat dari suatu negara dengan negara lain.

Kondisi ini menyebabkan negara yang menginginkan investasi asing masuk, seakan-akan berkompetisi untuk menarik investor dengan menawarkan berbagai kemudahan.

Ekspektasi keuntungan yang diperoleh suatu negara dengan adanya investor asing adalah : memecahkan masalah pengangguran dengan terbentuknya lapangan kerja baru, masuknya teknologi baru sebagai upaya mengurangi teknologi gap, mendapatkan tax revenue, memanfaatkan sumber daya alam, dan keuntungan bangkitnya investor domestik sebagai akibat multiplier effect. 

Kompetisi Global

Timbul pertanyaan, mengapa disuatu daerah (negara) banyak dipilih oleh investor asing sedangkan di daerah (negara) lain tidak?

Investor asing ternyata mempunyai strategic planning sebelum melakukan investasi ke suatu daerah. Dengan kemajuan teknologi informasi, investor asing bisa membandingkan keunggulan spesifik (specific advantages) suatu daerah dengan daerah lain atau bahkan suatu daerah di suatu negara dengan daerah di negara lain. Misal, membandingkan propinsi Lampung dengan salah satu propinsi di Vietnam. Biasanya yang dibandingkan adalah ketersediaan bahan baku (raw material) dan  ketersediaan serta pertumbuhan pasar domestik (domestic market).

Selain membandingkan kemudahan yang didapat juga membandingkan hambatan (barrier) dalam melakukan investasinya. Investor bisa saja membandingkan kemudahan dalam pengajuan rencana investasi di propinsi Lampung dengan kemudahan propinsi lain di Indonesia yang telah lebih dahulu menjalankan program peningkatkan kualitas pelayanan publik. Peningkatan pelayanan publik biasanya berkonotosi memangkas alur birokrasi, sehingga proses pengajuan berkas investasi menjadi lebih pendek dan efisien.

Selanjutnya, investor asing membandingkan teknologi yang tersedia, ketersediaan tenaga kerja yang produktif dan murah, fasilitas transportasi dan sistem informasi yang tersedia, ketersediaan energi listrik, tersedianya kawasan berikat untuk produk ekspor yang memberi fasilitas bebas pajak dan bebas pungutan lainnya, serta kemudahan akses untuk menembus pasar regional yang lebih luas.

Akhir-akhir ini, kriteria tingginya upah tenaga kerja (high labor cost) dan kepastian hukum - terutama terhadap  kepemilikan lahan usaha  menjadi catatan tersendiri bagi para investor. Secara teoritis, upah tenaga kerja pada industri manufactur biasanya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor jasa dan pertanian. Ini menjadi dilema, karena investor asing mempunyai informasi yang kuat untuk membandingkan besaran upah disuatu negara dengan negara lain. Bila, upah dirasakan tidak kompetitif lagi, maka terjadilah suatu fenomena “deindustrialisasi”, yaitu pengalihan industri dari suatu negara dengan upah tenaga kerja yang tinggi ke suatu negara dengan upah tenaga kerja yang rendah.            

Secara ekstrim, pendekatan yang direkomendasikan oleh Washington Consensus bisa dipertimbangkan, walaupun banyak kritik yang mengatakan bahwa inti dari Washington Consensus adalah liberasasi perdagangan. Beberapa diantaranya : disiplin fiskal, pajak yang rendah, libralisasi finansial, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi asing secara langsung, privatisasi, deregulasi aturan mengenai ketentuan keluar masuk barang, dan kepastian property right.

Untuk pemerintah Indonesia, seperti yang banyak disarankan oleh ekonom adalah : kordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menyusun regulasi sehingga tidak tumpang tindih, standar regulasi ketenagakerjaan yang fair, penyederhanaan jalur birokrasi dan upaya yang serius terhadap pemberantasan korupsi. 

