Anne Mulcahy, Membangkitkan XEROX dari Kebangkrutan Melalui Sentuhan Humanisme

August 28th, 2007

Ketika Anne Mulcahy ditunjuk menjadi CEO, Xerox sudah mulai tenggelam dalam kebangkrutan. Hutang perusahaan  mencapai US $ 17 milyar dan selama 6 tahun berturut-turut Xerox selalu menderita kerugian.  Yang paling menyedihkan, unit Xerox yang berada di Mexico pada saat itu sedang di investigasi oleh Securities and Exchange Commission.    

Melihat beratnya kondisi Xerox saat itu, banyak orang terkejut dengan penunjukkan Anne Mulcahy sebagai CEO.  Saat itu, pasar saham bereaksi negatif, saham Xerox langsung jatuh 15 persen. Mungkin pasar tahu kalau Anne Mulcahy memang tidak dipersiapkan untuk menduduki jabatan itu.

Kejujuran dan Kepercayaan

Anne Mulcahy masih ingat, ketika Warren Buffet (pemilik saham mayoritas dan CEO pada holding company Berkshire Hartaway) berkata : “Sebenarnya anda tidak dipromosikan. Anda diterjunkan dalam perang”.  

Untuk memenangkan perang tersebut, langkah awal yang diambil Anne Mulcahy dan tim   adalah dengan  memperkuat likuiditas perusahaan.  Memotong capital expenditur sebesar 50 persen; mengurangi sales, general dan administration expenses sebesar sepertiga dari total expenses; memotong hutang hampir setengahnya. Tetapi pada waktu yang bersamaan, Anne Mulcahy tidak menyentuh sepeser pun anggaran biaya Research and Development (R &D). Anne Mulcahy telah memutuskan untuk memperkuat core business dengan lebih fokus terhadap inovasi.  Bagi Anne Mulcahy, dalam kondisi terburuk seperti apapun, investasi (dalam inovasi) harus tetap dilaksanakan.

90 hari pertama, Anne Mulcahy melakukan perjalanan untuk mengunjungi berbagai kantor cabang. Selama waktu itu, ia hanya mendengarkan dan mendengarkan setiap orang tentang apa yang salah dengan perusahaannya.  “I think if you spends as much time listening as talking, that’s time well spent”, kata Anne Mulcahy.

Kejujuran dan kepercayaan adalah modal dalam melakukan komunikasi efektive, terutama dalam kondisi krisis. ”Pada kondisi krisis, anda harus menginformasikan kepada karyawan perusahaan tentang  kondisi sebenarnya yang anda ketahui dan anda mempunyai strategi untuk menghadapi kondisi tersebut. Yang paling penting, anda harus menjelaskan, apa yang dapat mereka lakukan”.

Dengan kondisi yang kondusif, Anne Mulcahy dapat dengan mudah mereduksi tenaga kerja di Xerox dari 96.000 orang menjadi 60.000 orang pada tahun 2000. Bahkan, Anne Mulcahy turut membantu mencarikan pekerjaan bagi 70 % bagi tenaga kerja Xerox yang terkena program pemutusan tenaga kerja. 

Proses Transformasi  

Anne Mulcahy telah menempatkan tenaga kerja sebagai mitra strategis perusahaan. Perspektif karyawan telah dirubah, dari sekedar alat produksi yang harus tunduk dalam teori ekonomi,  disimbolkan dalam angka-angka penentu produktivitas suatu line produksi atau digambarkan sebagai angka-angka dalam laporan keuangan seperti halnya alat produksi lainnya, menjadi sederajat dengan para pengambil kebijaksanaan dalam perusahaan. Melalui pendapatnya (hasil berpikir kreatif-nya), pekerja telah ikut menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai objective yang telah ditetapkan .

Tetapi sebelumnya, Anne Mulcahy telah melakukan positioning dan repositioning untuk mendapatkan tim yang terbaik bagi perusahaan. ” You may have the right people on the bus, but in the wrong seat. They can be posistioned and respositioned for the good of the company”.  Bila semuanya telah sesuai dengan yang diinginkan, maka anda siap dengan semua perubahan positif, katanya.

Tahap yang paling krusial sebenarnya adalah tahap membangun organisasi yang kuat, fleksibel, adaptif dan kompetitif. Organisasi yang kuat, karena Anne Mulcahy telah membuat karyawan merasa telah dilibatkan dalam menyelesaikan krisis.  Karyawan telah diberi peran dan dihargai untuk berkontribusi terhadap perusahaan.

“Pengalaman saya di Xerox, bahwa krisis telah menjadi motivator yang kuat.  Motivasi yang menggerakan anda untuk memilih keputusan yang mungkin tidak akan pernah dipikirkan bila dalam kondisi lain. Motivasi ini memaksa anda untuk mengintensifkan fokus, daya kompetisi untuk mencapai status the best in the class.  I want to do everything I can to make sure that we don’t lose  that now that we’re back on track”, katanya.

