Struktur Biaya Nenas Segar dan Nenas Kaleng Tahun 2005 di Pilipina

May 22nd, 2008

Catatan :

1. Struktur biaya ini dikutip dari hasil penelitian dari Univeritas Philipina.

2. Struktur biaya ini perlu dikaji ulang.

Item                    Harga/Biaya per karton (US$)   % bila dijual di Jepang

                           Nenas segar  Nenas Kaleng     Nenas Segar  Nenas Kaleng

———————————————————–

Harga Jual                  10.5              8                      100                100

Perawatan tanaman      3.5             2.5                      33                  31

Bibit                              0.6             0.4                       6                     5

Material Packaging        0.8            1.6                       8                   20

Kaleng                              0            1.2                       0                   15

Label                              0.1            0.1                       1                     1 

Karton                            0.7            0.3                       7                     4

Upah                               1              0.7                     10                      9    

Pestisida                         1.3           0.9                      12                    11

Ocean Freight                 1.9            1.2                      18                    15

Transportasi darat          0.5            0.4                         5                     5     

————————————————————

PENERAPAN UNDANG-UNDANG ANTI DUMPING AMERIKA SERIKAT PADA PRODUK NENAS KALENG THAILAND

July 28th, 2007

Penerapan undang-undang anti dumping sangat kental dengan nuansa proteksi industri dalam negeri. Tujuan utama penerapan hukum ini adalah untuk mencegah praktek-praktek perdagangan yang tidak adil, sehingga produk industri dalam negeri tidak terpukul oleh produk industri luar negeri yang masuk ke suatu negara dengan harga yang sangat murah.

Kelihatannya menjadi tidak fair. Tidak jadi masalah apakah produk industri dalam negeri menjadi mahal akibat proses produksi yang tidak efisien, adanya biaya siluman atau alasan lain. Tetapi dilain pihak, murahnya harga yang ditawarkan oleh produk industri luar negeri ”harus selalu” dilihat pada pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan industri dalam negeri.

Kontradiktif dengan hukum anti dumping, penerapan hukum ini secara nyata telah meniadakan hak konsumen untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Bicara tentang anti dumping, berarti secara absolut meniadakan tempat bagi proteksi konsumen untuk mendapatkan hak-haknya, diantaranya hak untuk mendapatkan barang dengan harga murah, qualitas terbaik, dan lain sebagainya.

Di Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai negara maju dan demokratis, justru menjadi pionir dalam menerapkan hukum anti dumping. Di AS, undang-undang anti dumping yang diatur dalam Chapter 19 U.S.C 1673, memberikan wewenang penuh kepada Departemen Perdagangan untuk menjatuhkan sanksi “anti dumping duties” hanya dengan mengacu pada 2 syarat :

Pertama : Departemen Perdagangan mempunyai wewenang untuk mengkaji semua produk impor, apakah produk impor tersebut telah dijual di dalam negeri AS dengan harga dibawah harga fair  (Chapter 19 U.S.C 1673 (1)).

Kedua : Badan International Trade Commision (ITC) kemudian harus mengkaji apakah penjual produk import tersebut secara material telah menghambat dan menurunkan industri lokal untuk produk sejenis dengan produk import tersebut.

Bila kedua persyaratan diatas telah dipenuhi, maka selanjutnya tindakan selanjutnya adalah menentukan nilai anti dumping duties yang akan dijatuhkan. Besarnya denda yang dijatuhkan dikenal sebagai : anti dumping margin.

Jatuhnya Share Nenas Kaleng Thailand

Pada tahun 1994 ekspor kaleng Thailand mencapai 46.16 % dari total world share. Tetapi mulai tahun 1995 hingga 1998, ekspor nenas kaleng Thailand mengalami penurunan mencapai 30.15 % dari total world share. Penurunan ini diduga akibat dari rendahnya panen dan penerapan anti dumping oleh Amerika Serikat. Besarnya anti dumping margin yang diterapkan oleh pemerintah AS mencapai 51.6 % dari total nilai shipment.  Duties ini kemudian dikoreksi oleh Departemen Perdagangan AS menjadi 3.26 hingga 24.64 % dari nilai CIF.

