EFEK SUBPRIME MORTGATE CRISIS TERNYATA DAHSYAT !

November 28th, 2007

George Soros di New York University mengatakan bahwa kondisi ekonomi AS memerlukan koreksi yang serius. “Saya pikir kita sekarang sedang berada dalam kondisi slowdown, bahkan sebenarnya dalam keadaan bigger slowdown daripada yang dilihat oleh Bernanke (Ben Bernanke, Pemimpin Federal Reserve)”.

Merrill Lynch dan Citigroup 

Dunia sangat dikejutkan oleh pernyataan CEO Merril Lynch & CO  yang menyatakan kerugian akibat subprime mortgage telah mencapai AS $ 8.4 milyar.  Selanjutnya Citigroup, salah satu raksasa perbankan di AS  menyatakan kerugian AS $ 8 - 11 milyar. 

Sampai saat ini belum jelas berapa estimasi kerugian yang diderita oleh perbankan, tetapi menurut JPMorgan, kerugian bisa mencapai AS $ 60 milyar.

Alan Greenspan, mantan kepala Federal Reserve, melihat adanya stock 200.000 - 300.000 rumah yang tidak terjual, merupakan  ancaman lanjutan bagi perekonomian AS. Diperkirakan AS $ 900 milyar dana subprime mortgage telah di-securitized dalam bentuk intrument fixed-income. 

Stok rumah yang tidak terjual akan menyebabkan harga rumah terus menurun, sehingga menyebabkan turunnya nilai dana subprime mortgage yang telah dirubah ke instrument fixed-income.

Kondisi ini akan menyebabkan kerugian lanjutan bagi bank-bank di AS seperti yang terjadi pada Merrill Lynch dan Citigroup.

Kita masih terus menunggu drama pernyataan-pernyataan dari dunia perbankan AS tentang kerugian-kerugian yang akibat krisis subprime mortgage.

***** 

6 Nopember 2007

HARGA MINYAK DUNIA DAN HARGA BBM UNTUK INDUSTRI

October 31st, 2007

Sampai saat ini masih belum ada penjelasan yang memuaskan tentang alasan kenaikan tajam harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu.

Tapi, para analisis cenderung berspekulasi bahwa kenaikan harga minyak yang mencapai US $ 90 per barrel, disebabkan ketakutan akan terhambatnya suplai minyak dari ladang-ladang minyak di Irak Utara akibat rencana penyerbuan tentara Turki untuk membalas kematian 12 tentaranya oleh gerilyawan Kurdi.

Sampai saat ini ketegangan di perbatasan negara Turki dan Irak masih tetap tinggi. Ini berarti, spekulasi tentang kenaikan harga minyak dunia  akan tetap harus diwaspadai.

Kenaikan harga minyak hingga mencapai US $ 90 per barrel menimbulkan kecemasan baru terhadap prediksi harga minyak dimasa datang,  yang diperkirakan akan berada dalam range US $ 60 hingga US $ 120 per barrel. Ini berarti, peluang harga minyak menembus angka US$ 100 per barrel terbuka lebar.

Harga BBM Industri Naik. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Senin (22/10) lalu telah meminta perkembangan harga minyak dunia perlu diwaspadai.

Menko Perekonomian Budiono telah mengingatkan dampak negatif dari kenaikan harga minyak. “Kalau harga minyak meningkat, ini tentunya kita perlu waspadai dampak terhadap industri dalam negeri, terhadap cost yang meningkat”, ungkapnya setelah melakukan pertemuan dengan dengan presiden SBY pada hari Senin (22/10).

Ini kelihatannya sejalan dengan rencana Pertamina untuk menaikkan harga minya industri dan non subsidi yang berkisar diangka Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang.

“Semua jenis bahan bakar minyak untuk industri seperti premium, solar, minyak tanah, serta pertamax akan mengalami penyesuaian. Persentasenya belum ditetapkan, tetapi mungkin sekitar Rp. 200,00 per liter,” ungkap Dirut Pertamina Ari Sumarsono di Kantor Pusat Pertamina di Jakarta pada Senin (22/10). 

Kenaikan harga minyak industri sebesar Rp. 200,00 per liter pada bulan November mendatang  akan memberatkan dunia industri. 

Dalam jangka panjang, fluktuasi harga minyak dunia masih berpeluang terjadi. Sudah saatnya pemerintah mulai serius untuk menangani program energi alternatif, sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

***** 

24 Oktober 2007   

HARGA MINYAK : SEKARANG US $ 93 PER BARREL, SELANJUTNYA US $ 100 PER BARREL

October 31st, 2007

“Please don’t blame us for $93 oil”, kata Menteri Perminyakan Qatar Abdullah al-Attiyah saat berlangsungnya konferensi menteri-menteri perminyakan OPEC hari Selasa 30 Oktober 2007.