Berkat sentuhan humanisme Anne Mulcahy, sekarang Xerox telah kembali on track.

***** 

28 Agustus 2007

KATROK TAPI PAKAI LAPTOP

August 12th, 2007

Tukul memang lucu dan menghibur. Itu yang membuat orang mau menonton acara Empat Mata.

Sebenarnya siapa sih yang mau menonton wajah “ndeso”, tapi nekad mewawancarai artis cantik ? Tapi justru, kontradiksi ini yang menjadi magnet bagi penonton setia-nya.

Tapi Tukul memang cerdas, format acara Empat Mata dibuat serba kontradiktif dan paradoksal.  Tukul “menentertawai diri sendiri” , sementara artis yang menjadi tamu-nya berpenampilan glamor dan intelek.  

Konsep acara Empat Mata adalah membuat kontradiktif ini menjadi komedi. Mungkin sudah menjadi trademark acara ini. Tukul memerankan dirinya sebagai orang dari desa yang lugu, tetapi harus mengimbanginya tamu-tamu acaranya dengan berusaha mengaktualisasikan sebagai pria metroseksual. Tukul nampak selalu berusaha menjadi “pria yang selalu menjaga estetika penampilan, imaje dan gaya hidup”. 

Yang terjadi adalah komedi yang meng- eksploitasi keluguan Tukul sebagai orang “ndeso” versus Tukul yang “berusaha gaul”. Usaha ini yang menjadi titik sentral dari kelucuan-kelucuan yang timbul dan memancing penonton untuk tertawa.

Superiority Theories 

Teori ini kemukakan oleh seorang profesor philosopy, D. H. Monro dari Monash University. Orang sering tertawa karena melihat ketidak beruntungan orang lain (disandvantage atau misfortune).  Dalam teori ini, orang tertawa karena merasa  berada dalam posisi “superior”.

Teori ini dikembangkan dari teori yang pertama kali dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes mengatakan bahwa :”kita mentertawakan atas ketidak beruntungan (misfortunes)  orang lain”.

Bila dikaitkan dengan acara Empat Mata, maka penonton dikondisikan pada posisi “Superior”, sedangkan Tukul Arwana pada posisi ”misfortune”.  Menurut teori ini, penonton tertawa karena “misfortune” yang “diperankan” oleh Tukul. Penonton menjadi terhibur karena melihat “ke-sial-an” yang menimpa Tukul.

Kembali ke Laptop

“Masak sih, Tukul saja punya laptop, kita nggak punya. Tapi pertanyaannya apakah betul masing-masing anggota bisa mengoptimalkan itu dengan baik. Saya sangsi,” cetus seorang anggota DPR, sepertiyang dikutip oleh Detikcom pada bulan Maret 2997 lalu.

Pernyataan diatas bukan bagian dari acara Empat Mata. Tetapi benar-benar sebuah pernyataan seorang anggota DPR ketika muncul gonjang-ganjing rencana pemberian laptop seharga Rp 21 juta ke setiap anggota Dewan. Rencana ini kemudian dibatalkan akibat tekanan dari masyarakat.

Masyarakat akan meng-kaitkan masalah laptop dengan acara Empat Mata dengan salah satu ” trademark-nya” adalah Laptop.  Wajar saja dalam menentang program pembagian laptop ke anggota DPR, masyarkat akan membandingkan Tukul sebagai seorang komedian dengan anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat yang terhormat. Masyarakat telah melihat kontradiktif : sementara kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, anggota DPR akan mendapat Laptop dengan harga yang sangat mahal.

Contoh diatas adalah suatu keberhasilan dari suatu pementasan sebuah acara komedi, selain keberhasilan untuk menghibur masyarakat.  Sebuah acara komedi seperti Empat Mata dikatakan berhasil bila berhasil melakukan pendidikan kepada masyarakat, selain membuat penontonnya tertawa dan menghibur.

Mudah-mudahan Tukul Arwana tidak berubah. Mudah-mudahan acara Empat Mata tetap dalam format yang sama. Mudah-mudahan penonton tetap terhibur. Mudah-mudahan rejeki-nya Tukul tetap lancar. Amin.

****** 

 11 Agustus 2007

   

REPUBLIK MIMPI, DARI KENYATAAN MENJADI MIMPI

July 11th, 2007

Ada pertanyaan yang menggelitik, seandainya Presiden Republik Indonesia (sering disebutkan sebagai negara tetangga dari Republik Mimpi) dijabat oleh seorang wanita, apakah Butet Kertaraharja akan mampu memparodikan dirinya sebagai Ibu Presiden ?