*****

 Diterbitkan pertama kali di www.dimastidano.wordpress.com tgl 24 Januari 2008  

MODELLING FINANCIAL RISK BERDASARKAN HARGA MINYAK DUNIA

December 5th, 2007

Bagi industri dengan import content yang tinggi, kenaikan harga minyak dunia akan menyebabkan kenaikan harga-harga raw material yang diimport. Hal ini wajar, karena biaya-biaya produksi di negara-negara produsen akan turut meningkat sejalan dengan naiknya harga minyak dunia.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga akan menyebabkan kenaikan ocean freight rate.  Kenaikan ocean freight rate diperkirakan secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan kenaikan  biaya pengadaan  raw material tersebut.

Bahkan harga raw material yang disuplai oleh suplier lokal, juga akan turut meningkat bila raw material tersebut berupa produk import setengah jadi yang harus melalui pengolahan atau pengemasan ditingkat suplier sebelum dikirim ke kalangan industri.

Sementara kenaikan harga minyak dunia,  akan menyebabkan pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM, bila harga minyak sudah berada jauh diatas harga asumsi APBN.

Pengurangan subsidi BBM bisa dilakukan dengan cara menaikkan langsung harga BBM atau dengan membatasi jumlah pemakaian BBM ditingkat masyarakat. Alternatif pertama, kelihatannya merupakan pilihan yang sangat tidak populer bagi pemerintah. Pemerintah cenderung untuk menjalankan alternatif kedua, yaitu dengan melakukan pembatasan pemakaian BBM dalam negeri. Misalnya, pemilik mobil pribadi didorong untuk menggunakan BBM non subsidi seperti Pertamax.  

Harga BBM Industri yang masuk kedalam katagori BBM non subsidi dipastikan akan naik mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

Disini industri harus menghitung ulang biaya produksi.  Kalangan industri yang mempunyai basis import content yang tinggi seperti kena hantaman stroke yang berulang. Pertama, terkena dampak kenaikan harga raw material, akibat kenaikan biaya produksi di negara-negara produsen.  Kedua,  menerima imbas dari kenaikan ocean freight rate. Ketiga, disengat oleh harga BBM non subsidi yang mengikuti harga minyak dunia. Ke empat, mendapat tuntutan kenaikan UMR. Naiknya harga-harga kebutuhan pokok karyawan disebabkan naiknya harga-harga sembako sebagai  akibat naiknya harga BBM non subsidi.  Kelima, bagi industri yang melakukan ekspor, ocean freight rate akan berpengaruh langsung bagi harga jual produknya, terutama produk yang dijual secara CFR.

Harga Minyak Dunia Cenderung Terus Meningkat 

Harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat. Fundamental yang menyebabkan kenaikan harga minyak didasarkan pada :

1. Cadangan minyak dunia (merupakan sumber energi yang tidak terbarukan)  akan semakin terbatas dan bahkan cenderung terus berkurang.

2. Permintaan terhadap minyak dunia semakin lama cenderung semakian meningkat.

Dengan demikian fluktuasi harga minyak dunia sangat peka terhadap isu-isu geopolitik. Misalnya, isu ketegangan  politik antara pemerintah Turki dengan gerilyawan Kurdistan yang berbasis di Irak Utara alngsung menyebabkan kenaikan harga minyak dunia mencapai US $ 93 per barrel pada akhir Oktober 2007 (note : Irak adalah negara penghasil minyak no : 4 dunia).

Demikian pula isu terbatasnya cadangan minyak di Amerikan Serikat yang di-release oleh EIA (Energy Information Administration - bagian dari Department of Energy AS) langsung memicu kenaikan harga minyak menjadi US $ 97 per barrel pada awal Nopember 2007. Dalam laporan bulanannya yang di-release EIA (Short Term Energy Outlook) dilaporkan bahwa kenaikan harga minyak disebabkan oleh : “Strong demand, limited surplus capacity, falling inventory and geopolitical concern”.

Para ekonom bahkan sudah berani memprediksi harga minyak dunia akan mencapai US $ 100 per barrel pada akhir tahun 2007. Bahkan mereka memprediksi harga minyak akan berada pada kisaran US $ 120 - 150 per barrel pada tahun-tahun yang akan datang.