Bahkan menurut Presiden OPEC, yang juga menteri perminyakan UAE Dhaen al-Hamli, pergerakan harga minyak sudah diluar kemampuan control OPEC.  “The market is increasingly driven by forces beyond OPEC’s control, by geopolitical event and the growing influence of financial investor”.

Pada pertemuan tersebut, anggota-anggota OPEC setuju untuk menambah jumlah produksi sebesar 500,000 barrel per hari.  Tapi kelihatannya ini belum mencukupi kebutuhan akan minyak yang jumlahnya lebih besar dari pada pasokan yang tersedia.

US $ 100 per Barrel pada Akhir Tahun 2007

Bila U.S. Federal Reserve jadi memotong suku bunga pada hari Rabu besok, para analis memprediksikan akan semakin melemahkan nilai tukar dollar.  Ini menjadi salah satu penyebab pemicu naiknya  harga minyak ketingkat yang lebih tinggi.

Menurut Jochen Hitzfelt dari HVB Jerman, kondisi stagnan produksi minyak dunia versus permintaan yang terus meningkat akan menyebabkan harga minyak akan terus naik.

“The $ 100 mark is likely to be tested by end-2007″, katanya.

Dilain pihak, harga minyak juga masih rentan terhadap isu pertempuran antara Turki dan pemberontak Kurdi yang berbasis di Irak, serta isu konflik antara AS dengan Iran-penghasil minyak nomor empat dunia.

***** 

30 Oktober 2007

HARGA MINYAK DUNIA DAN DOLLAR AS

October 19th, 2007

Harga minyak dunia mencapai rekorUS $ 90 per barrel pada hari Kamis 18 Oktober 2007, sementara Dollar AS mengalami mengalami tekanan jual sehingga terus melemah terhadap Euro dan Yen Jepang.

Pada perdagangan hari Kamis,  Euro menguat ke level  1,4296 dollar dibandingkan sebelumnya hanya mencapai 1,4283 dollar pada tanggal 1 Oktober 2007.  Dollar AS juga melemah terhadap Yen Jepang ke posisi 115,62 dibandingkan sebelumnya mencapai 116,57 yen. 

Diprediksi Mencapai AS $ 150 per Barrel

Para analisis menilai bahwa kondisi fundamental dari suplay dan demand tidak mendukung  naiknya harga minyak hingga mencapai AS $ 90 per barrel.

“Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah akibat dollar yang terus melemah terhadap Euro”, kata  James Cordier, presiden Liberty Trading Group di Tampa.  

Sementara itu, Lord Oxburgh, mantan pemimpin Shell,  dalam wawancara dengan The Independent bulan September lalu, bahkan telah mengingatkan kemungkinan harga minyak akan mencapai AS $ 150 per barrel.

Kenaikan harga minyak, menurutnya disebabkan oleh adanya gap  demand yang selalu lebih besar daripada  suplay.  “Bila tidak ada alternatif energi lain, maka harga minyak akan berkisar pada harga yang paling atractive bagi industri perminyakan, yaitu antara AS $ 100 hingga  $ 150 per barrel.

Peluang Diturunkannya Kembali Suku Bunga The Fed 

Ditengah melambatnya perekonomian AS sebagai efek dari krisis subprime mortgage, diprediksi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2007 hanya mencapai 1.9 persen, sama dengan prediksi pertumbuhan pada tahun 2008 (bandingkan dengan pertumbuhan tahun 2006 yang mencapai 2.9 persen).

Keterpurukan industri perumahan, yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi AS, diprediksi belum pulih, ditambah dengan meroketnya harga minyak dan lemahnya nilai dollar terhadap Euro, diperkirakan akan menjadi alasan The Fed untuk kembali memotong suku bunga antar bank.

***** 

 19 Oktober 2007

  

Six Sigma - Improvement yang Fokus pada Customer Satisfaction

September 26th, 2007

Craig Erwin, seorang manager Quality Engineer di Motorola Semiconductor Product Sector (SPS) pernah menulis : “Sebelum meng-implementasikan six sigma, kami sangat tertarik dengan aktivitas continuous improvement, tetapi hanya berusaha fokus pada pencapaian  level kualitas yang sejajar dengan kompetitor kami. ”

Tetapi setelah meng-aplikasikan six sigma, “Kami tetap terus melakukan improvement untuk meningkatkan produk reliability, meningkatkan hasil produksi dan meningkatkan kualitas internal tetapi sekarang dalam upaya memenuhi ekspektasi customer terharap produk kami.”

Demikian pula yang dikatakan oleh James Bailey, seorang Executive Vice President dan Corporate Quality Officer pada Citicorp. “Kami sekarang lebih fokus pada customer satisfaction. Kami tahu ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, tetapi kami telah memulainya dan kami puas.”