Pertanyaan ini dianggap penting, mengingat kekuatan Butet Kertaraharja “memainkan peran” seorang presiden menjadikannya titik central dalam “panggung teater” yang dikemas sebagai acara reality show disebuah stasiun TV swasta.

Butet bukan orang “baru” di dalam dunia teater, tetapi mungkin “baru” bisa bebas memparodikan seorang presiden yang masih berkuasa (istilahnya “baru bisa mimpi” jadi presiden), pada saat-saat sekarang ini. Sungguh tidak terbayangkan bila Butet berani “ber-ulah” pada masa orde baru.

Bila kita mendengar tentang teori dunia paralel, maka Republik Mimpi adalah dunia paralel dari Republik Indonesia. Sebuah negara yang selalu mempunyai bahan-bahan cerita menarik untuk ditampilkan di atas panggung sandiwara. Seandainya, Nikolai Vasilievich Gogol (1809 - 1852) masih hidup dan berkesempatan bermukim di Republik Indonesia, mungkin akan banyak menulis naskah drama fenomenal, sekali lagi - mungkin akan mengalahkan satu naskah drama komedi terbaiknya : Revizor atau yang diterjemahkan sebagai : Inspektur Jenderal.

Inspektur Jenderal adalah sebuah naskah komedi satire yang mentertawakan birokrasi, tetapi anehnya Tsar Nikolas I (1825 - 1855) justru menganjurkan komedi ini agar dipentaskan ditengah-tengah kegamangan para birokratnya. Tsar Nikolai I malah menghadiri produksi perdana drama ini pada April 1836. Saat itu Tsar tertawa senang dan memberikan applaus pada saat menonton drama tersebut.

Mari Mentertawai Birokrasi

Nikolai Gogol dengan gagah berani mentertawakan birokrasi di Rusia saat itu melalui naskah drama komedi satire Inspektur Jenderal. Rusia saat itu, digambarkan penuh dengan tragedi kehidupan, diantaranya ruwetnya birokrasi yang berkarib dengan korupsi yang bersimaharajalela.

Dalam melakukan kritik terhadap pemerintah Rusia, Gogol secara cerdas menempatkan dirinya sebagai artis, bukan sebagai tokoh oposisi yang  radikal atau liberal. Gogol membalut kritik dengan cara penuh humor. Sehingga penonton seolah-olah dibawa untuk mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan birokrasi saat itu.

Nampaknya, Republik Mimpi harus bisa “bermain” supaya bisa tetap melanjutkan tidurnya dan terus bermimpi. Republik Mimpi harus bermain dalam wilayah aman (dari tuntutan hukum dan ancaman penghentian siaran), yaitu bermain dalam wilayah seni dan menghiasi kritikan-kritikan dengan humor.

Dilain pihak bagi personal yang diparodikan, akan mendapat plus point, karena menunjukkan bahwa di Republik Indonesia saat ini - dengan adanya acara Republik Mimpi, menunjukkan bahwa demokrasi sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Dengan kata lain, Pemerintah sangat menghormati hak-hak demokrasi setiap warga negara-nya. Bahkan lebih jauh lagi, personal yang diparodikan dipandang sebagai tokoh yang berjiwa besar karena menerima kritikan dengan lapang dada.

Republik Mimpi sebenarnya tidak akan kehabisan materi cerita dan tidak akan membosankan, mengingat materi yang digali sangat subur di alam realita. Kasus yang mencuat dan up to date, seperti : gonjang-ganjing Resufle Kabinet, kasus penganiayaan praja IPDN, lumpur Lapindo,  rakyat yang harus  mengantri untuk mendapatkan satu atau dua liter  minyak tanah, hilangnya minyak goreng dari peredaran karena pengusaha cenderung meng-ekspor kebutuhan vital  rumah tangga keluar negeri daripada menjualnya ke warung-warung, mahalnya susu bayi sehingga timbul wacana untuk menggantikannya dengan susu kedelai atau air tajin, hingga  wacana lain yang lebih bermakna  ”internasional” seperti larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa ?

Republik Mimpi nampaknya harus cerdas seperti Nikolai Gogol, yaitu mengolah wacana-wacana yang terjadi di alam nyata menjadi kritikan yang penuh dengan sensasi humor.  Penonton dibuat tersenyum bahkan tanpa sadar  mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan permasalahan yang diangkat.  Bukankah Republik Mimpi punya modal yang “kuat” diantaranya ada Jaro Kuwat dan rekan-rekan lain yang perannya lebih komikal dan menghibur ?

Mudah-mudahan, Butet dan rekan-rekan lainnya  tidak segera bangun dari tidurnya, sehingga pemirsa setia masih dapat menikmati setiap episode  komedi satire “Inspektur Jenderal” ala Republik Mimpi..

—Juli 2007