Modelling Financial Risk Analysis

Dari latar belakang di atas, disarankan pada kalangan industri untuk memulai membuat suatu model Financial Risk Analysis yang berbasiskan pada kenaikan harga minyak dunia.

Tujuannya adalah untuk melihat pengaruh harga minyak dunia terhadap resiko finansial yang akan diterima oleh industri.

Beranjak dari hipotesa bahwa semakin tinggi kenaikan harga minyak akan menyebabkan COP dan COGS akan terus meningkat, hingga pada suatu titik kenaikan harga minyak akan menyebabkan tingkat laba yang diperoleh akan semakin kecil dan bahkan menjadi tidak menarik.

Dengan modelling ini, akan dapat diketahui : pada titik kenaikan harga minyak berapa, suatu industri masih bisa beroperasi secara menguntungkan atau bahkan lebih menguntungkan bila operasi tersebut justru dihentikan.

Tetapi yang paling penting, dengan modelling ini, pihak board of director bisa lebih mempersiapkan strategi kebijakan lebih awal sebelum resiko terburuk menjadi kenyataan.

****** 

 5 Desember 2007

AWAS BBM NAIK !

November 28th, 2007

Selasa kemarin harga minyak mencapai AS $ 97.10 per barrel.  Badan Energy Information Administration (EIA), yang merupakan bagian dari Departemen Energy AS,  bahkan memprediksi konsumsi bahan bakar di AS akan meningkat pada caturwulan terakhir, sehingga diprediksi pada tahun depan harga minyak akan tetap tinggi.

Dalam laporan bulanannya EIA,  Short-Term Energy Outlook, penyebab dari gejolak harga minyak disebabkan oleh “strong demand, limited surplus capacity, falling inventory and geopolitical concern”.

Rekor harga minyak tertinggi AS $ 97.10 per barrel, diduga kuat disebabkan oleh gejolak geopolitik, yaitu serbuan bom di Afganistan dan serangan pada pipa  minyak di Yemen beberapa waktu sebelumnya.

Harga BBM Naik !

Seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya, kenaikan harga minyak dunia diatas AS $ 90 per barrel akan menguras cadangan devisa. 

Target alokasi dana untuk subsidi BBM meningkat dari yang dianggarkan sebesar Rp. 55 trilyun menjadi Rp. 90 trilyun. Hal ini diungkapkan oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam acara World Renewable Energy Regional Congress & Exhibition (WRERCE) di Jakarta pada hari Senin 5 Nopember 2007.

Dalam kerangka pengurangan subsidi BBM, maka dibuat dua skenario, yaitu : melalui pengurangan subsidi BBM dan mengurangi volume konsumsi.

Opsi melalui pengurangan subsidi BBM berarti menaikkan harga minyak. Resiko dari opsi ini kemungkinan akan memukul perekonomian rakyat dan memicu inflasi. Opsi ini kemungkinan tidak akan diambil, karena pilihan ini menjadi tidak populer bila dikaitkan dengan jelang masa kepemimpinan SBY berakhir.

Opsi kedua yaitu pembatasan volume konsumsi BBM  adalah pilihan yang paling mungkin diambil oleh pemerintah. Teknis pelaksanaannya kemungkinan dengan pembatasan jumlah pengiriman tangki BBM ke SPBU-SPBU,  konservasi energi dari minyak tanah ke gas LPG, penggalakan program biofuel, dll.

***** 

 7 Nopember 2007

EFEK SUBPRIME MORTGATE CRISIS TERNYATA DAHSYAT !

November 28th, 2007

George Soros di New York University mengatakan bahwa kondisi ekonomi AS memerlukan koreksi yang serius. “Saya pikir kita sekarang sedang berada dalam kondisi slowdown, bahkan sebenarnya dalam keadaan bigger slowdown daripada yang dilihat oleh Bernanke (Ben Bernanke, Pemimpin Federal Reserve)”.