Pada tahun 1994, ketika serbuan export nenas kaleng Thailand ke daratan AS mencapai puncaknya, industri nenas kaleng AS  Maui Pineapple Co mengajukan petisi ke Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce).  Maui Pineaple Co melihat produk nenas kaleng Thailand telah dijual dengan harga murah di daratan AS. 

Pada kurun waktu yang sama Maui Pineapple Co pada tahun 1993 mengalami kerugian mencapai  US $ 11 juta dan US $ 3.9 juta pada tahun 1994. Salah satu penyebab kerugiannya antara lain, tingginya biaya produksi di AS dan rendahnya harga nenas kaleng dunia.  Maui Pineapple Co melihat bahwa penyebab rendahnya harga nenas kaleng dunia saat itu disebabkan oleh membanjirnya produk nenas kaleng dari Thailand.  

Metodologi Perhitungan yang Berbeda 

Pada awal investigasi ternyata ditemukan ada perbedaan prinsipil dalam penentuan Cost of Production (COP) dan Cost of Value (CV). Umumnya industri nenas kaleng di Thailand menerapkan dua set laporan keuangan. Satu set laporan keuangan mencerminkan kondisi sebenarnya yang merupakan true cost of production. Laporan ini dikenal di Thailand dengan istilah Actual Raw Material Cost Allocation atau Non-Output Price-base Weighted Cost Allocation. Metode yang kedua ini biasanya menghasilkan harga produk yang tinggi. Metode inipun biasanya ditujukan untuk tujuan khusus manajerial dan untuk mendapatkan tax benefit (tax and managerial goals).

Metode perhitungan yang diterapkan oleh Departemen Perdagangan AS berdasarkan Weight - Based Allocation, metode ini akan menghasilkan harga produk yang cenderung rendah. 

Pada sisi lain, diperoleh informasi adanya perbedaan besar antara industri nenas kaleng di Thailand dan di Maui Pineapple Co.  Thailand memproduksi nenas kaleng, juice nenas dan juice concentrate, sedangkan Maui Pineapple Co  hanya memproduksi nenas kaleng dan menganggap bahwa juice adalah produk ikutan dari sisa produk nenas kaleng. Tentu saja perbedaan ini menyebabkan terjadinya perbedaan harga raw material yang berbeda yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan harga jual. Industri nenas kaleng Thailand bahkan menghitung sisa nenas yang berasal dari kulit dan dari material nenas yang tidak bisa masuk kaleng dianggap mempunyai nilai sehingga dimasukkan dalam komponen raw material cost.   

***** 

28 Juli 2007

TRAGEDY IN PARADISE

July 6th, 2007

Di Amerika Serikat (AS), bila orang membeli nenas kaleng, maka yang ada dalam pikirannya adalah nenas kaleng produk Hawaii yang sangat terkenal. Nenas kaleng produksi Hawaii yang dijual di supermarket-supermarket di AS mempunyai cap legendaris pada tutup kalengnya : “100 % Hawaiian USA”.

Hawaii adalah surga bagi industri nenas kaleng di AS. Hawaii tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri nenas kaleng di daratan Amerika.

Perkebunan nenas pertama kali dikelola secara komersil di AS berlokasi di Oahu, Hawaii tahun 1885. Selama satu abad kemudian, Hawaii memimpin industri nenas dunia. Tetapi, mulai tahun 1975, setelah Thailand terjun ke kancah industri nenas kaleng, maka posisi nenas Hawaii sebagai produsen nenas dunia perlahan tapi pasti mulai surut. Laporan Economic Research Service yang direlease oleh USDA pada bulan November 2003 menunjukkan bahwa Hawaii dari pen-suplay pasar dunia sebesar 13 % pada periode tahun 1970 -1975 menjadi hanya 2 % pada tahun 2000-2002. Perkebunan nenas dari awalnya berjumlah 47 usaha perkebunan pada tahun 1970 menjadi 15 usaha perkebunan pada tahun 1993 - 2000. Bahkan industri pengalengan nenas terus menurun dari 9 industri pengalengan menjadi hanya 3 industri pada tahun 1970-an.