Simak apa kata John Randall, Manager Quality Improvement pada perusahaan Defense System Electronic Corp (DSEG) peraih penghargaan Malcolm Baldrige National Quality Award, “Six Sigma telah meng-improve kualitas dan customer satisfaction tetapi dengan biaya yang relatif rendah”.

Six Sigma dan Customer Satisfaction

Kata kunci dalam melakukan improvement adalah bahwa improvement tanpa mengarahkan tujuan pada customer satisfaction merupakan hal yang sia-sia.

Ketika banyak perusahaan mengimplementasi Business Process Re-engineering (BPR), maka disadari perlunya mendasari setiap improvement pada customer satisfaction.   

Pada dasarnya, implementasi BPR adalah membagi aktivtas menjadi dua hal : aktivitas yang bernilai value  added dan aktivitas yang tidak bernilai value added (non value added).

Aktivitas yang bernilai value added adalah aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas produksi. Sedangkan aktivitas non value added adalah aktivitas diluar aktivitas produksi seperti aktivitas transportasi, inventory, administrasi, dll. Fokus dari BPR adalah mereduksi aktivitas non value added.

Kecenderungan  dalam mengimplementasikan BPR adalah memotong habis  semua aktivitas non value added dengan tujuan akhir adalah untuk mendorong efisiensi ke tingkat yang lebih tinggi.

Sementara project-project six sigma selalu mengkaitkan improvement dengan customer satisfaction. Sehingga tidak aneh bila dalam melakukan improvement selalu ditanyakan : bagaimana pengaruhnya improvement terhadap customer satisfaction.

Kemudian akan timbul dua pilihan, apabila improvement ternyata menimbulkan degradasi pada nilai customer satisfaction, maka improvement tersebut disingkirkan. Tetapi bila improvement tersebut justru semakin memperbaiki tingkat customer satisfaction, maka improvement tersebut layak untuk dilanjutkan.

Kasus Reduction Head Account

Project BPR yang paling favorit adalah project reduction head account, dengan cara memotong habis semua aktivitas non value added.

Sebagai contoh : kasus mereduksi tenaga inspektor QC di line produksi, kelihatannya sangat mungkin dilakukan dalam BPR.  Reduksi biasanya dilakukan dengan cara memperpanjang tenggang waktu pengambilan sample atau memperkecil jumlah sample.

Dengan semakin berkurangnya beban kerja si petugas inspector QC, maka peluang mereduksi jumlah petugas inspector akan semakin terbuka lebar.

Katakanlah, yang sebelumnya satu line produksi ditangani oleh satu orang inspector QC, maka setelah dilakukan improvement akan menghasilkan satu orang petugas inspector QC akan menangani dua line produksi.

Masalah mulai timbul, bila manajemen tidak melihat kaitan erat antara reduksi petugas inspector QC dengan kesempatan petugas inspector QC untuk menangkap “sinyal”  penyimpangan kualitas produksi dari sample yang semakin sedikit.

Logikanya, semakin sedikit sample yang diambil atau semakin jarang sample dilakukan, maka peluang petugas QC untuk “menangkap” penyimpangan kualitas produksi akan semakin kecil, bila petugas inspector QC tidak dibekali dengan pengetahuan dan skill yang dapat meningkatkan “kepekaan” untuk menangkap penyimpangan tersebut.

Manajemen kemudian berpuas diri dengan keberhasilan dalam melakukan improvement : project mereduksi head acount petugas inspector QC telah sukses dilakukan.

Tetapi, manajemen tidak melihat bahaya complain dari customer akibat penyimpangan kualitas yang tidak “tertangkap” oleh petugas inspector QC di line produksi.

Customer kemudian  kecewa karena produk yang diterima tidak sesuai dengan spec yang telah disepakati. Customer menjadi unsatisfied.

Manajemen yang selalu mendasari improvement-nya pada customer satisfaction, mestinya akan melanjutkan improvement dengan melakukan pelatihan untuk membekali petugas inspector QC dengan skill dan pengetahuan agar bisa “lebih peka” dalam menangkap setiap penyimpangan kualitas.  

Lebih peka berarti walaupun jumlah sample semakin sedikit, tetapi ketrampilan dan pengetahuan untuk membaca peluang terjadinya penyimpangan kualitas akibat penyimpangan, misal :  penyimpangan saat proses produksi bisa dideteksi. Penyimpangan saat proses produksi, seharusnya menjadi peringatan dini bagi si petugas. Karena penyimpangan ini akan berakibat pada hasil akhir produk, yang justru harus ditangkap dalam sampling yang dilakukan.

***** 

26 September 2007

Penulis adalah seorang Green Belt yang sedang mengerjakan project Six Sigma dan project Business Process Re-Engineering ditempat kerja.