Merrill Lynch dan Citigroup 

Dunia sangat dikejutkan oleh pernyataan CEO Merril Lynch & CO  yang menyatakan kerugian akibat subprime mortgage telah mencapai AS $ 8.4 milyar.  Selanjutnya Citigroup, salah satu raksasa perbankan di AS  menyatakan kerugian AS $ 8 - 11 milyar. 

Sampai saat ini belum jelas berapa estimasi kerugian yang diderita oleh perbankan, tetapi menurut JPMorgan, kerugian bisa mencapai AS $ 60 milyar.

Alan Greenspan, mantan kepala Federal Reserve, melihat adanya stock 200.000 - 300.000 rumah yang tidak terjual, merupakan  ancaman lanjutan bagi perekonomian AS. Diperkirakan AS $ 900 milyar dana subprime mortgage telah di-securitized dalam bentuk intrument fixed-income. 

Stok rumah yang tidak terjual akan menyebabkan harga rumah terus menurun, sehingga menyebabkan turunnya nilai dana subprime mortgage yang telah dirubah ke instrument fixed-income.

Kondisi ini akan menyebabkan kerugian lanjutan bagi bank-bank di AS seperti yang terjadi pada Merrill Lynch dan Citigroup.

Kita masih terus menunggu drama pernyataan-pernyataan dari dunia perbankan AS tentang kerugian-kerugian yang akibat krisis subprime mortgage.

***** 

6 Nopember 2007

HARGA MINYAK DUNIA DAN HARGA BBM UNTUK INDUSTRI

October 31st, 2007

Sampai saat ini masih belum ada penjelasan yang memuaskan tentang alasan kenaikan tajam harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu.

Tapi, para analisis cenderung berspekulasi bahwa kenaikan harga minyak yang mencapai US $ 90 per barrel, disebabkan ketakutan akan terhambatnya suplai minyak dari ladang-ladang minyak di Irak Utara akibat rencana penyerbuan tentara Turki untuk membalas kematian 12 tentaranya oleh gerilyawan Kurdi.

Sampai saat ini ketegangan di perbatasan negara Turki dan Irak masih tetap tinggi. Ini berarti, spekulasi tentang kenaikan harga minyak dunia  akan tetap harus diwaspadai.

Kenaikan harga minyak hingga mencapai US $ 90 per barrel menimbulkan kecemasan baru terhadap prediksi harga minyak dimasa datang,  yang diperkirakan akan berada dalam range US $ 60 hingga US $ 120 per barrel. Ini berarti, peluang harga minyak menembus angka US$ 100 per barrel terbuka lebar.

Harga BBM Industri Naik. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Senin (22/10) lalu telah meminta perkembangan harga minyak dunia perlu diwaspadai.

Menko Perekonomian Budiono telah mengingatkan dampak negatif dari kenaikan harga minyak. “Kalau harga minyak meningkat, ini tentunya kita perlu waspadai dampak terhadap industri dalam negeri, terhadap cost yang meningkat”, ungkapnya setelah melakukan pertemuan dengan dengan presiden SBY pada hari Senin (22/10).

Ini kelihatannya sejalan dengan rencana Pertamina untuk menaikkan harga minya industri dan non subsidi yang berkisar diangka Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang.

“Semua jenis bahan bakar minyak untuk industri seperti premium, solar, minyak tanah, serta pertamax akan mengalami penyesuaian. Persentasenya belum ditetapkan, tetapi mungkin sekitar Rp. 200,00 per liter,” ungkap Dirut Pertamina Ari Sumarsono di Kantor Pusat Pertamina di Jakarta pada Senin (22/10). 

Kenaikan harga minyak industri sebesar Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang  akan memberatkan dunia industri. 

Dalam jangka panjang, fluktuasi harga minyak dunia masih berpeluang terjadi. Sudah saatnya pemerintah mulai serius untuk menangani program energi alternatif, sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

***** 

24 Oktober 2007