Kondisi yang memprihatinkan bahkan merupakan tragedi disurga nenas kaleng di Hawaii terus berlanjut. Seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Associated Press yang dikutip oleh bulletin Honolulu Star, pada bulan April 2003, Maui Pineapple Co berencana untuk meninjau ulang produksi nenas kaleng dan fakus  hanya pada produk nenas segar.

“Perusahaan akan mereduksi tenaga kerja dari 1100 orang menjadi hanya 500 orang pada 4 tahun kedepan”, kata Dough Schenk, Presiden Maui Pine, dihadapan karyawannya. Maui Pine akan meninggalkan bisnis nenas kaleng yang sudah tidak menguntungka dan beralih ke produksi nenas segar.

Wesley Nohara, Plantation Manager dari Maui Pineapple Co, mengatakan dengan muram : “Bila kita kaji bisnis nenas kaleng, harga tidak pernah naik. Itu sebabnya bisnis ini pindah ke Philipina atau Thailand, karena biaya operasi disana sangat murah. Saya masih sangat percaya bahwa nenas yang tumbuh di Hawaii mempunyai kualitas buah yang paling baik. Tetapi , selama orang-orang masih membeli nenas kaleng dari produk dunia ketiga, maka hal ini merupakan tekanan yang berat bagi para petani nenas di Amerika Serikat”.

Laporan dari bulletin The Timeshare Beat pada bulan Mei 2005, melaporkan bahwa Maui Land & Pineapple Company, Inc telah rugi besar (higher operating losses) dari bisnis nenas. Rugi pada kuartal pertama tahun 2005 mencapai US $ 2.1 juta (setara dengan Rp. 19.7 milyar), dibandingkan dengan kerugian pada kuartal pertama tahun 2004 mencapai US $ 1.8 juta (setara dengan Rp. 16.9 milyar). Penjualan nenas kaleng menurun drastis 41 % pada periode yang sama. Buletin  yang sama juga melaporkan kerugian-kerugian pada kuartal-kuartal selanjutnya pada tahun 2005.

Kata kunci dari semua tragedi dalam industri nenas kaleng di Hawaii adalah ketidak mampuan bersaing dalam menekan operating cost dibandingkan dengan produsen nenas kaleng dari dunia ketiga seperti : Thailand, Philipina, Costa Rika, dll.

LOW OPERATING COST

Keunggulan dunia ketiga dibidang pertanian dan industri nenas kaleng adalah biaya produksi yang kompetitif. Biaya langsung, terutama pos biaya upah buruh  sangat menentukan dalam kelangsungan industri nenas kaleng.

Maka tidak aneh bila negara-negara ketiga seperti Thailand, Philipina, Costa Rika, India, Vietnam  dan Cina menjadi negara pengekspor nenas kaleng yang harus diperhitungkan. Keunggulan komparatif pada pos biaya upah buruh biasanya menjadi kata kunci dalam kompetisi di pasar global. Keunggulan lainnya adalah : kestabilan politik dan jaminan keamanan dalam berinvestasi merupakan plus point bagi negara-negara produsen nenas kaleng baru seperti : Vietnam dan China.

Tetapi pada tingkat tertentu, upah buruh kemudian menjadi tidak menarik bagi investor. Seperti di Indonesia, tuntutan kenaikan upah buruh yang tercermin dari tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional)  setiap tahunnya, menyebabkan komponen biaya upah buruh menjadi tidak kompetitif.

Untuk menekan biaya produksi akibat  tingginya upah buruh, maka investor harus mengimbangi dengan tuntutan produktivitas tinggi dan improvement lain, misal : outsourcing.

Dalam industri nenas kaleng, kunci dari semua masalah adalah proses budidaya nenas di kebun. Proses pengolahan tanah, pemilihan bibit, proses penanaman dan perawatan yang baik akan memberikan keunggulan yang signifikan.

Padahal semua aktivitas di kebun, sangat ditentukan oleh attitude dari para pekerja di kebun. Kedisiplinan dan control kualitas yang ketat  sangat menentukan proses selanjutnya. Kegiatan di kebun tidak akan terlihat efeknya pada saat itu juga. Efek dari kualitas hasil kerja di kebun baru terlihat pada saat buah di panen.

Keunggulan pada proses budidaya nenas dikebun akan dicerminkan  18 bulan kemudian (masa panen yang paling cepat) pada  kuantitas dan kualitas buah yang diterima di pabrik pengalengan.  Kontinuitas suplay buah dari kebun dan kualitas buah yang terjamin akan menaikkan nilai rendemen (istilah di dunia industri nenas kaleng : recovery) .  Kualitas buah biasanya dipengaruhi oleh : kememaran buah dan penyakit buah. Kememaran buah biasanya diakibatkan benturan fisik buah dengan buah atau benturan antara buah dengan lingkungan sekitarnya. Kememaran diantaranya disumbang dari aktivitas  panen, transportasi dan proses pra-peeling.  

Sedangkan penyakit buah ditentukan oleh tindakan perawatan buah saat dikebun. Penyakit buah biasanya menimbulkan bercak warna yang berbeda dengan warna buah normal, biasanya berdirikan bercak berwarna gelap. Bercak ini harus dibuang dari line proses, sehingga mengurangi persentase buah yang masuk ke dalam kaleng.

Distribusi buah besar sangat menentukan dalam tingkat produktivitas di line prosesing dalam pabrik pengalengan. Buah besar cenderung menaikkan prosentase daging buah yang masuk ke dalam kaleng dibanding buah kecil. Selain itu sisa daging buah yang menempel pada kulit, memberikan hasil  juice nenas  yang lebih banyak.

Keuntungan buah besar adalah mengurangi aktivitas pinset manual, karena buah yang masuk ke line proses sudah bersih dari bercak-bercak hitam (blemish). Jumlah tenaga kerja yang bisa dikurangi dari aktivitas pinset manual sangat signifikans.

Pada akhirnya, untuk dapat berkompetisi di pasar global, sangat ditentukan oleh attitude pekerja di kebun. Kemudian dikontrol dan disupervisi oleh atasannya secara disiplin dan konsisten.

Hasil kerja yang buruk, akan menimbulkan dampak pada saat buah siap dipanen. Pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Waktu yang telah diinvenstasikan berbulan-bulan lamanya  (minimal 18 bulan) akan menjadi sia-sia. Kualitas buah yang buruk, tidak dapat diperbaiki secara instant.

Kualitas buah yang buruk, akan memberi pilihan yang sama-sama pahit. Buah direject atau diproses tetapi dengan konsenkuensi produktivitas dan hasil kerja yang rendah. Kedua pilihan akan berakhir pada biaya produksi yang tinggi dan menjadi tidak kompetitif.

——

July 2007

LEAN-SIGMA, TEROBOSAN BARU DALAM BERKOMPETISI DI PASAR GLOBAL

June 6th, 2007

Sejarah industri nenas kaleng dunia mencatat, bahwa perusahaan nenas kaleng yang tidak mampu menekan operating cost, berarti tidak mampu berkompetisi di pasar global. Industri nenas kaleng di Taiwan dan Maui, contohnya, secara perlahan dan pasti menghentikan operasinya, karena tingginya biaya produksi.

Ciri khas dari pasar nenas kaleng dunia adalah : harga per standar case relative tetap dari tahun ke tahun, tetapi biaya produksi terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan margin profit yang dijanjikan semakin kecil dan pada suatu saat menjadi tidak menarik bagi pemilik modal.

Di Indonesia, komponen biaya produksi yang cenderung terus meningkat adalah komponen biaya langsung. Baik dari biaya bahan bakar, raw material dan upah langsung. Banyak teori yang menyatakan bahwa kenaikan raw material dan upah langsung merupakan efek domino dari kenaikan harga bahan bakar.

Pada pos biaya tidak langsung, komponen gaji karyawan tetap setiap tahun naik mengikuti persentase inflasi. Sedangkan biaya lainnya, secara pasti mengikuti kenaikan biaya bahan bakar dan upah yang setiap tahun naik sesuai dengan ketentuan UMR dari pemerintah.

Dari sisi pemilik modal, terobosan-terobosan terus dilakukan dengan tujuan menurunkan biaya produksi. Investasi pembangkit listrik tenaga batu bara yang sekarang sudah banyak dilakukan merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang dinilai strategis.  Tapi perlu diperhitungkan pula, sesuai dengan konsep suplay dan demand, harga per metric ton batu bara cenderung akan meningkat sesuai dengan naiknya permintaan. Diperkirakan kecenderungan ini akan menjadi kendala dikemudian hari. Masalah  lain yang mungkin timbul dikemudian hari akibat penggunaan energi batu bara adalah  adanya isu pemanasan global akibat penggunaan energi ini.

Bagi industri nenas kaleng, konsep menaikkan panen ton/ha adalah kunci dari seluruh kesuksesan dalam menekan biaya rupiah/ton buah segar, bahkan diprediksikan dapat menekan rupiah/ standar case. Menaikkan  panen buah ton/ha, selain bersifat operating leverage (satu ungkitan menyebabkan lompatan besar) juga berdampak pada efiensi di pabrik pengalengan nenas.

Konsepnya adalah : menaikkan panen buah ton/ha (diharapkan juga berpengaruh pada pergeseran distribusi buah ke distribusi buah ukuran besar), akan menyebabkan area tanam akan semakin kecil.  Ini berarti biaya operasi di plantation, baik akibat dari jumlah unit alat berat dan truck pengangkut, biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, dll akan semakin berkurang secara signifikan. Distribusi buah yang semakin baik (kearah buah besar), secara teoritis akan menaikkan recovery dan diantaranya dapat mengurangi aktivitas kerja manual seperti aktivitas  pinset di line (ini berarti saving pada labour cost). Tujuan akhir dari improvement di dalam  manajemen teknis agriculture seperti diatas  adalah menekan production cost.

Lean-Sigma

Konsep dasar dari Lean-Sigma juga bermuara pada menekan operating cost. Konsep ini kelihatannya sejalan bila investor ingin mereduksi biaya produksi.

Implementasi Lean Manufacturing pertama kali diperkenalkan oleh Taiichi Ohno dari Toyota Motor Company, sebuah perusahaan raksasa dunia yang sangat agresif dalam improvement. Ada tiga ciri utama perusahaan yang menerapkan Lean Manufacturing :

1. Kecepatan produksi diatur sedemikian rupa sesuai dengan permintaan customer (tidak lagi berdasarkan cycle time, tetapi berdasarkan  waktu yang diminta untuk menyelesaikan quantity yang diminta customer. Ini berarti produksi dijalankan dengan efisiensi yang tinggi).

2. Melakukan produksi jika diminta oleh customer/next customer (dikenal dengan istilah : pull system : berproduksi sebanyak unit yang diminta customer).

3. Melakukan produksi unit per unit mulai dari awal hingga akhir. Tujuannya adalah untuk menghindari bertumpuknya barang setengah jadi (WIP) diantara proses yang ada.

Ciri utama dari perusahaan yang menerapkan Lean Manufacturing  adalah : naiknya kecepatan produksi dan hilangnya tujuh sampah (seven waste), diantaranya : inventory, over produksi, waktu tunggu transportasi, over proses, defect & rework dan gerakan yang tidak perlu.

Six Sigma telah memberikan bukti nyata keuntungan secara finansial bagi perusahaan-perusahaan kelas dunia, seperti : Motorola, General Electric, Sony, Samsung, LG Electronic, Seagate, 3M, Dupont, Citibank, Toshiba dan perusahaan multinasional lainnya.  Prinsip dasar dari Six Sigma adalah : memperkecil penyimpangan yang ada, sehingga proses produksi akan konsisten pada target kualitas yang telah ditetapkan.

Metodologi yang diterapkan pada Six Sigma adalah berdasarkan DMAIC (Define-Measure-Analyse-Improve-Control). Setiap pemecahan masalah harus mengacu secara sistematis dan logis. Semua masalah harus berdasarkan pada data yang telah dianalisa secara statistik.

Lean-Sigma adalah paduan dua konsep unggulan yang diharapkan menjadi metoda yang dapat membantu perusahaan agar lebih berkompetisi di pasar global. Mampu berkompetisi berarti harus mampu : menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dari kompetitor, merespon permintaan dengan lebih cepat dari permintaan kompetitor (better, cheaper product, faster respon).

— 

 12 Desember 2006